PROFESI-UNM.COM – Lelaki Asal Barru ini memang terkenal sebagai sosok yang tidak kenal lelah dan ideal. Kepribadiannya ramah dan pekerja keras. Bagaimana tidak, selain aktif di lembaga dia juga aktif melakoni perannya sebagai modeling dan pengusaha. Selain itu Ia juga tidak pernah mengesampingkan akademiknya pemuda bernama Alif Mueller ini tetap aktif di program akademik seperti Kampus Mengajar dan kompetisi lainnya.

Mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) UNM itu memulai karirnya sebagai modeling dari usia SMA, karena kecintaannya pada dunia modeling Ia membuat sebuah komunitas modeling di kampungnya yang sekarang sudah melahirkan model-model berbakat.

Seperti tidak puas dengan pencapainnya, Ia kemudian mencoba dunia bisnis. Tak tanggung-tanggung semangat bisnisnya ini pun patut diacungi jempol. Bahkan sekarang usaha bisnis kuliner olahan pisang yang didirikannya dengan nama brend Alifyou-Banana menjadi makanan terkenal di kampungnya.

Alif mengaku baginya kunci sukses adalah manajemen waktu. Baginya membuat manajemen waktu sudah menjadi hal wajib untuk dilakukannya  dan membuat urutan prioritas.

“Untuk mengatur waktu sekarang sudah tidak terlalu sulit, mungkin karna sudah terbiasa buat manajemen waktu yang baik dan jika ada job biasanya jauh-jauh hari sudah saya atur. Jika ada yang bertabrakan di waktu yang sama saya usahakan untuk mencari cela apakah memang bisa saya bagi waktunya atau tidak, jika tidak biasanya saya tolak atau cancle dijauh hari,” ujarnya.

Lelah sudah menjadi hal mutlak bagi Alif karena aktivitasnya yang terlalu banyak. Tapi menjaga kesehatan tidak pernah dilewatkannya, untuk menjaga stamina dia tidak akan melewatkan mengonsumsi suplemen cukup untuk kesehatan tubuhnya.

“Kalau capek pasti capek, cuman capeknya terbayarkan. Kalau drop jarang sih, tapi pernah drop sekali, betul-betul saya tidak bisa bangun hampir dua hari badan sakit semua karna lupa makan. Jadi setelah itu sesibuk apapun saya, pasti harus makan dan minum vitamin, karna kalau sakit kan sayang banget, apalagi kalau nda kerja,” tutur mahasiswa aktivis FBS.

Cukup sederhana alasan Alif untuk berkarir sampai di titik ini. Ia mengaku hanya karena keinginannya untuk memenuhi kebutuhannya dari hasil keringatnya membuatnya tumbuh menjadi mahasiswa mandiri tidak bergantung pada orang tua dan orang lain.

“Gimana ya, kalau motifasi gak ada sih cuma suka aja gitu, kerja-kerja cari uang mau belanja enak banget rasanya belanja pake uang sendiri. Juga bisa mandiri, gak ketergantungan sama orang tua, apalagikan dunia zaman sekarang itu semua butuh uang, kalau gak kerja ya gak ada uang,” kata mahasiswa asal Barru ini.

Bagi Alif meski telah memiliki prestasi di berbagai bidang namun baginya hal itu belum cukup untuk membuatnya berhenti berkarir. Syukur dan tidak mudah menyerah menjadi kunci kerendahan hatinya.

“Saya belum sukses sih, tapi kalau mau sukses ya bangun, jangan tidur. Berani jangan takut. Menang itu biasa, gagal itu luar biasa. Bangkit dan jangan menyerah, bersyukur dan berbagi cinta,” ucapnya dengan merenda.

Sukses tidak semudah membalik telapak tangan. Bagi Alif suka dan duka sudah menjadi hal biasa, tak jarang ada yang membuatnya sering merasa putus asa apalagi ketika yang diharapkan tidak didapatkannya.

“Untuk suka dan duka, untuk sukanya sih aku bersyukur karna apa yang aku rintis, dan buat bisa meluas dan dikenal orang. Ada kesan tersendirinya bagi aku didalam hati yang tidak bisa saya ungkap. Kalau dukanya biasanya ada hal yang saya inginkan atau rencanakan tapi tidak terlaksana,” tambah Alif.

Tak jarang Ia juga mendapat penolakan dari orang sekitarnya. Mengiklaskan semua kata-kata menjatuhkan dari orang membuatnya semakin kuat.

“Kadang juga ada orang jahat, tapi gak papa, orang yang jahat ke Alif itu biasanya Alif kumpulkan, ibarat cacian yang tidak sesuai yang mereka lempar. Alif tangkap semua, gak ada yang di buang atau lempar kembali,” katanya.

Mengubah cacian menjadi motivasi. Kini telah membuat Alif seperti batu karang tak mudah di patahkan.

“Semua saya tangkap satu-satu lalu di susun seperti batu-bata, banyak sampai membentuk tembok, jadi kalau ada yang mau lempar lagi, ya sudah gak kena lagi karna ada tembok yang melindungi,” ujarnya. (tar) (*)

*Tulisan ini telah terbit di Tabloid Edisi 253