PROFESI-UNM.COM – Thrifting yang berasal dari kata dasar thrift artinya adalah penghematan. Istilah thrifting bisa didefinisikan sebagai  kegiatan membeli barang yang sudah pernah digunakan atau barang bekas dengan harga yang lebih murah.

Thrift sudah ada sejak tahun 1760-1840, di mana pada abad ke-19 harga pakaian sangat murah sehingga masyarakat sering membeli pakaian baru dan membuang pakaian lamanya. Bahkan di Amerika terdapat hari toko thrift nasional (National Thrift Store Day) yang diperingati setiap tanggal 17 Agustus dengan memberikan diskon besar-besaran.

Di Indonesia sendiri thrifting ini kembali marak di awal tahun 2020 sampai sekarang. Hal ini dipicu oleh kondisi pandemi yang memaksa masyarakat untuk berhemat. Dengan membeli barang thrift bisa dijadikan sebagai alternatif untuk tetap tampil fashionable walau budget rendah. Selain itu, trend thrifting juga dianggap dapat membantu menekan pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh perge rakan cepat industri tekstil dalam memproduksi pakaian.

Melonjaknya penggemar barang thrift mengakibatkan terbukanya banyak usaha atau toko thrift. Mayoritas barang thrift yang merupakan hasil impor dengan banyak brand luar negeri dan termasuk barang terbatas menjadi daya tarik tersendiri. Barang thrift yang dijual juga bermacam-macam, mulai dari baju, celana, rok, sandal, sepatu, tas, dan bahkan selimut. Harganya pun bervariasi, tergantung kualitas, merk, dan kondisi fisik barang tersebut. Meskipun merupakan barang bekas, namun terdapat juga barang thrift yang kondisinya seperti baru (tanpa cacat). Disinilah dibutuhkan kemampuan konsumen dalam memilah dan memilih.

Andi Nurul Izzah Ilham, mahasiswa Jurusan Psikologi, Fakultas Psikologi (FPsi) Universitas Negeri Makassar (UNM) mengaku gemar thrifting karena banyak barang thrift yang unik dan dari brand internasional namun bisa dibeli dengan harga murah.

“Baju-baju yang dijual itu jarang ditemukan dan branded, tapi murah jadi saya suka”, ungkapnya

Lebih lanjut, mahasiswa asal Bulukumba ini juga merekomendasikan tempat-tempat yang bagus dikunjungi oleh pecinta thrift di Makassar yakni Pasar Terong, Toko yang murah.mks, dan Toko indahcollection011.

“Kalau saya sering beli di pasar terong, terus bisa juga di toko yang murah.mks atau indahcollection001, bagus itu”, sarannya.

Barang thrift yang bervariasi membuat konsumen bebas memilih sesuai kebutuhannya. Jenis pakaian yag dijual juga lengkap, yaitu kemeja, blouse, kaos, dan jacket, sehingga target pasar semakin luas, termasuk mahasiswa dan pegawai yang umumnya memakai kemeja dan blouse.

Adapun tips membeli barang thrift yaitu kunjungi toko atau pasar thrift yang ramai dan sudah dijamin bersih, sebaiknya datang langsung ke toko (jangan memesan via online) untuk memastikan kondisi barang yang dibeli.

Umumnya barang thrift dijual dalam ukuran yang mengikuti standar luar negeri, kenali jenis noda pada pakaian yang mudah dan susah dibersihkan, pertimbangkan segala aspek mulai dari kualitas, brand/merk, dan kondisi fisik, serta perhatikan keaslian barang tersebut. (pr14)

Tips dan Trik Thrifting

  1. Harga Yang Sesuai

Dengan membeli pakaian di thrift shop akan menghemat biaya. Kebanyakan pakaian thrift shop memiliki nilai fashion yang tinggi. Hal tersebut bisa jadi salah satu keuntungan buat teman-teman mahasiswa yang mau tetap modis tanpa memerlukan budget yang tinggi.

  • Gaya Busana Yang Lebih Stylish

Nah, buat teman-teman yang mulai bosan dengan outfit yang itu-itu saja, thrifting bisa jadi ‘jalan ninja’ nih buat teman-teman mahasiswa yang mau mix and match gaya busana. Teman-teman bisa mix and match gaya busana yang hits tahun 90-an sampai 2000-an, dan tentunya bisa teman-teman temukan  ketika memilih thrifting.

  • Limited Edition

Teman-teman yang ingin membeli pakaian thrift shop tidak perlu khawatir soal design barangnya. Karena pakaian yang dibeli secara thrift shops akan jarang ditemui.

  • Cepatnya Perubahan Mode Busana

 Salah satu yang menyebabkan barang thrift shop menjadi limited edition, karena cepatnya pergantian mode busana. Dengan itu, teman-teman bisa mempunyai beragam pilihan busana dengan jangka waktu tertentu. Nah, kalau teman-teman udah mulai bosan dengan pakaian yang itu-itu aja, teman-teman bisa langsung thrifting baju dengan model lain dan pastinya dengan harga terjangkau

  • Berkontribusi Menjaga Lingkungan

Melansir dari narasinewsroom, fast fashion bisa berdampak pada kerusakan lingkungan. Tiap tahunnya, produksi tekstil menghasilkan 1,2 milliar ton emisi gas rumah kaca. Kurang dari satu persen bahan yang membuat pakaian didaur ulang menjadi baju baru. Dan sekitar 20 persen pencemaran laut berasal dari hasil air limbah produksi tekstil salah satunya mikrofiber.(*)

*Tulisan ini telah Terbit di Tabloid Edisi 253