PROFESI-UNM.COM – Kepala Departemen Advokasi dan Kajian WALHI Sulawesi Selatan (Sulsel), Slamet Riadi bahas peristiwa yang membawa sulawesi selatan pada situasi kolaps atau kehancuran. Hal itu disampaikannya dalam webinar nasional nusantara berkarya yang digelar oleh Marabunta pada Kamis, (6/1).

Menurutnya ada tiga hal yang menjadi faktor utama yang akan menyebabkan Sulawesi Selatan menuju kolaps. Pertama, kerusakan lingkungan seperti terjadinya alih fungsi kawasan hutan, ketidaksesuaian tata ruang, ekspansi pertambangan dan perkebunan monokultur.

“Terjadi aliansi kawasan hutan yang dulunya menjadi kawasan hutan tiba-tiba menjadi kawasan hutan produksi atau dijadikan kawasan pemanfaatan bukan untuk pelestarian hutan. kami juga menemukan ada ketidaksesuaian tata ruang dimana di satu sisi ada satu wilayah yang ditetapkan sebagai rawan bencana tapi disisi lain ia dijadikan sebagai kawasan pertambangan. Ekpansi pertambangan dan perkebunan monokultur yang bersifat kerakusan juga menjadi fakotr utama,” jelasnya.

Ia menyebut ada 3 Daerah Aliran Sungai (DAS) yang sangat kritis di Sulsel yakni Sungai Saddang, Bila Walanae, dan Jeneberang.

“Amanah UU atau amanah peraturan lingkungan 30% dari kawasan DAS. Tapi jika kita lihat persentasenya Sungai Saddang kawasan hutannya sekitar 17,09%. DAS Bila Walanae kawasan hutannya hanya mencapai 14,32%, dan Jeneberang yang sering berkontribusi terhadap banjir di kota Makassar dengan kawasan hutan 16,82%,” jelasnya.

“Jadi wajar ketika debit air hujan meningkat kerentangan lenskap atau bentang alatnya juga sangat parah karena hutan yang seharusnya bisa menendalikan air tapi menjadi terganggu karena minimnya kawasan DAS besar di sulsel,” tambahnya.

Kedua, krisis iklim yang dipicu oleh kerusakan lingkungan sehingga memicu terjadinya bencana ekologis atau bencana iklim seperti banjir bandang dan tanah longsor.

“Jadi krisis iklim itu sebenarnya adalah dampak dari terjadinya kerusakan lingkungan. Krisis lingkungan ini memicu terjadinya bencana ekologis atau bencana iklim beberapa diantaranya yakni banjir bandang, tanah longsor, dan sebagainya,” tegasnya.

Ketiga, pandemi yang mengubah perilaku masyarakat dan kemudian berdampak pada lingkungan. Persoalan ini menjadi refleksi yang seharusnya mengajarkan masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan.

“Ketika lingkungan atau tempat tinggal hewan dirusak, maka akan ada hewan-hewan kecil yang dulunya tidak pernah muncul tapi karena inangnya diganggu sehingga Ia mencari inang baru. Nah inilah yang menyebabkan munculnya berbagai penyakit yang tidak dikehendaki,” jelasnya. (*)

*Reporter: Nur Qodriah Syafitri