[OPINI] Self-Healing Millenial, Mindfulness As A Muslim

0
228
Ilustrasi Self healing Millenial, Mindfulness As A Muslim, (Foto: Int.)

PROFESI-UNM.COM – Siapa sih yang tidak pernah merasakan stres? Berbagai kalangan pasti pernah merasakannya, mulai dari kalangan pejabat, ibu rumah tangga, pedagang, sampai para mahasiswa. Penyebab stress setiap orang pun berbeda-beda; pejabat mungkin stres dengan urusan pekerjaan; ibu rumah tangga pusing dengan PTM yang membahayakan anaknya sampai persoalan dapur yang mengguncang uang bulanan; pedagang mengalami kesulitan penjualan, pematokan harga yang menyebabkan kerugian dan lain sebagainya.


Begitu pula dengan mahasiswa baik itu semester awal sampai semester akhir. Mahasiswa sebagai seorang manusia pasti memiliki masalah dalam hidupnya. Stres membuat seseorang yang mengalaminya berpikir dan berusaha keras untuk menyelesaikan suatu permasalahan atau tantangan dalam hidup. Keadaan pemuda hari ini mungkin sehat secara fisik, tapi banyak yang mengaku sedang mengalami sakit mental.


Mereka menganggap harus dilakukan proses penyembuhan, anak gen z dan millenial menyebutnya dengan healing. Healing menjadi tren yang sedang diperbincangkan di kalangan pemuda, khususnya mahasiswa. Healing adalah proses penyembuhan diri yaitu proses pemulihan yang umumnya terjadi akibat gangguan psikologis, trauma, dan semacamnya, karena adanya luka batin masa lalu yang disebabkan oleh diri sendiri atau orang lain. Caranya pun bermacam-macam seperti pergi jalan jalan, makan makanan kesukaan, menulis, berbincang dengan orang lain, me time, atau berbelanja dan lain sebagainya.


Manusia pada hakikatnya mempunyai potensi dasar yaitu kebutuhan jasmani, gharizah (naluri) dan akal. Kebutuhan jasmani seperti makan, minum, tidur adalah kebutuhan yang harus dipenuhi karena jika tidak, dapat mengakibatkan kematian atau sakit karena pemicunya berasal dari dalam. Sedangkan naluri apabila tidak dipenuhi hanya akan menimbulkan kegelisahan karena pemicunya berasal dari luar. Seseorang akan marah dan kecewa jika ada yang menjadi penyebab dari luar atau ada yang memancingnya. Diberikannya pula akal untuk berfikir. Namun, banyak dari kita tidak memahami hakikatnya sebagai seorang manusia dengan segala fitrahnya. Pemuda tidak jelas arah hidupnya, sangat mudah ikut tren dan tidak punya prinsip.


Untuk menyembuhkan atau healing itu tadi dibutuhkan solusi yang berasal dari permasalahan paling mendasar. Setiap permasalahan pada dasarnya berasal dari kebutuhan jasmani dan naluri yang dimiliki tapi penyalurannya tidak sesuai fitrah manusia. Solusi diatas mungkin bisa dilakukan, tetapi yang harus diperbaiki terlebih dahulu adalah pola pikirnya dan pemahaman utuh tentang diri sendiri. Pemikiran akan memengaruhi setiap keputusan yang diambil, begitu juga ketika menghadapai sebuah permasalahan hidup yang tidak akan pernah berhenti. Pola pikir yang sesuai dengan tujuan penciptaan manusia sehingga pilihan hidup yang diambil sesuai fitrahnya.


Mindfulness as a muslim


Mindfulness sendiri dapat diartikan sebagai memberikan perhatian (atensi) atau fokus pada sesuatu. Jika seseorang memiliki fokus pada sesuatu maka dia akan mudah menemukan tujuan dan pemecahan masalahnya Dalam Islam persoalan ini juga di bahas. Apalagi terkait tujuan hidup seseorang. Karena Islam adalah agama yang juga mengatur hubungan dengan Al Khalik, diri sendiri dan sesama manusia. Maka tips healing yang terbilang efektif untuk mengatas problematika pemuda saat ini adalah dengan menerapkan mindset mindfulness as a muslim.


Islam sebagai agama dan pandangan hidup terlengkap mengatasi persoalan-persoalan diri individu. Maka penting untuk belajar Islam secara intensif untuk mengkaji dan memahami diri sebagai muslim, menemukan potensi dan fokus pada tujuan penciptaannya. Tujuan penciptaan manusia adalah beribadah kepada Sang Khalik, maka setiap yang dilakukan jika sudah sesuai perintah-Nya maka kebahagiaan sudah didapatkan. Berbeda jika tak punya tujuan atau bahkan menjadikan standar manusia menjadi tujuan. Seseorang akan merasakan kekecewaan yang sangat menyakitkan.


Potret pemuda/mahasiswa pencapaiannya adalah menjadi koruptor termuda, menggunakan obat-obatan terlarang, seks bebas, penipuan, serta akhlak yang sangat tidak sesuai dengan moral bangsa ini. Karena rapuhnya akidah sangat mudah untuk bunuh diri dan kehilangan masa depan yang gemilang.


Berbeda dengan pemuda muslim di usia muda sudah memiliki pencapaian dengan menorehkan karya-karya yang luar biasa. Seperti Usamah bin Zaid di umur 18 tahun mampu memimpin pasukan yang anggotanya adalah para pembesar sahabat seperti Abu Bakar dan Umar untuk menghadapi pasukan terbesar dan terkuat di masa itu.
Ada juga Zaid bin Tsabit pada umur 13 tahun telah menjadi penulis wahyu. Dalam 17 malam mampu menguasai bahasa Suryani sehingga menjadi penerjemah Rasul Shallallu’alalihi wasallam. Hafal kitabullah dan ikut serta dalam kodifikasi Al Qur’an. Meskipun masih sangat muda Atab bin Usaid pada umur 18 tahun diangkat oleh Rasul Shallallahu’alaihi wasallam sebagai gubernur Makkah.


Kisah inspiratif dari Muhammad Al Fatih umur 18 tahun sudah menjadi sultan dan 22 tahun menjadi penakluk Konstantinopel ibu kota Byzantium negara adidaya di masanya. Kerennya Abdurrahman An Nashir pada umur 21 tahun membawa Andalusia mencapai puncak keemasannya. Dia mampu menganulir berbagai pertikaian dan membuat kebangkitan sains yang tiada duanya. Tak kalah hebatnya Muhammad Al Qasim pada umur 17 tahun berhasil menaklukkan India dan menjadi seorang jenderal agung pada masanya.


Mengetahui tujuan hidup nyatanya telah menjadi pemecah untuk setiap masalah-masalah kecil dan cabang dari kehidupan millennial hari ini. Maka seharusnya healing dilakukan dengan cara memahami hakikat diri dan tujuan penciptaan.

*Penulis adalah Musdalifah, mahasiwa Teknologi Pendidikan FIP UNM

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini