PROFESI-UNM.COM – Pertama kali mencoba berenang setelah sekian lama tidak pernah menginjakkan kaki ke kolam. Saat itu  tahun kedua Yoga memutuskan untuk berada di Sekolah Luar Biasa (SLB) A-Yapti sebagai seorang tunanetra.

Berawal dari rasa rindu melakukan aktivitas yang selalu dilakukannya di kampung membuatnya mengenal bakat terpendam sebagai seorang atlet renang hingga kini telah membuatnya menjadi atlet jawara renang.

Mahasiswa jurusan Pendidikan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FIS-H) UNM ini mengaku saat itu dirinya hanya sekedar mengiyakan ajakan temannya untuk jalan-jalan di pinggir kolam.

Didorong oleh hasrat kerinduan pada hobi lamanya untuk berenang membuatnya segera menyelam di kolam. Hal ini menjadi perhatian gurunya saat itu, didorong oleh rasa takjub akhirnya gurunya menyarankan untuk Yoga mengukuti latihan renang.

“Waktu itu setelah lomba Festival Lomba Seni dan Sastra Nasional (FLS2N) di Bandung, saya diajak teman ku untuk jalan-jalan di pinggir kolam. Saya yang rindu berenang langsung semangat dan mulai berenang. Guru saya lihat, dan saat itu saya diajak untuk latihan renang,” ujar mahasiswa asal Gowa ini.

Perjalanan Yoga ternyata tidak mulus. Sekolah SLB A-Yapti tidak memiliki pelatih renang, olahraga yang dilatihkan hanya olahraga biasa untuk tunanetra. Namun, untungnya saat itu pembimbing olahraga SLB A-Yapti mengarahkan untuk belajar ke rekannya.

“Waktu itu ternyata di SLB tidak ada pelatih renang, karena hanya olahraga biasa saja dia ajarkan. Kayak tolak peluru dan lainnya, renang tidak ada. Jadi saya diarahkan ke temannya,” tuturnya.

Meskipun jarak ke lokasi latihan lumayan jauh, bagi Yoga itu bukan masalah serius. Setiap akhir pekan dia selalu menemui gurunya itu di Tallo dengan menaiki angkot.

“Jauh tempat ku latihan di Tallo, biasa malam ka baru balik. Tapi ku suruh orang kasih nyebrang ka, baru teriak ma tahan angkot. Biasa mengerti mi itu orang kalau di jalan ma,” katanya.

Restu orang tua juga menjadi alasannya harus memperjuangkan mimpinya menjadi atlet dengan diam-diam melakukan latihan. Ia selalu menyisihkan uangnya agar bisa berenang.

“Nda na tau orang tua ku, jadi saya diam-diam latihan. Jadi kalau dikirimkan ka uang ku sisahkan memang mi untuk berenang,” tuturnya dengan terharu.

Tapi berkat prestasinya Ia kemudian memiliki nyali untuk berbicara dengan orang tuanya. Sejak saat itu orang tuanya tidak lagi melarang untuk latihan berenang.

“Waktu itu ikut ka lomba, lolos ka ke Jawa untuk ikut lomba renang nasional. Sejak saat itu nda na larang ma orang tua ku, bahkan kalau mau ka pergi mereka temani ka,” ucapnya.

Masalah kembali datang, saat tiba-tiba Ia kehilangan penglihatannya secara total. Sebelumnya Ia sudah diperingatkan oleh dokter untuk tidak lagi berenang, tapi Ia terus melakukan hobinya itu.

“Nda ada hujan nda ada apa-apa, tiba-tiba pas pulang berenang hilang total mi penglihatan ku. Gelap ku rasa, memang dokter sudah peringatkan untuk tidak berenang lagi. Tapi tetap ka berenang,” ujarnya pada reporter Profesi.

Baginya tidak ada yang lebih indah selain berenang, meski semua orang disekitarnya tidak menerima keputusannya menjadi atlet renang.

“Na larang ka teman ku sama keluarga ku. Bilang jangan berenang lagi nanti cepat hilang total penglihatan mu,” tuturnya.

Yoga memilih kehilangan penglihatannya daripada harus kehilangan mimpinya.

“Meskipun dilarang ka, tapi satu ji ku yakini. Biar pi nda bisa ka melihat karena prestasi ku berenang, daripada melihat ka satu sampai tiga tahun lagi baru nda apa ku buat,” ucapnya dengan optimis. (tar) (*)

*Tulisan ini telah terbit di Tabloid Edisi 253