(OPINI) Indonesia Gelisah: Ormawa Terkikis, Apa Peran Mahasiswa Generasi Z?

0
208
Foto penulis, (Foto: Ist.)

PROFESI-UNM.COM – Realita sosial yang mencengangkan bahwa setiap kali universitas atau perguruan tinggi menggelar acara wisuda, itu akan menambah 14 persen pengangguran di Indonesia. Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada Februari 2022, tingkat pengangguran di Indonesia tercatat sebesar 5,83 persen dari total penduduk usia kerja sejumlah 208,54 orang. Terhitung sebanyak 35,2 juta pengangguran itu berasal dari kalangan sarjana dan diploma. Kenyataan ini pastinya akan menjadi ancaman yang serius bagi masa depan bangsa Indonesia. Bagaimana tidak, generasi yang akan melanjutkan perjuangan bangsa, nampaknya menambah beban pikiran negara di masa yang akan datang, dan mengapa hal tersebut dapat terjadi?.

Faktor kualitas sumber daya manusia yang selama ini menjadi penyebab banyak lulusan sarjana yang menganggur. Mereka mengartikan kata “bekerja” dengan menjadi karyawan di perusahaan atau menjadi orang kantoran. Padahal itu persepsi yang salah selama ini, seharusnya dengan menjadi kalangan yang terdidik mereka dapat menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat, sehingga para sarjana dapat menanggulangi pengangguran dalam negeri.

Ya, sebut saja mahasiswa Generasi Z. Generasi yang dinamakan dengan mahasiswa kupu-kupu (kuliah-pulang-kuliah-pulang), begitulah dunia kampus menyebutnya. Mayoritas mahasiswa sekarang disebut kupu-kupu karena hanya terfokus dengan nilai IPK tinggi. Mereka tak mau mengasah potensi dirinya saat kuliah, tak mau bergabung dengan organisasi dan berlembaga di kampusnya. Padahal, pengalaman berorganiasi menjadi faktor penentu diterima tidaknya dalam dunia kerja.

Banyak alasan-alasan yang dilontarkan agar tak tergabung dalam organisasi, seperti ingin cepat lulus, tugas kuliah menumpuk, ingin fokus kuliah, buang-buang waktu, tak ada waktu istirahat, dilarang orang tua, dan masih banyak lagi alasan-alasan lainnya. Tapi, salah satu alasan yang dapat kita lihat dengan mata terbuka saat ini adalah mereka sudah dikuasai oleh zaman, sifat hedonisme sudah melalap jiwa pemuda zaman ini. Dapat kita jumpai dimana saja, mau di kampus, di tempat tongkrongan, di kelas, dan di tempat makan pun mahasiswa sekarang hanya bersosialiasi dengan dunia mayanya, rebahan dan malas-malasan sudah menjadi rutinitasnya.

Apalagi mahasiswa angkatan corona yang saat itu sistem pembelajarannya full daring. segala sesuatu sudah beranjak ke online, hanya dengan menggunakan jari saja apapun kita dapatkan dan semuanya dipermudah dengan adanya teknologi. Sehingga, handphone sudah menjadi makanan pokok dan rutinitas sehari-harinya karna semua aktivitas perkuliahan dilakukan secara daring. Tak terkecuali juga aktivitas organisasi, karena larangan berkumpul oleh pemerintah, sehingga penurunan berorganisasi menurun secara drastis pada saat Covid-19.

Kebiasaan yang terbentuk saat Covid-19 tersebut sudah menjadikan nyaman dalam dirinya. Sehingga, pasca Covid pun mereka lebih senang menghabiskan waktunya untuk bermain hp daripada menghabiskan waktu untuk menyelam dalam dunia organisasi. Mereka berpikir ikut organisasi hanya mengorbankan waktu, uang, pikiran, dan tenaga. Selain itu, masuk organisasi pun tak mendapatkan reward menjadi pengurus ataupun anggota. Sehingga, perlahan eksistensi dan anggota lembaga kemahasiswaan mengalami penurunan. Mungkin di awal saja mereka berkomitmen serius mengikutinya, tapi ketika di tengah jalan malah hilang tanpa kabar dan alasan. Sehingga, ketua ataupun pengurus organisasi yang ada harus melakukan berkali-kali recruitment anggota baru agar ada regenerasi kelembagaannya.

