PROFESI-UNM.COM – Berbicara tentang anak, tentunya dalam proses tumbuh kembang anak tidaklah sama. Hari demi hari terus berlalu, semua tingkah laku serta tindak tutur yang dialami menjadi sebuah landasan untuk tumbuh dan berkembang untuk menjadi anak yang nantinya akan menginjak usia remaja atau dewasa. Tapi siapa sangka bahwa anak-anak yang terlihat ceria ketika berbaur dengan teman sejawatnya mengalami pilu yang tidak bisa ia utarakan dihadapan teman-temannya.
Mengapa anak broken home cenderung menyembunyikan perasaannya? Karena ia sulit percaya dengan orang lain.

Tidak satupun insan di dunia untuk memilih menjadi anak yang broken home. Namun sebelum terlalu jauh melangkah, broken home itu apa sih? Broken home merupakan sebuah istilah untuk anak yang mengalami masalah pada keluarganya yaitu orang tua anak tersebut yang kurang harmonis atau orang tuanya telah mengalami perpisahan.

Dampak yang ditimbulkan bagi anak begitu cukup berat sebab bisa merusak psikis yang bisa memicu terjadinya perubahan sikap yang sebelumnya belum pernah ia nampakkan.

Misalnya seorang anak yang dulunya mudah saja untuk percaya dengan orang lain, kini sulit untuk percaya. Selain itu, anak yang broken home cenderung posesif. Entah anak itu posesif dalam masalah persahabatan atau percintaan, sifat ini muncul karena anak tersebut takut ditinggalkan dengan orang yang telah ia percaya selama ini.

Sikap posesif dapat menyebabkan tumbuhnya rasa cemas yang berlebihan. Anak yang broken home juga cenderung menyembunyikan perasaannya.

Masalah yang dihadapi tentu memiliki pengaruh yang begitu besar dalam menghadapi masalahnya pada kehidupan sehari-sehari. Sikap anak dipengaruhi oleh dua faktor, yakni faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal mencakup keluarga sedangkan faktor eskternal yakni lingkungan sekolah atau masyarakat sekitar. Keluarga anak yang mengalami broken home serta tenaga pendidik yang ada di sekolah memiliki peran besar untuk membantu anak yang menyimpan luka yang ia alami selama ini. Orang tua tentunya memberi motivasi atau dorongan kepada anaknya meskipun terkadang muncul stigma yang aneh dari masyarakat bahwa anak yang broken home merupakan anak yang nakal. Tapi kenyataannya tidak, anak itu hanya perlu diberikan kasih sayang.

Orang tua yang memiliki anak yang broken home memerlukan ruang untu saling terbuka, orang tua jujur kepada anaknya tentang apa yang sebenarnya terjadi. Kemudian orang tua meminta anaknya untuk menuangkan segala isi hati dan pikirannya.

Selanjutnya peran tenaga pendidik atau guru. Di sebuah kelas memiliki banyak karakter, sehingga guru perlu mengidentifikasi ciri atau karakter siswa. Jika ada siswa yang mengalami broken home, maka guru itu perlu melakukan pendekatan kepada siswa itu tanpa diketahui oleh siswa lain karena bisa saja siswa yang lain cemburu karena merasa dibeda-bedakan. Guru juga memberi motivasi serta membiarkan siswa itu untuk bebas memililih dalam konteks yang bernilai positif. (*)

*Penulis adalah Cindy Batari Biringkanae, Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, UNM.