Ilustrasi Belajar. (Foto: Int).

PROFESI-UNM.COM – Tes adalah instrumen atau alat dalam pengukuran. Dalam bidang riset psikologi khususnya dan riset ilmu sosial umumnya, tes memegang peranan instrumental namun sangat penting, bahkan hasil tes menjadi dasar utama semua proses pengambilan keputusan baik melalui uji hipotesis ataupun tidak. Hal itu adalah benar dikarenakan validitas hasil riset ditentukan oleh validitas data, sedangkan data yang valid hanya dapat diperoleh dengan menggunakan tes yang baik.

Dalam bidang asesmen dan psikodiagnostika, fungsi tes pun menjadi teramat vital sebagai instrumen bantu guna pengambilan kesimpulan dan keputusan yang menyangkut individu maupun kelompok. Subjek tes adalah manusia, yang seringkali keputusan mengenai diri dan masa depannya tergantung pada hasil tes.

Satu definisi klasik mengenai tes pernah dikemukakan oleh Anne Anastasi lebih dari setengah abad yang lalu, yaitu a psychological test is essentially an objective and standardized measure of a sample of behavior (Anastasi, 1961). Sedangkan, terminologi tes menurut Robert L. Ebel berarti any kind of device or procedure for measuring ability, achievement, interest, and other traits (Ebel, 1979). Jelas nampak dari kedua pengertian ini bahwa tes merupakan alat atau instrumen pengukuran.

Dalam berbagai wujudnya, tes psikologi tampil sebagai perangkat uji verbal yang menghendaki subjek (testee) untuk merespon secara lisan atau secara tulis. Tes juga tampil sebagai perangkat uji performansi yang menghendaki individu untuk merespons dengan cara melakukan sesuatu.

Apapun wujudnya, hakikat tes merupakan kumpulan pertanyaan yang harus dijawab atau perintah yang harus dilakukan oleh subjek berdasarkan jawaban terhadap pertanyaan atau hasil dan cara melakukan perintah tersebut diambil kesimpulan mengenai subjek yang bersangkutan. Oleh karena itu, tanpa adanya aktivitas dari pihak subjek berupa respon verbal ataupun performansi, tes tidak akan menghasilkan apa-apa.

Sebagian besar tes psikologi dirancang dalam bentuk tes tulis (paper and pencil test) terutama untuk tes yang disajikan secara klasikal atau massal. Tes seperti ini sangat efisien dan umumnya tidak memerlukan waktu administrasi yang banyak. Jarang sekali ada satu tes yang memerlukan waktu penyajian lebih dari 60 menit. Penyaji tes semacam ini tidak disyaratkan untuk memenuhi kualifikasi psikolog, siapa saja yang telah terlatih secara khusus akan dapat menjadi administrator atau penyaji tes.

Sebagian kecil tes dirancang khusus sebagai tes individual, yaitu yang disajikan secara face-to-face. Tes individual hampir semuanya memerlukan waktu penyajian yang panjang dan harus disajikan oleh ahli psikologi yang terlatih. Administrator harus memahami semua langkah penyajian tes mulai dari persiapan, pelaksanaan, pemberian skor, interpretasi, sampai tata cara penyampaian hasilnya kepada pihak yang berkepentingan. Tes semacam ini pada umumnya merupakan tes standar.

Pengukuran tidak lain adalah proses kuantifikasi atribut. Dalam fungsinya sebagai instrumen ukur, tes mengubah atribut yang diukur menjadi kuantitas. Atribut kecepatan yang melekat pada sebuah kendaraan, misalnya, dengan diukur akan dapat dinyatakan sebagai 98km/jam. Atribut kecerdasan yang melekat pada seseorang dengan diukur akan menjadi 119 IQ. Apakah bilangan atau angka hasil pengukuran tersebut merepresentasikan kuantitas atribut yang diukur dengan akurat atau tidak, dengan cermat atau tidak, tergantung sebagian besar pada kualitas tes sebagai instrumen yang digunakan. Tes yang berkualitas baik akan menghasilkan data yang akurat dan cermat, bila administrasi penggunaannya terlaksana dengan cara semestinya.

Sebagai suatu instrumen, bagaimanapun kualitasnya telah diusahakan untuk maksimal, tes psikologi tidak bebas dari adanya eror pengukuran. Bahkan instrumen pengukuran atribut fisik pun tidak sepenuhnya bebas dari kemungkinan terjadinya eror. Hanya saja, pada pengukuran atribut fisik, eror pengukuran lebih banyak bersumber dari para pengguna instrumen itu sendiri.

Adanya eror pada penggunaan instrumen pengukuran atribut fisik lebih mudah diketahui sumbernya dan mudah diperbaiki. Dalam hal instrumen pengukuran atribut psikologi, sumber eror lebih banyak dan lebih sulit untuk dideteksi.

Tulisan ini dikutip dari buku berjudul “Kontruksi Tes Kemampuan Kognitif” karya Prof. Dr. Saifuddin Azwar, MA. Diterbitkan di Pustaka Belajar tahun 2019. (*)

Reporter: Muh. Ilham Raihan Yusuf