Dalam Tridharma perguruan tinggi, ada tiga kunci pilar mahasiswa yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Sudah sangat jelas disebutkan bahwa tanggung jawab seorang mahasiswa tak hanya belajar dan mengejar nilai IPK semata, tapi hal terpenting setelah itu adalah melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Pilar inilah yang akan dijalankan kedepannya oleh mahasiswa, bukan hanya sukses dalam menjalani kuliah kerja nyata (KKN) saja, tapi sukses sebenarnya adalah dapat membawa perubahan dalam masyarakat. Dan semua itu dapat dilatih dan diwujudkan dengan mengikuti organisasi dan upaya pemberdayaan lembaga kemahasiswaan (LK).

Bisa dianalogikan bahwa hidup pasca kuliah itu seperti berenang di lautan. Ada dua pilihan, mau belajar berenang saat sudah sampai di laut atau mau belajar di kolam renang. Kalau di kolam renang tentu kedalamnnya terukur, tekanannya terukur, suhunya terukur, arusnya terukur. Sebaliknya, jika langsung terjun ke laut dan belajar berenang, resikonya pasti besar. Dan mau tidak mau kita akan berusaha agar tidak tenggelam, mencari berbagai cara renang agar tetap seimbang dan selamat. Tapi, kalau belajar berenang di kolam renang resikonya jauh lebih terkontrol. Jadi, dapat diartikan bahwa belajar berenang ibarat belajar menjadi pemimpin, menjadi bagian dari masyarakat saat kuliah. Berenang di kolam sama seperti belajar di dalam kelas, dan belajar di organisasi sama seperti belajar di tengah lautan.

Asumsi-asumsi mahasiswa yang selama ini berkembang seharusnya tak boleh dibiarkan saja. Apalah guna titel dan lebel yang disandang, tetapi mahasiswanya sendiri tak dapat memberi perubahan sebagai sosial kontrol dalam masyarakat. Menjadi mahasiswa seharusnya tidak menyamakan dirinya saat masih di bangku SMA. Mahasiswa harus menjadi aktivis bangsa yang mampu membawa pengaruh ke arah yang lebih baik. Sehingga, saat di bangku kuliah mahasiswa harus dapat memaksimalkan masa belajarnya baik akademik maupun non akademik.

Bagaimana caranya memaksimalkan bidang nonkademik?. Ya, tentunya dengan mengikuti organisasi atau lembaga mahasiswa. Dengan organisasi kita dapat mengembangkan kemampuan dan potensi dengan bebas dan luas. Mahasiswa yang mengikuti organisasi tentunya akan berbeda dengan mahasiswa yang hanya belajar di kelas saja. Pasalnya, jika hanya di dalam kelas kita hanya mendapatkan teori semata, tapi jika tergabung dalam organisasi kita akan terjun langsung dan memberi aksi nyata untuk negri. Sehingga, mahasiswa harus mengikuti setidaknya satu atau dua organisasi dalam kampus.

Organisasi diibaratkan seperti sunnah dalam kuliah, sedangkan belajar dan mendapat IPK tinggi itu wajib. Artinya jika kita fokus dua-duanya akan menambah nilai plus bagi diri sendiri. Banyak sekali manfaat yang kita dapatkan ketika ikut organisasi atau lembaga mahasiswa. Pertama, menambah relasi. Didalam organisasi kita pasti akan menambah banyak teman baru. Tentunya, mereka berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Karakter yang berbeda, dan sifat yang berbeda. Dengan begitu, kita akan banyak belajar bagaimana bersikap kepada masing-masing individu yang berbeda dan belajar bagaimana seharusnya berkomunikasi dengan si A, B, dan C.

Kedua, melatih jiwa kepemimpinan. Nah, peran kepemimpinan ini yang nantinya akan di amanahkan kepada mahasiswa zaman sekarang. Dengan ikut organisasi, kita dapat belajar bagaimana cara memimpin. Dalam organisasi tentunya ada struktur yang dipimpin oleh ketua, selain itu ada juga yang menjadi bendahara, sekretaris, dan divisi organisasi. Kita pasti akan terlibat didalamnya dan memahami bagaimana cara memimpin anggota organisasi secara baik agar organisasi tetap bertahan sesuai visi misinya.

