[OPINI] Uang Kuliah Tunggal: Bagaimana Jika Digratiskan?

0
193
Musdalifah mahasiswa Teknologi Pendidikan FIP-UNM
Musdalifah mahasiswa Teknologi Pendidikan FIP-UNM

PROFESI-UNM.COM – Pembelajaran semester ganjil Universitas Negeri Makassar telah berakhir, libur akhirnya bisa dirasakan. Hal ini tentu sangat menyenangkan bagi mahasiswa. Namun, ternyata tak semenyenangkan yang diharapkan. Awal tahun 2022 UKT telah dirilis, menandakan mahasiswa harus segera menyetor ke pihak kampus. Hal ini tentu mendapat protes dari mahasiswa sebab skema model pembelajaran belum diketahui kejelasannya. Apakah pembelajaran akan berlangsung daring, luring atau blended?

Sebagai bentuk protes mahasiswa melakukan unjuk rasa di kampus. Memang benar di tengah pandemi ini banyaknya biaya yang dikeluarkan untuk UKT, tak pernah sebanding dengan fasilitas yang didapatkan. Semester lalu saja, banyak yang mengeluhkan bahwa pembelajaran tatap muka hanya berlangsung sekali yaitu pada saat final tes.  Pembelajaran dilakukan melalui SYAM OK yang acapkali error.

Bukan hanya di masa pandemi, keluhan terkait UKT telah mahasiswa utarakan sejak dulu. Terkait penetapan UKT itu tentu tak lepas dari sistem yang digunakan oleh perguruan tinggi. Pada tahun 2019 UNM resmi menyandang status pengelolaan keuangan BLU.   Perguruan tinggi BLU, secara sederhana adalah perguruan tinggi yang sudah fleksibel untuk mengelola organisasi terutama pengelolaan anggaran dan keuangan. Negara tak lagi memberikan pembiayaan sebab perguruan tinggi sudah mandiri dan bersifat otonom.

Lalu dari mana kampus akan mendapatkan dana? Tentu saja berasal dari UKT mahasiswa sampai layanan sewa gedung sebagaimana di kampus orange ini. Maka tak salah jika ini adalah bentuk komersialisasi pendidikan dan sangat jauh dari tujuan pendidikan yang sebenarnya.

Pembukaan UUD 1945 alinea keempat yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa rupaya tak lagi dijadikan landasan. Perguruan tinggi justru menjadi lahan komersialisasi, meraih untung sebanyak-banyaknya. Jauh dari standar pendidikan berkualitas, mulai dari sarana prasarana, kualitas lulusan, tidak meratanya pendidikan di seluruh negeri hingga biaya yang mahal. Sungguh memprihatinkan.

Bukan hanya pada pada persoalan UKT atau keadaan pendidikan, tetapi jika dicermati lebih dalam ini adalah persoalan sistem yang rusak. Di bawah kungkungan kapitalisme lahirlah berbagai kerusakan dari berbagai lini kehidupan, seperti politik praktis, perkonomian yang hanya dikusai oleh orang bermodal, keadaan sosial masyarakat yang semakin minim moral dan akhlak, begitu pula kerusakan lingkungan hari ini.

Cita-cita para pendahulu pejuang bangsa yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945, perlu ditopang oleh sistem yang benar. Pendidikan adalah kebutuhan dasar yang harus dipenuhi maka seyogiyanya negara pun bertanggung jawab memberikan pendidikan gratis tanpa syarat. Keinginan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa harus direalisasikan.

Pendidikan yang serba mahal, menghasilkan lulusan yang hanya mencari rupiah, wajar saja sebab biaya hidup hari ini terus melonjak. Jangankan biaya UKT yang mencekik, bahan sembako pun sedang melangit.

Apakah pendidikan gratis dengan fasilitas lengkap dan tujuan pendidikan yang benar-benar memanusiakan manusia bisa diterapkan?

Jika negeri yang kaya akan SDA dikelola dengan baik dan tidak diserahkan kepada asing maka bukan tidak mungkin negara dapat memberikan pendidikan yang gratis kepada seluruh masyarakat. Namun, sangat disayangkan negara tidak berdaya disebabkan sistem kapitalisme yang diterapkan saat ini. Setelah kongkalikong perpolitikan, seluruh aset negeri bisa menjadi milik asing. Saat sponsor memberikan modal kampanye maka pemegang kekuasaan harus memuluskan jalan para kapital dengan membuat undang-undang yang sesuai pesanan.

Mekanisme pembiayaan pendidikan dalam sistem Islam sangat berbeda dengan sekolah-sekolah Islam saat ini. Pada dasarnya mekanisme yang digunakan pada sekolah Islam tetap berasal dari sistem kapitalisme maka tidak bisa dijadikan sebagai acuan. Memperbaiki kerusakan sistem saat ini harus dengan sistem atau realita pengganti yang benar.

Pembiayaan pendidikan dalam sistem Islam pada setiap jenjang pendidikan ditanggung oleh negara. Seluruh biaya baik yang menyangkut gaji guru dan dosen maupun infrastruktur seperti sarana dan prasarana pendidikan sepenuhnya menjadi kewajiban negara.

Hal ini karena negara berkewajiban menjamin tiga kebutuhan pokok masyarakat, yaitu pendidikan, kesehatan dan keamanan. Maka ketiga hal tersebut dapat diperoleh rakyat secara langsung sebagai hak rakyat atas negara. Bukan hanya sekadar teori, sistem ini sudah pernah diimplementasikan dan terbukti membawa Islam menjadi pusat pendidikan dunia.

Terdapat 2 sumber yang digunakan untuk membiayai pendidikan, yaitu pertama, pos Fa’I dan Kharaj yang termasuk dalam kepemilikan negara seperti ghanimah, khumus, jizyah dan dharibah. Kedua, pos kepemilikan umum seperti tambang minyak dan gas, hutan, laut dan juga hima (kepemilikan umum yang penggunaanya dikhususkan). Jika dana yang diperoleh tidak mampu mencukupi kebutuhan maka negara wajib mencukupinya dengan segera yaitu berhutang. Hutang kemudian akan dilunasi menggunakan dana pajak (dharibah). Seluruh dana pendidikan dari Baitul Mal secara garis besar dibelanjakan untuk dua kepentingan. Pertama, membayar gaji semua pihak yang terkait dengan pelayanan pendidikan seperti, guru, dosen, karyawan dan lain-lain. Kedua, membiayai segala macam sarana dan prasarana pendidikan seperti, bangunan, asrama, perpustakaan, laboratorium, buku-buku pegangan dan sebagianya.

Melalui mekanisme yang jelas dan pemanfaatan SDA yang tepat bukan tidak mungkin pendidikan dapat dirasakan seluruh rakyat secara gratis dan berkualitas. Pendidikan yang berkualitas tentu akan menghasilkan SDM yang mumpuni sehingga mampu membangun peradaban yang maju. Terlebih lagi ini adalah sistem yang berasal dari Sang Khalik, sebab Islam bukan hanya agama ritual tetapi merupakan sebuah pandangan hidup yang sesuai fitrah (penj:defaut) manusia.

*Penulis Musdalifah mahasiswa Teknologi Pendidikan Fakulitas Ilmu Pendidikan (FIP)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini