foto: Ilustrasi Ir. Soekarno beserta kalimat motivasinya. Foto: Int.

PROFESI-UNM.COM – Pemuda dengan segala kekurangan dan kelebihannya merupakan pribadi dinamis yang selalu menginginkan perubahan dan pembaharuan. Mereka bahkan selalu gelisah dengan status quo. Oleh karena itu, tidak jarang mereka banyak melakukan tindakan-tindakan yang barangkali bagi sebagian orang merupakan tindakan yang tidak lazim.

Melihat kenyataan ini, pemuda tidak bisa dipandang sebagai manusia yang menyimpang, karena perbuatannya yang selalu menginginkan perubahan, akan tetapi harus tetap dilihat sebagai manusia yang utuh, yaitu sebagai manusia yang memiliki beraneka ragam potensi, yang apabila dikembangkan maka akan membuahkan hasil yang maksimal.

Dengan kapasitasnya sebagai manusia yang selalu menginginkan perubahan dan pembaharuan, pemuda memiliki potensi untuk mampu menggerakkan orang lain agar sesuai dengan harapannya.

Mereka juga memiliki kemampuan untuk memengaruhi orang lain agar bisa sejalan dengan pemikirannya. Kemampuan seperti inilah yang justru sangat dibutuhkan dalam bidang politik. Dalam hal ini, aktivitas politik tidak lepas dari upaya-upaya untuk memengaruhi dan menggerakkan orang lain agar sesuai dengan yang diinginkannya atau yang dinginkan oleh kelompoknya.

Kemampuan seperti itu juga merupakan kemampuan kepemimpinan, di mana kriteria seorang pemimpin adalah orang yang mampu memengaruhi, menggerakkan, dan mengendalikan orang lain. Melihat kenyataan ini, pemuda memiliki potensi yang besar dalam bidang politik.

Sejalan dengan hal itu, dalam pandangan Anonim, manusia harus dilihat dari segi kemanusiaannya, atau seseorang dilihat dari sisi keberadaannya di tengah tengah kehidupan, adalah politikus yang suka berpolitik dan amat memperhatikan politik. Sebab, ia selalu mengurusi kepentingan dirinya, atau orang yang menjadi tanggungannya, atau kepentingan umatnya, ideologinya ataupun pemikiran-pemikirannya. Mereka, baik individu, kelompok, negara, atau organisasi-organisasi internasional, berupaya mengurusi kepentingan umat, negara, wilayah ataupun negara-negara mereka.

Aktivitas mereka layaknya para politikus, dilihat keberadaan mereka sebagai manusia. Hal itu berlangsung secara alami, karena aktivitas mereka bersifat alami. Kehidupan mereka maupun tanggung jawab mereka pun bersifat alami. Merekalah para politikus yang sangat menonjol. Terhadap mereka pula label politikus layak disandang. Sebutan itu tidak layak ditujukan pada seseorang biasa (awam), sebab ia sangat terbatas pemikirannya dalam hal mengurusi suatu kepentingan, di samping itu juga terbatas aktivitasnya dalam kehidupan. Dalam hal ini pembahasan politik di sini adalah menyangkut para politikus tadi. Jadi tidak mencakup semua orang.

Seseorang agar bisa disebut sebagai politikus harus pengalaman politik, baik perhatiannya terhadap men politik dan (terlibat) mengurusinya secara langsung -dia layak disebut sebagai politikus, atau tidak (terlibat secara) langsung menanganinya yaitu (yang disebut) pengamat politik-. Tentu saja mereka harus memiliki pengalaman politik.

Di samping itu, agar seseorang memiliki pengalaman politik ia harus memenuhi tiga perkara penting. Pertama, informasi-informasi politik. Kedua, kontinuitas pengetahuannya terhadap informasi-informasi politik yang sedang berkembang. Ketiga, mampu memilih sekaligus memilah informasi-informasi politik.

Tulisan ini dikutip dari buku yang berjudul “Yang Muda Yang Berperan (YMYB)” yang ditulis oleh Syukri Gozhali, diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan Nasional. (*)

*Reporter: Andi Gusmaniar Irnawati