PROFESI-UNM.COM – Kehangatan anging mamiri’ pada Senin malam, 30 Mei 2022 berubah menjadi dingin menusuk nurani dan logika bagi para alumni salah satu kampus di Makassar. Dingin yang mengusik jiwa setelah melihat beredarnya postingan akun instagram @mekdiunm yang menampilkan puluhan screenshot curhatan mahasiswi terkait dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh salah seorang dosen di kampus tersebut. Postingan dimulai oleh seorang mahasiswi yang mengaku memiliki teman yang menceritakan kisahnya (curhat/curatan hati) pernah menjadi korban pelecehan oleh oknum pada saat melakukan bimbingan. “ini pak …. sering na pegang2 tangannya, kadang pahanya”. Sedikit potongan cerita itu sontak membuat bulu kuduk merinding. Postingan itu pun ternyata membuat beberapa mahasiswa lain akhirnya ikut speak up dengan menceritakan kisahnya di media sosial itu. Dari sekian banyaknya cerita ironi, ada cerita yang sangat parah yaitu mahasiswi tersebut dicium di daerah bi**r dan dipegang area payu****.

Sungguh memilukan!

Bagaimana mungkin seorang dosen yang notabene adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat bisa melakukan aksi nekat seperti itu. Dari postingan yang telah viral itu, ternyata tidak sedikit mahasiswi yang telah menjadi korban daripada “orang tua” di kampusnya sendiri. Pasal 45 UU Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru Dan Dosen menyatakan “Dosen wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, dan memenuhi kualifikasi lain yang dipersyaratkan satuan pendidikan tinggi tempat bertugas, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional”. Berdasarkan makna pasal a quo, setidaknya oknum dosen yang diduga tersebut, bisa saja tidak memiliki kualifikasi sebagai dosen yang sehat jasmani dan rohani. Sehat jasmani dan rohani dalam penjelasan pasal a quo adalah kondisi kesehatan fisik dan mental yang memungkinkan dosen dapat melaksanakan tugas dengan baik. Jika dilihat dari kasus ini, maka oknum dianggap tidak dalam kondisi sehat jasmani dan/atau rohani yang baik untuk melaksanakan tugas dengan baik.

Profesionalisme Kampus

Cerita-cerita yang telah banyak diungkap oleh mahasiswi-mahasiwi di “almamater orange” telah menunjukkan adanya kemungkinan tindak pidana kekerasan seksual. Berdasarkan Pasal 4 UU Nomor 12 Tahun 2022, salah satu Tindak Pidana Kekerasan Seksual adalah pelecehan seksual fisik. Pasal 6 pada UU yang sama mengatakan “Setiap Orang yang melakukan perbuatan seksual secara fisik yarrg ditujukan terhadap tubuh, keinginan seksual, dan/atau organ reproduksi dengan maksud menempatkan seseorang di bawah kekuasaannya secara melawan hukum, baik di dalam maupun di luar perkawinan dengan pidana penjara paling lama 12 (dua belas) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).”

Namun jauh di atas itu semua, pihak kampus seharusnya segera mengambil sikap atas kejadian ini. Idealnya untuk menjaga profesionalisme dan nama baik almamater, para pengambil kebijakan di dalam kampus seyogyanya mengusut kasus ini hingga tuntas. Pengusutan kasus ini dapat dilakukan dengan membentuk semacam tim pencari data dan fakta, panitia khusus (pansus), dewan etik, atau apapun-lah namanya agar berita-berita yang simpang siur ini dapat segera terjawab dan mencerahkan langit Makassar dari berita kelam. Proses pengusutan dapat dikelola secara mandiri atau bekerja sama degan pihak-pihak tertentu atau penegak hukum yang berwenang sehingga prosesnya tidak ada yang ditutup-tutupi.

Apabila tidak terbukti, tentu itu akan mengembalikan nama baik dosen itu sendiri dan nama baik almamater secara umum. Sebaliknya apabila terbukti, maka kampus harus mengambil keputusan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku dan mengambil sikap tegas dalam rangka menjunjung tinggi Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Cinta Yang Paripurna

Para alumni kampus tersebut, khususnya alumni fakultas yang masih memiliki jargon “TEKNIK THE CHAMPION ” ataupun dalam skala universitas yaitu jargon “TETAP JAYA DALAM TANTANGAN” pasti mengharapkan yang terbaik untuk almamater tercinta. Yang terbaik untuk para korban, mahasiswa/i saat ini, dan para dosen, serta almamater. Dan khususnya tentu yang terbaik untuk terduga dosen dengan segala tanggungjawabnya.

Sebagai seorang manusia yang saling memanusiakan, kita berharap ini tidak terjadi lagi di belahan dunia manapun, apalagi di lingkungan keluarga kita, kerabat kita, kampus kita, dan bangsa kita.

Sebagai seorang alumni, mari kita kawal bersama dan mendoakan yang terbaik untuk semuanya karena kita lahir dari rahim kampus ini, karena kita besar dari kampus ini, karena kita dididik dari kampus ini. Karena kita memiliki “CINTA YANG PARIPURNA” untuk almamater kita.

31 Mei 2022

*Penulis adalah HD_23 salah satu alumni UNM.