PROFESI-UNM.COM – Umar, begitulah pria yang sudah 36 tahun mengabdi di perpustakaan kampus orange ini dipanggil. Meski harus berhadapan dengan tumpukan buku selama bertahun-tahun namun baginya hal itu bukan sebuah beban. Dia rela mengabdikan dirinya demi buku-buku tak tesentuh itu disapa oleh tangan-tangan haus ilmu.

Dia selalu setia duduk di depan perpustakaan untuk melayani semua pengejar ilmu itu. Dengan sebuah komputer di depannya Ia mendata semua buku menjadi sebuah arsip, itulah pekerjaan sehari-harinya. Sambil sesekali menaruh sapa pada beberapa mahasiswa yang datang membawa masalahnya tentang buku-buku di ruangan berukuran 3 X 4 itu.

Di tangannya selalu tergenggam buku, sesekali buku-buku itu Ia sisihkan untuk didonasikan pada komunitas yang membutuhkan. Suara lembut dari lelaki berusia lima puluhan tahun ini kadang harus menegur dengan iklas beberapa mahasiswa yang sering lupa aturan. Sesekali rasa iba menyelimuti hatinya, melihat mahasiswa haus ilmu itu meronta padanya lantaran buku di koleksi perpustakaan kampus orange ini kadang tak menjawab kehausan mahasiswa akan ilmu.

Masa pandemi membuat perpustakaan semakin sepi. Pada awal perpustakaan kembali dibuka di awal setelelah pandemi pun pengunjung yang datang ke perpustakaan hanya bisa dihitung jari.

“Ya seperti sekarang yang bisa dilihat, sedikit ji mahasiswa yang datang. Ini agak banyak mi, karena anak-anak sudah masuk kuliah lagi meski masih belum semua. Dulu pas awal buka lagi, bisa dihitung jari kadang dua atau tiga mahasiswa,” ujarnya pada reporter Profesi.

Buku-buku di perpustakaan tak lagi cukup untuk memenuhi bahan referensi mahasiswa, lantaran buku di perpustakaan dominan buku keluaran terbitan lama. Padahal sudah banyak sekali pembaharuan ilmu di bidang pendidikan terutama pada terbitan terbaru.

“Buku-buku di sini kebanyakan buku lama, ada juga sebenarnya buku baru tapi karena kebanyakan buku lama jadi buku baru itu tertutupi jadi tidak terlihat. Itu juga salah satu alasan tidak banyak mahasiswa yang datang kesini,” katanya sambil menunjuk beberapa buku di rak.

Ruangan pun kini sudah tak layak digunakan, plafon dan luas ruangan sudah tak lagi memadai bahkan atas perpustakaan sudah sering bocor jika hujan tiba.

“Ini barusan lagi di perbaiki plafonnya karena dulu itu sering mi bocor kalau hujan. Kalau di cat ji saja nda bisa harus pi memang di ganti. Karena ini saja dulu ditutup ji di atas pakai tripleks,” tuturnya dengan memandang plafon usang itu.

Tahun ke 36 menjadikan Umar menjadi sosok yang teramat dekat dengan ruangan ini, sejarah perpustakaan di kampus orange pun sudah menjadi cerita hidupnya. Dengan penuh memori Ia menceritakan tentang situasi perpustakaan.

“Kalau saya 36 tahun ma disini. Lama sekali mi, Januari nanti saya pensiun, jadi kalau soal suka dan dukantya perpustakaan sudah saya tau semua. Ini juga dulu bukan di sini, di ruangan psikologi dulu sebenarnya itu dibangun untuk ruangan perpustakaan tapi kita dipindah, ini sebenarnya dulu ruangan senat,” katanya mengingat memori beberapa tahun lalu.

“Dulu itu ada ji sebenarnya ada ji dana untuk ganti buku, hanya kan sekarang ada mi UKT. BLU maki juga jadi nda ada mi bantuan lagi untuk beli buku. Kadang kita juga stor ji ke pimpinan buku apa yang dibutuh nanti mereka yang belikan,” tambahnya.

*Tulisan ini telah terbit di Tabloid Edisi 253.(*)