[OPINI] Memulihkan LK UNM

0
66
Akbar mahasiswa Sosiologi UNM
Akbar mahasiswa Sosiologi UNM

PROFESI-UNM.COM – Saat membuka Tabloid Profesi UNM edisi 253 Desember 2021, saya menemukan bacaan yang menarik sekaligus memprihatinkan. Pada kolom reportase khusus, di muat informasi tentang “Masih Perlukah LK Universitas?” sebelum melanjutkan bacaan, saya sudah berpikir jauh, sepertinya ada masalah serius Internal LK Universitas.

Adu Kuat LK dan Rektorat

Saya kurang tahu pasti seperti apa masalah internal Lembaga Kemahasiswaan (LK) Tingkat Universitas, tapi kondisinya nampak sangat kompleks karena hingga kini LK Universitas (BEM dan Maperwa) masih vakum karena bersitegangnya LK dan Rektorat. Bagi Rafl Dahrendorf, seorang tokoh sosiolog Jerman, ketegangan muncul karena adanya kepentingan yang masing-masing dipegang kuat, kelompok yang bersitegang akan melakukan segala cara untuk mencapai kepentingan tersebut. Beginilah kira-kira kondisi LK dan Rektorat UNM. Adu kuat ‘kepentingan’ keduanya ada pada Peraturan Lembaga Kemahasiswaan (PLK). Dalam PLK disebutkan bahwa Kriteria Pendelegasian LK Universitas BEM dan Maperwa ‘harus’ maksimal mahasiswa angkatan 2018 dan memiliki IPK minimal 3.0. Bagi Rektorat, kriteria ini ditetapkan dengan harapan fungsionaris LK dapat menjadi Tauladan bagi mahasiswa lainnya. Sementara LK Fakultas menginginkan PLK direvisi dengan berbagai pertimbangan, salah satunya ‘baik-buruknya kinerja fungsionaris’ tidak ditentukan dengan variabel angkatan dan angka IPK, sementara rektorat tetap kokoh pada PLK.

Saya melihat ini adalah bentuk keegosian masing-masing dua pihak yang justru akan memperkeruh persoalan. Jika memang kehadiran LK Universitas menjadi kebutuhan bagi LK Fakultas dan Rektorat, maka sudah semestinya telah hadir solusi dari awal. Atau bisa jadi, kehadiran LK Universitas tidak diperlukan lagi. Langkah awal yang bisa dilakukan adalah LK Fakultas mesti berpikir jernih dan kondisional. Jernih artinya LK Fakultas harus melihat kevakuman LK Universitas sebagai masalah serius yang segera harus diselesaikan.  Kondisi internal LK UNM tentu berpengaruh terhadap pengembangan wacana intelektual dan gerakan kemahasiswaan agar dapat bertumbuh dan bertahan.

Kedua, LK Fakultas mesti mengubah standing posssion nya, dari posisi oposisi garis keras menjadi opisisi kompromi. Lagi pula, LK telah diberi amanah untuk melaksanakan Mubes LK Universitas namun belum mampu menunaikannya. Karena ketidakmampuan itulah Rektorat mengambil alih pelaksanaan Mubes namun juga berujung gagal. Artinya keduanya tidak berhasil dalam menegakkan amanah proses regenarasi LK UNM. Inilah yang perlu disadari, bahwa berpegang teguh dengan masing-masing ‘kepentingan’ justru tidak akan menyelesaikan masalah. Jika LK Fakultas tetap ngotot dengan prinsipnya, menantang rektorat untuk beradu kuat, maka bagaimanapun LK Fakultas akan tetap kalah. Jika LK tetap ingin beradu kuat dengan rektorat, maka rektorat punya kekuatan legitimasi hukum sebagai pejabat kampus, sementara kita (mahasiswa) hanya bermodalkan massa dan teriakan. Dalam kondisi seperti ini, LK tidak harus selalu berhadap-hadapan dengan rektorat. LK Fakultas harus memikirkan hal urgen dibalik masalah ini yakni masa depan LK UNM.

Gagalkan Agenda Kotor Rektorat

Mengapa Mubes LK Universitas tetap gagal meski diambil alih oleh Rektorat? Satu pertanyaan penting yang mesti kita renungi bersama. Sementara kekuatan rektorat jauh lebih besar yang mampu mengintervensi semua stakeholder dibanding LK Fakultas.

Jika dirunut, saya membaca kondisi ‘vakum’ nya LK Universitas merupakan agenda kotor pihak rektorat dan bisa jadi dukung oleh beberapa pihak mahasiswa. Mengingat kehadiran LK Universitas dianggap jantung dari pengembangan wacana intelektual dan pergerakan 9 Fakultas UNM, sehingga melumpuhkan sifat kritis mahasiswa cukup dengan mematikan LK Universitas. Hal ini menjadi wajar sebab LK Universitas dianggap sebagai poros gerakan. Namun mahasiswa terutamanya LK Fakultas harus segera menyadari bahwa ada upaya-upaya pembunuhan lembaga yang didalangi oleh kalangan rektorat.

