PROFESI-UNM.COM – Isu gender pada hakikatnya berkembang dalam beragam lingkup organisasi tingkat lokal, regional sampai global. Setelah lebih dari dua dasawarsa diperdebatkan pada tingkat Perserikatan Bangsa-Bangsa atau PBB.

Pada umumnya konsep “gender” dapat diartikan atau dipahami sebagai sesuatu yang mengacu pada atribut sosial dan kesempatan yang bertalian dengan keberadaan seseorang sebagai perempuan atau laki-laki, dan hubungan antara laki-laki dan perempuan, antara anak-anak perempuan dan anak-anak laki-laki.

Atribut, kesempatan, dan hubungan ini merupakan konstruksi sosial, dipelajari dan dimiliki seseorang, laki-laki dan perempuan, melalui proses sosialisasi sejak lahir dan bersifat kontekstual, dan dapat berubah atau diubah.

Gender menetapkan apa yang diharapkan, diperbolehkan, dan dihargai dari seseorang perempuan atau laki-laki dalam konteks tempat dan waktu. Hal tanggung jawab yang diberikan, kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan, akses dan penguasaan sumber-sumber ataupun kesempatan dalam pengambilan keputusan.

Gender merupakan bagian integral dan penting dalam konteks sosial budaya pada umumnya. Sebagai kriteria penting dalam analisis sosia budaya, gender sejajar dengan kelas, ras, tingkat kemiskinan, kelompok etnis, dan umur.

Keadilan Gender merupakan proses untuk adil pada perempuan dan laki-laki. Untuk menjamin keadilan, langkah-langkah sering diperlukan untuk menangani/menutupi kekurangan/ketidakberuntungan sosial dan historis yang tidak memungkinkan laki-laki dan perempuan untuk berkiprah bersama-sama dalam kondisi yang sama. Keadilan gender merupakan landasan menuju kesetaraan gender.

Kesetaraan Gender berarti perempuan dan laki-laki menikmati kedudukan yang sama. Kesetaraan gender berarti laki-laki dan perempuan berada dalam kondisi yang sama untuk mewujudkan secara penuh hak asasi dan potensi mereka untuk pembangunan nasional, politik, ekonomi sosial dan budaya, dan menikmati hasil-hasilnya.

Semula diyakini bahwa kesetaraan dapat dicapai dengan memberikan kesempatan yang sama pada laki-laki dan perempuan, dengan asumsi dapat memberikan hasil yang sama, tetapi kemudian disadari bahwa perlakuan yang sama tidak selalu memberi hasil yang setara.

Pada waktu ini konsep kesetaraan mengakui bahwa perbedaan perlakuan terhadap perempuan dan laki-laki terkadang diperlukan untuk memperoleh hasil yang sama karena perbedaan kondisi hidup atau untuk menangani/menutupi/memberi kompensasi atas diskriminasi yang dialami di masa lalu.

Maka kesetaraan gender merupakan penghargaan yang setara oleh masyarakat atas persamaan dan ketidaksamaan antara perempuan dan laki-laki, dan keanekaragaman peran yang mereka lakukan.

Tulisan ini dikutip dari buku berjudul “Sjamsiah Achmad Matahari dari Sengkang-Wajo” karya Sjamsiah Achmad halaman 173-175. Diterbitkan PT Elex Media Komputido tahun 2013. (*)

*Reporter: Aliefiah Maghfirah Rahman