Firdaus Syamsuddin jadi pemateri kajian online kesetaraan gender, Selasa (8/3). Foto: Aliefiah Maghfirah

PROFESI-UNM.COM –  Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Sedunia, Himpunan Mahasiswa Elektro (HME) Fakultas Teknik (FT) Universitas Negeri Makassar (UNM) melakukan kajian persoalan kesetaraan gender.

Kajian yang dilaksanakan secara daring via Google Meet itu mengangkat perihal ‘Kesetaraan Gander Antara Feminisme dan Maskulinisme’, Selasa (8/3).

Kesetaraan gender adalah pandangan bahwa semua orang harus menerima perlakuan yang setara dan tidak didiskriminasi berdasarkan identitas gender mereka yang bersifat kodrati.

Salah satu penggiat literasi, Firdaus Syamsuddin mengatakan bahwa gender secara sosiologis itu perbedaan antara pria dan wanita secara kapasitas politiknya.

Ia juga mengatakan, masalah kesetaraan gender di budaya kita ialah selalu mengutamakan laki-laki. Hal itu yang membuat budaya Patriarki yang ada di sini berkembang pesat.

“Kalau di budaya lokal atau bugis, sering ditemukan budaya-budaya yang lebih mendahulukan laki-laki daripada perempuan. Menjadikan budaya Patriarki tumbuh subur,” katanya.

Salah satu peserta kajian, Risna Karmayanti memberikan contoh budaya Patriarki yang telah mendarah daging yaitu perempuan tidak perlu bersekolah tinggi karena akhirnya bakal menjadi ibu rumah tangga.

“Perempuan itu tidak usah berpendidikan tinggi-tinggi, karena ujung-ujungnya juga akan kembali ke dapur, kasur, dan sumur. Ya, itu salah satu contoh budaya Patriarki yang sampai sekarang masih melekat di daerah kita sendiri,” tutur Risna.

Di sisi lain, salah satu peserta kajian, Isnadia Amir turut mengutarakan pendapatnya bahwa feminisme lahir karena adanya ketidakadilan yang muncul di budaya barat dan berkembang di budaya lokal. 

Ia mengatakan, hal tersebut berbanding lurus perihal feminisme yang luntur pada budaya lokal disebabkan budaya patriarki yang semakin kuat dan membuat paham feminisme tidak mendapatkan keadilan.

“Dan menjadikan perempuan menginginkan tidak ada kesenjangan gender antara perempuan dan laki-laki,” tambahnya. (*)

*Reporter: Aliefiah Maghfirah Rahman