Ilustrasi berpikir kreatif, (Foto: Int.)

PROFESI-UNM.COM – Proses Berpikir Kreatif Para psikolog menyebutkan lima tahap berpikir kreatif :

  1. Orientasi: Masalah dirumuskan dan aspek-aspek masalah diidentifikasi.
  2. Preparasi: Pikiran berusaha mengumpulkan sebanyak mungkin informasi yang relevan dengan masalah.
  3. Inkubasi: Pikiran beristirahat sebentar, ketika berbagai permecahan berhadapan dengan jalan buntu. Pada tahap ini, proses pemecahan masalah berlangsung terus dalam jiwa bawah sadar kita.
  4. Iluminasi: Masa inkubasi berakhir ketika pemikir memperoleh semacam ilham, serangkaian insight yang memecahkan masalah Ini menimbulkan Aha Erlebnis,
  5. Verifikasi: Tahap terakhir untuk menguji dan secara kritis menilai pemecahan masalah yang diajukan pada tahap keempat.

Proses ini dapat dilukiskan dengan kisah Archimedes. Raja Syracus ingin mengetahui apakah mahkotanya betul-betul terbuat dari emas murni atau tukang emas sudah menggantinya. la menyuruh Archimedes menelitinya. Archimedes mulai berpikir, “Bagaimana caranya menentukan logam yang dijadikan bahan mahkota itu tanpa merusaknya?” (orientasi). Lalu, Ia meneliti semua cara untuk menganalisis logam (preparasi), semuanya memerlukan pemotongan atau pemecahan. Ini tidak mungkin dilakukan. Archimedes menyingkirkan soal ini sementara (inkubasi). Suatu hari, ketika Ia mandi, Ia merasakan tubuhnya mengapung. la menemukan pemecahannya (iluminasi). la melonjak gembira dan dalam keadaan telanjang lari ke jalan, seraya berteriak, Eureka, eureka! (Saya menemukannya, saya menemukannya). Setelah itu, Ia menguji hukum Archimedes, begitu kemudian dikenal dalam dunia fisika- untuk meneliti berapa jumlah air yang dipindahkan oleh emas murni seberat emas dalam mahkota itu (verifikasi).

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Berpikir Kreatif sebagai berikut.

Berpikir kreatif tumbuh subur bila ditunjang oleh faktor personal dan situasional orang-orang kreatif memiliki temperamen yang beraneka ragam. Wagner sombong dan sok ngatur; Tchaikovsky pemalu, pendiam, dan pasif; Byron hiperseksual; Newton tidak toleran dan pemarah; Einstein rendah hati dan sederhana. Walaupun demikian, ada beberapa faktor yang secara umum menandai orang-orang kreatif :

  1. Kemampuan kognitif: Termasuk di sini kecerdasan di atas rata-rata, kemampuan melahirkan gagasan-gagasan baru, gagasan-gagasan yang berlainan, dan fleksibilitas kognitif.
  2. Sikap yang terbuka: Orang kreatif mempersiapkan dirinya menerima stimulasi internal dan eksternal; Ia memiliki minat yang beragam dan luas.
  3. Sikap yang bebas, otonom, dan percaya pada diri sendiri. Orang kreatif tidak senang “digiring”; ingin menampilkan dirinya semampu dan semaunya; Ia tidak terlalu terikat pada konvensi-konvensi sosial. Mungkin inilah sebabnya orang-orang kreatif dianggap “nyentrik” atau gila.

Butir nomor 3 membawa kita pada faktor-faktor situasional yang menyuburkan kreativitas. Para ahli sejarah mencatat bahwa ada saat-saat ketika kreativitas tumbuh subur, misalnya Islam pada zaman Abasiyah. Itali pada waktu Renaissance. Sudah diketahul juga, di negara-negara totaliter kreativitas dalam sains dihidupkan, tetapi kreativitas dalam sastra atau iimu-ilmu sosial dihambat. Berpikir kreatif hanya berkembang pada masyarakat yang terbuka, menghargai kesetiaan primordial, tetapi membunuh prestasi yang menonjol, sukar uatuk melahirkan pemikiran- pemikiran kreatif.

Tulisan ini dikutip dari Buku berjudul Psikologi Komunikasi karya Dr. Jalaluddin Rakhmat, M.Sc. terbitan PT. Remaja Rosdakarya, Bandung pada tahun 2018. (*)

*Reporter: Andi Nurul Izzah Ilham