Ketiga, melatih public speaking. Dalam organisasi kita pasti akan diminta untuk berbicara didepan seluruh anggota. Kita diminta untuk menyuarakan pendapat pribadi tentang permasalahan yang dihadapi. Dengan begitu, kemampuan berbicara di depan umum kita akan terasah dengan sendirinya dan ini menjadi poin penting di zaman sekarang. Karena public speaking melatih kepercayaan diri untuk berekspresi tampil di depan banyak orang, apalagi di dunia kerja. Tanpa public speaking yang bagus, kita akan menjadi pribadi yang tidak terekam jejak peradaban.

Kemudian dengan berorganisasi kita akan melatih kedisiplinan. Karena biasanya dalam organisasi pasti mengadakan perkumpulan ataupun rapat yang pasti ditentukan waktunya. Mau tidak mau kita pasti menaati peraturan tersebut karena jika terlambat pasti akan ada sanksi yang diberikan. Hal tersebut yang membuat kita melatih kedisiplinan sebelum terjun langsung di dunia kerja.

Masih banyak sekali manfaat yang kita dapatkan jika tergabung dalam organisasi seperti mengembangkan bakat yang kita miliki, sarana untuk menyalurkan minat, wadah untuk menyuarakan pendapat, melatih bersosialiasi, melatih komunikasi, dan lain sebagainya. Dengan berorganisasi kita akan terbentuk menjadi pribadi yang berkualitas, berkarakter, berpikir kritis, dan berjiwa kepemimpinan. Mahasiswa yang seperti itulah yang dibutuhkan oleh bangsa indonesia saat ini.

Lalu, yang menjadi permasalahannya mengapa mahasiswa sekarang ini menutup mata akan banyaknya manfaat yang didapat jika ikut organisasi?. Selain faktor kemajuan zaman yang mengarah pada hedonisme, opsi yang dapat dilakukan saat ini yaitu organisasi atau lembaga mahasiswa memberikan hal yang menarik agar para mahasiswa tertarik untuk bergabung dalam organisasi. Salah satunya dengan memberikan reward atau hadiah bagi mereka yang menjalankan organisasi hingga selesai masa studinya, atau memberikan sertifikat khusus yang dapat diajukan dalam proses lamaran kerja. Tapi, dengan syarat kehadirannya harus 80%, jika tidak mereka tidak akan mengikuti kegiatan-kegiatan organisasi dengan maksimal. Dengan seperti itu, mahasiswa akan berbondong-bondong menjadi organisator dan akan berkomitmen hingga selesai.

Selain itu, organisasi atau lembaga kemahasiswaan mengadakan lomba yang hadiahnya menarik. Tetapi, lomba yang kekinian seperti lomba membuat video Tik Tok terbaik, atau foto terunik, atau bisa juga meng-upload foto dengan caption yang menarik. Intinya lomba yang berkaitan dengan media sosial atau teknologi. Sehingga, lembaga kemahasiswaan harus mengikuti arah perkembangan zaman yang sedang menjadi trend anak muda saat ini. Dengan begitu, mahasiswa akan semangat mengikuti organisasi yang diminati.

Menjadi calon pemimpin bangsa memang tidak mudah, tapi justru karena tidak mudah itulah kita harus menjadi mahasiswa yang banyak belajar, banyak memberikan konstribusi bagi masyarakat, banyak kemampuan di era tantangan zaman, dan menjadi manusia baru yang lebih dari apa pun. Karena, mahasiswa adalah harapan masyarakat kecil untuk menyuarakan aspirasinya yang tak didengar oleh petinggi negara. Caranya dengan cara berorganisasi, mengikuti lembaga mahasiswa, UKM, dan komunitas yang terpelajar. Karena IP yang tinggi akan mengantarkan kita pada panggilan wawancara. Tapi kepemimpinan, kemampuan komunikasi, cara berfikir yang kritis, itu yang akan mengantarkan kita pada masa depan. Oleh karena itu, jadilah pemuda bijak yang dapat memaksimalkan waktu dengan sebaik-baiknya.

*Penulis adalah Oca Hidayatul Fitri, Mahasiswi Prodi Pendidikan Bahasa Arab Angkatan 2022

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini