Ilustrasi bahaya televisi bagi perkembangan perilaku anak. (Foto: Ist)
Ilustrasi bahaya televisi bagi perkembangan perilaku anak. (Foto: Ist)

PROFESI-UNM.COM – Para ahli menyakini bahwa pembentukan perilaku anak didasarkan pada stimulus yang diterima melalui pancaindra yang kemudian diberi arti dan makna berdasarkan pengetahuan, pengalaman, dan keyakinan yang dimiliki.

Apakah artinya? Jika anak belum memiliki sebuah pemahaman tentang benar atau salah, kemudian mereka melihat acara televisi yang penuh dengan adegan umpatan, eksploitasi seksualitas, kekerasan, hal itu akan mereka anggap sebuah kebenaran baru. Bahayanya adalah, jika kebenaran baru tersebut, yang sebenarnya bukanlah suatu kebenaran yang sesungguhnya, disampaikan secara berulang-ulang, ia akan menjadi semacam indoktrinasi dogma.

Karena itu, kita tidak heran munculnya berita anak yang awalnya tidak gagap menjadi gagap karena menonton acara TV. Tiba-tiba anak kita mengeluarkan per bendaharaan katanya yang menyengat dan membuat jantung kita serasa mau copot. Misalnya, orang tua menyebalkan, kurang ajar, bangsat atau segudang makian lainnya. Bahkan kadang bukan hanya perkataan saja yang diikuti, tetapi juga disertai aksi yang tidak kalah mengagetkan, misalnya dengan membanting piring, gelas atau barang yang terdekat yg bisa diraihnya, berbicara dengan berteriak-teriak, mengancam, menendang ala kungfu master dan lain sebagainya.

Sesuatu yang melekat pada anak sejak kecil tidak mudah dilepaskan hingga dewasa. Kesalahan mendidik anak sejak kecil juga lebih sulit diperbaiki ketika dewasa.

Akibatnya, anak harus menanggung beban kesalahan orang tua yang membiarkan mereka menghabiskan waktunya berlama-lama di depan pesawat TV. Bahkan sebuah penelitian menunjukkan dampak negatif anak usia 5-15 tahun yang berjam-jam menonton televisi akan dirasakan pada usia dewasa, baik mereka masih menonton ataupun tidak.

“Hasil Penelitian membuktikan bahwa anak-anak usia 5-15 tahun yang menonton TV lebih dari 2 jam dalam sehari, akan memperlihatkan gejala yang merugikan kesehatannya dalam satu dasawarsa berikutnya, tanpa peduli apakah mereka gemar menonton TV atau tidak setelah dewasa. Pada usia 26 tahun mereka cenderung gemuk, kelebihan lemak. Demikian penelitian yang dilakukan Robert Hancox yang dipublikasikan pada Lancet 17 Juli 2004. (Majalah Kadia, Edisi VIII Maret- Mei 2006. Yayasan Pengembangan Media Anak. Tips oleh Maria D. Adriana, halaman 10 ) Lancet: A weekly UK Medical Journal.

Pengaruh terhadap fisik yang timbul setelah satu dasawarsa kemudian adalah suatu akibat yang kelihatan, misalnya berupa kegemukan atau kelebihan lemak. Akibat akibat lain yang tidak kelihatan dipastikan sangat merugikan bagi masa depan sang buah hati kita. Memang akibat-akibat yang tidak kelihatan ini tidak bisa diukur secara langsung, tetapi bisa kita rasakan atau kita bandingkan dengan kita atau orang tua yang masa kecilnya tidak menghabiskan waktunya di depan pesawat TV seperti sekarang ini.

Tulisan ini dikutip dari buku “Anak vs Media” oleh Mahayoni dan Hendrik Lim, halaman 59-60, terbitan Elex Media Komputindo, 2008.

Reporter: Resky Nurhalizah