PROFESI-UNM.COM – Istilah video pembelajaran sendiri merujuk pada video yang dirancang atau digunakan untuk kegiatan pembelajaran, seperti merangsang sikap, menayangkan suatu tempat secara virtual dan realistik, meningkatkan pengetahuan, melatih keterampilan, dan sebagainya. Dengan demikian, video dapat dikatakan mampu membelajarkan berbagai jenis topik pelajaran, baik yang bersifat kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Besarnya manfaat video bagi proses pembelajaran telah mendorong pendidik dan pengelola lembaga pendidikan untuk membeli, mengunduh, ataupun memproduksi video pembelajaran. Oleh karena itu, pengadaan video pembelajaran bisa dilakukan dengan dua acara, yaitu: (1) mengevaluasi video pembelajaran yang telah tersedia, dan (2) memproduksi video pembelajaran sesuai kebutuhan pembelajaran. Di antara contoh situs web yang menyediakan video pembelajaran adalah sebagai berikut:

● Youtube (https://www.youtube.com),
● TV Edukasi(http://video.kemdikbud.go.id)
● LinkedIn Learning (https://www.linkedin.com/learning)
● Microsoft Educator Center (https://education.microsoft.com)
● Ruang Guru (https://bimbel.ruangguru.com)
● Quipper video (https://www.quipper.com/),
● Zenius (https://www.zenius.net),
● Coursera (https://www.coursera.org), dan lainnya.

Setelah mendapatkan beberapa video yang dinilai bermanfaat bagi pembelajaran, maka Anda harus mempratinjau dan mengevaluasi video tersebut sebelum menggunakannya dalam proses pembelajaran. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan saat memilih video pembelajaran adalah sebagai berikut.

  1. Konten video sesuai dengan standar dan tujuan pembelajaran
    Tujuan orang untuk membuat video dan menyebarkannya di internet itu bermacam-macam. Oleh karena itu, Anda perlu untuk mengevaluasi kesesuaian video yang ditemukan dengan tujuan pembelajaran dan kondisi siswa. Jika ternyata ada bagian video yang tidak sesuai maka Anda bisa menandainya atau menghapusnya agar siswa tidak terganggu dengan bagian video tersebut.
  2. Konten video akurat dan terbaru
    Konsep-konsep dijelaskan di dalam video juga perlu dievaluasi untuk memastikan kebenaran dan keterbaruan dari konten video tersebut. Tindakan ini sangat perlu dilakukan agar siswa tidak memperoleh informasi yang menyesatkan, usang, dan tidak sesuai dengan tujuan pembelajaran.
  3. Bahasa video sesuai usia
    Tidak bisa dipungkiri bahwa banyak sekali video pembelajaran gratis di internet. Akan tetapi, bahasa yang digunakan di dalam video tersebut belum tentu sesuai dengan kompetensi dan perkembangan bahasa siswa. Oleh karena itu, Anda perlu meninjau dan mengevaluasi kesesuaian bahasa video dengan tingkat perkembangan bahasa dan kosa kata siswa.
  4. Memiliki tampilan visual dan audio yang berkualitas
    Tampilan visual dan audio video dapat dinilai dari kejelasan gambarnya dan kejernihan suaranya. Hal-hal yang harus dihindari untuk meningkatkan kualitas visual video adalah: ukuran video terlalu kecil, tempat perekaman video terlalu gelap atau terlalu terang, kamera perekam video memiliki kualitas yang buruk, sudut pengambilan gambar salah, jarak kamera dengan objek yang di-rekam terlalu jauh, dan gerakan kamera saat proses pengambilan gambar tidak teratur. Sementara hal-hal yang harus dihindari untuk meningkatkan kualitas audio adalah: volume suara terlalu pelan, suara pengganggu (noise) yang terlalu nyaring, musik pengiring audio terlalu keras, klip audio terlalu cepat, dan gelombang suara tidak harmonis antara audio model 1 dengan audio model lainnya.
  5. Penyajian materi video jelas dan mudah dimengerti
    Selain untuk alat peraga, video pembelajaran juga sering digunakan sebagai sumber belajar mandiri. Oleh karena itu, penyajian materi melalui video pembelajaran harus sistematis dan konkret agar siswa mudah dalam memahaminya. Misalnya, pengajar dapat mengorganisasi materi pelajaran dari konsep yang mudah ke konsep yang sulit, dan mendukung penjelasannya dengan teks, gambar, atau video.
  6. Konten video bebas dari iklan atau konten negatif
    Video layanan masyarakat yang dibuat oleh individu atau perusahaan terkadang mengandung iklan atau konten yang tidak layak dilihat oleh anak-anak. Oleh karena itu, para guru harus menyeleksi kebersihan video dari iklan dan konten negative sebelum ia menggunakannya dalam proses pembelajaran. Contoh iklan yang tidak boleh ada di dalam video antara lain adalah: iklan rokok, iklan minuman keras, iklan alat kontrasepsi, dan gambargambar yang yang mengandung unsur pornografi dan kekerasan.
  7. Konten video dapat meningkatkan motivasi dan minat belajar siswa
    Video yang bisa meningkatkan motivasi dan minat belajar siswa adalah video yang menunjukkan gambar dan audio kesukaannya. Misalnya, anak-anak biasanya akan teratrik dengan warna yang solid, gerakan animasi, dan gambar kartunis dibanding gambar asli.

Tulisan ini dikutip dari buku “Media Pembelajaran Efektif” karya Hamdan Husein Batubara, M.Pd.I halaman 161-165. Diterbitkan oleh FATAWA PUBLISHING pada tahun 2020. (*)

*Reporter: Mujahidah