Agenda kotor ini mesti kita perangi bersama. Rektorat tentu senang dengan kondisi LK Universitas yang vakum. Hal ini kita lihat dari sifat acuh rektorat. Kevakuman LK Universitas tentu akan berpengaruh terhadap basis dan semangat gerakan di tingkat fakultas hingga jurusan. Kevakuman LK Univeristas jika terus didiamkan, kemungkinan terburuknya akan merusak dari dalam. Sikap-sikap dan pemikiran kritis akan tercerabut dengan mudah dan sendirinya. Maka melawan agenda-agenda kotor rektorat tidak cukup dengan bersuara, menulis hingga diskusi dari meja ke meja. Diperlukan penyatuan persepsi dari tianp LK Fakultas dan digodok dengan nafas gotong royong. Menyelamatkan LK Univeristas adalah cara lain menyingkirkan dan melepaskan upaya-upaya intervensi serta belenggu rektorat.

Vakumnya LK Universitas merupakan kesengajaan rektorat. Jangan kemudian LK Fakultas justru ikut-ikut mendiamkan persoalan ini. Sekat-sekat ego sektoral adalah hal wajar namun kondisi tertentu mesti dipinggirkan. Matinya LK Universitas bukan lagi karena persoalan satu dua lembaga kemahasiswaan, atau beberapa lembaga sehingga pendekatan menyelesaikan masalah ini harus dengan pendekatan solidaritas, menyelamatkan masa depan LK UNM. Sebab vakumnya LK Universitas sama dengan kosongnya sikap dan tidak adanya tujuan LK UNM, yang pada hakikatnya sebagai poros gerakan dan pengambilan kebijakan LK. Mari gagalkan agenda kotor rektorat dengan bersatu. Bukan tidak mungkin, jika LK Universitas terus mati, maka akan merembek pada LK Fakultas hingga Himpunan Jurusan.

Kompromi Untuk Menang

Bagi saya, dasar argumentasi penolakan LK Fakultas terhadap PLK masih begitu rapuh. Terlalu mempersoalkan ‘angkatan’ dan nilai ‘IPK’ menandakan bahwa LK Fakultas tidak memiliki sama sekali taring untuk bertarung. LK nampak kehabisan figur untuk diusung menjadi pimpinan LK Universitas. Krisis figur ini kemudian membuktikan bahwa kemunduran besar-besaran dikalangan LK UNM benar-benar nyata.

Memang benar, nilai IPK tidak menentukan kinerja Lembaga, tetapi tidak mungkin mahasiswa ber-IPK ‘rendah’ memimpin LK Universitas. Belum lagi masalah angkatan yang di protes oleh LK Fakultas, yang bagi saya tidak perlu terlalu dipersoalkan, sampai-sampai LK Universitas Vakum. Sebenarnya persoalan ini hanya butuh momen Duduk Bersama yang lebih rutin dan massif.  Atau jangan-jangan, LK tidak memiliki satupun figur yang memenuhi kriteria PLK? Jika demikian, kondisi ini betul-betul gawat.

Selain itu, saya membaca ada perasaan skeptis dan takut yang menghantui LK Fakultas saat ini. Jika Rektorat berhasil melaksanakan Mubes LK Universitas dengan kitab PLK sebagai pedoman, maka LK Fakultas akan mati rasa dan kehilangan pengaruh. Artinya Rektorat akan lebih leluasa mengendalikan LK Universitas. Namun perasaaan ragu dan ketakutan ini mestinya tidak menjadi hambatan dikalangan LK Fakultas. Untuk menjaga agar sikap dan agenda-agenda LK Universitas tetap berpihak kepada aspirasi mahasiswa, LK Fakultas cukup mendelegasikan mahasiswa-mahasiswa yang mapan dari segi intelektual dan gerakan di Maperwa dan BEM Universitas sebagai ‘penyeimbang’.

Sudah saatnya LK Fakultas Kompromi. Lagi pula, mengalah bukan berarti dikalahkan. Sehingga sewaktu-waktu kondisi LK Universitas yang telah berjalan, melenceng dari yang seharusnya, maka figur-figur LK Fakultas yang ditempatkan tadi mampu menetralisir hal tersebut. Lagi pula, LK Fakultas juga memiliki fungsi pengawasan terhadap LK Universitas yang berangkat dari aspirasi Himpunan dari tiap jurusan.

Sudah saat LK Fakultas mengambil langkah kompromi untuk menang dengan menerima PLK. LK dan Mahasiswa harus menjadikan pengaktifan LK Univeristas sebagai agenda mendesak yang harus segara dirampungkan. Saatnya memulihkan LK UNM dengan menyatukan kembali 9 Mata Orange.

*Penulis adalah Akbar mahasiswa Sosiologi UNM

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini