PROFESI-UNM.COM – Kepala Departemen Advokasi dan Kajian WALHI Sulawesi Selatan, Slamet Riadi mengatakan Krisis Iklim memicu terjadinya bencana ekologis. Hal itu disampaikan saat Ia menjadi narasumber Webinar Nasional Nusantara Berkarya, Kamis (6/1).

Dalam pembahasannya, Slamet Riadi juga menyinggung pembangunan-pembangunan yang dicanangkan di era modern ini justru bertolak belakang dengan pelestarian alam. Bagaimana tidak, hal ini bisa dilihat dari kerusakan lingkungan, alih fungsi kawasan hutan, ketidaksesuaian tata ruang, ekspansi pertambangan, dan perkebunan monokultur.

Ia mengetakan, krisis iklim memicu terjadinya bencana ekologis seperti banjir bandang, banjir rob, dan longsor. Selain itu, pandemi juga mengubah perilaku manusia dan membahayakan lingkungan.

“Satu pembangunan yang ada dapat merusak lingkungan, seperti yang terjadi di Kodingareng,” ucapnya.

Ia menjelaskan, fakta krisis iklim yang sedang dihadapi, diantaranya suhu meningkat 1,8 hingga 4 derajat Celsius diakhir abad ini, kenaikan air laut 1901-2010 hanya 0,19 mm/tahun menjadi 3,2 mm/tahun periode 1993-2010, lapisan es laut Arktik berkurang 40% sejak 1979, konsentrasi gas Co2 lebih tinggi 40%.

Lebih lanjut, Magister Ilmu Antropologi UGM itu juga menyebut dampak yang dapat ditimbulkan akibat tambang pasir laut.

“Dampak negatif dari tambang pasir laut diantaranya rusaknya terumbu karang, berkurangnya tangkapan nelayan,tekanan psikologis hingga konflik antar masyarakat,” jelasnya. (*)

*Reporter: Mujahidah