PROFESI-UNM.COM – Manusia tidak mengizinkan orang lain merebut properti rumah dan tanah mereka. Jika ada sedikit saja perselisihan mengenai batas (tanah), manusia berlomba mengambil batu dan senjata. Akan tetapi, manusia mengizinkan manusia lain mencuri hidup mereka.

“Kamu tidak akan menemukan orang yang mau membagi-bagikan uangnya begitu saja, tetapi berapa banyak dari kita yang justu membuang-buang hidup kita sendiri. Manusia pelit saat menjaga harta benda mereka, tetapi begitu soal membuang-buang waktu, kita justru boros. Padahal justru di sinilah kita harus pelit.” – Seneca (On The Shortness of Life)

Seneca sungguh memiliki pengamatan tajam akan ironi dari perilaku manusia. Kita tidak segan-segan mengangkat senjata jika menyangkut urusan sengketa tanah dan harta. Pertemanan, bahkan tali hubungan saudara atau orang tua anak bisa putus hanya karena perebutan warisan, rumah, perusahaan, dan lain-lain. Kita sangat murka ketika ada yang mencuri harta kita, atau tidak mengembalikan hutangnya kepada kita. Namun, ironisnya, kita justru membuang-buang hal yang lebih bernilai dari semua itu, yaitu waktu yang ada di dalam hidup kita.

Kita bisa menyia-nyiakan waktu dengan memberikan terlalu banyak pors! waktu kita untuk emosi negatif kepada orang lain. Mungkin kita menyimpan dendam bertahun-tahun atas masalah yang sudah lama berlalu. Atau, kita menghabiskan berjam-jam menggosipkan orang lain tanpa mengubah keadaan menjadi lebih baik. Atau, kita terus mengomel dan berkeluh kesah mengenai perilaku orang lain kepada kita, tanpa kita mencari solusinya. Atau, kita bertahan dalam pertemanan, pacaran, bahkan pernikahan yang toxic (beracun], selama bertahun-tahun, yang akhirnya menghancurkan jiwa kita sendiri. Semua ini sama saja seperti menghamburkan” waktu kita kepada orang lain, yang mana menurut Seneca ini lebih buruk dari menghamburkan uang.

Seneca mengingatkan kita akan pentingnya “manajemen waktu” yang lebih penting dari “manajemen uang’. Mengatur waktu di sini termasuk juga memperhatikan waktu yang kita curahkan kepada orang lain. Jika kita tidak suka uang dan harta kita dicuri/diambil orang lain, tidakkah kita harus lebih ketat lagi menjaga waktu kita?

Apakah kita akan menyalani detik-detik akhir kehidupan kita menyesali mengapa kita menghabiskan banyak waktu untuk orang-orang yang tidak seharusnya diberikan tempat di dalam kehidupan kita? Karena uang dan harta benda selalu bisa dicari, tetait waktu adalah harta yang tanpa ampun terus menghilang dari kehidupan kita, terus mendekatkan diri kita kepada kematian.

Tulisan ini dikutip dari buku “Filosofi Teras” oleh Henry Manampiring. Pada halaman 182-183 Diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas, Tahun 2019. (*)

*Reporter: Ema Humaera