HME FT UNM Bahas Soal Feminisme Lewat Kelas Keperempuanan

0
173
Suasana berlangsungnya Kelas Keperempuanan, (Foto: Ist.)

PROFESI-UNM.COM – Himpunan Mahasiswa Elektro (HME) Fakultas Teknik, Universitas Negeri Makassar (FT-UNM) mengadakan Kelas Keperempuanan. Kegiatan tersebut berlangsung di ruangan EG 201 JPTE, pada 16 hingga 17 April 2022.

Membahas tentang Feminisme dalam Mengikis Budaya Patriarki, Andi Tenriwaru selaku dosen, penulis sekaligus pendiri Belajar Bersama dan Cici Saputri dari Ketua komisariat PMII UNM menjadi pemateri dalam kegiatan ini.

Dalam materinya, Andi Tenriwaru membahas tentang perjuangan perempuan yang telah ada sejak ratusan tahun lalu. Namun, kebanyakan pejuang perempuan yang banyak dikenal itu berasal dari pulau Jawa sedangkan di Sulawesi sendiri memiliki banyak pejuang perempuan.

“Banyak tokoh-tokoh perempuan di Sulawesi Selatan, akan tetapi karena beberapa keterbatasan, pejuang perempuan sangat kurang dikenal dibanding pejuang perempuan yang di Pulau Jawa,” terangnya.

Lebih lanjut, Cici Saputri membawakan materi mengenai advokasi. Advokasi sendiri berarti suatu bentuk tindakan yang mengarah pada pembelaan, memberi dukungan atau rekomendasi dukungan aktif.

Tidak hanya itu Ia juga menyinggung soal kesetaraan gender dalam materinya, “Hidup bukan persaingan antara pria dan wanita, melainkan kolaborasi lalu feminisme lahir bukan untuk menindas laki-laki,” jelasnya.

Ketua Panitia, Ardiansyah Al’Izzah mengatakan kegiatan ini merupakan salah satu program kerja dari bidang 4 Keperempuanan HME FT-UNM dan kali ini diikuti sebanyak 37 peserta.

Terakhir, mahasiswa angkatan 2020 tersebut berharap dengan adanya kegiatan Kelas Keperempuanan ini dapat menciptakan rasa saling memahami antar gender dalam hal ini laki-laki dan perempuan.

“Tidak ada lagi stigma-stigma bahwa, perempuan itu lemah tapi yang ada hanya stigma-stigma bahwa perempuan itu makhluk spesial yang diciptakan Tuhan. Laki-laki dan perempuan seharusnya seiring bukan saling menggiring,” tutupnya.

Kelas keperempuanan ini diadakan dengan mengangkat lima submateri, diantaranya:

  1. Advokasi gerakan perempuan
  2. Antropologi gender
  3. Sejarah pergerakan perempuan di Sulawesi Selatan
  4. Ideologi gender, feminisme dan pembangunan
  5. Posisi perempuan dalam negara, sosial budaya, dan agama. (*)

*Reporter: Mujahidah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini