PROFESI-UNM.COM – Aliansi mahasiswa dan berbagai komunitas yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Miskin Kota menggelar aksi tuntutan dengan grand isu “Turunkan Ketua DPR RI”. Aksi yang berlangsung di simpang tiga Alauddin Pettarani ini berakhir dengan ricuh dan massa aksi yang mendapatkan represifitas oleh aparat kepolisian, Kamis (7/4).

Awalnya hal ini terjadi saat massa aksi memblokir jalan A.P. Pettarani yang mengarah ke jalan Sultan Alauddin dengan alasan agar masyarakat mengetahui permasalahan dari aksi yang dilakukan dan pemerintah bisa melihat keresahan yang timbul pada masyarakat.

Menjelang magrib ketika massa aksi memblokir jalan tersebut terjadilah bentrok antara aparat kepolisian dengan massa aksi. Dalam bentrok itupun aparat kepolisian melakukan tindakan represifitas terhadap massa aksi.

Hal ini disampaikan oleh Akbar, Ketua HMI MPO Kota Makassar yang mengatakan bahwa aparat kepolisian melakukan tindakan represifitas kepada massa aksi. Salah satu mahasiswa yang mendapat represifitas yang cukup parah ialah Kabid Advokasi BEM FT UIM, Muh.Aidil Alfaids dengan luka di bagian kepala, mata dan bibir.

“Aparat memukul dengan membabi buta salah satu massa aksi,” ujarnya.

Akbar menganggap tindakan sewenang-wenang polisi ini dapat merusak nama aparat kepolisian dan Ia mengecam tindakan yang dilakukan oleh polisi itu.

“Aliansi mengecam tindakan brutal, jika aparat yang melakukan tidakk di adili maka akan memperburuk citra polisi,” tuturnya saat diwawancara Jum’at (8/4) pukul 11:58 Wita.

Namun, korban yang awalnya ingin melaporkan tindakan represifitas aparat kepolisian dengan didampingi oleh LBH FH UNHAS, tidak melanjutkan laporannya dikarenakan takut kasusnya tidak akan ditindaklanjuti.

“Pesimis dengan polisi, nanti bakalan tidak ditindaklanjuti ji,” ujar mahasiswa FIS-H ini.

Begitupun aksi solidaritas yang awalnya akan dilakukan pada tanggal 9 April 2022 di Polda Sulsel dan Polrestabes Makassar untuk mendesak Kapolda mengadili aparat yang brutal juga tidak jadi dilakukan.

Akbar dan segenap aliansi pun yang tadinya mendukung dan siap mengawal kasus pemukulan oleh aparat kepolisian tersebut kecewa.

“Saya pun dan beberapa organisasi lainnya kecewa,” ujarnya pada pukul 22.24 Wita. (*)

*Reporter: Mustika Fitri.