Ilustrasi wawancara. (Foto: Int).
Ilustrasi wawancara. (Foto: Int)

PROFESI-UNM.COM – Wawancara bukanlah suatu kegiatan di mana interviewer bertugas untuk menyampaikan atau membacakan pertanyaan untuk kemudian mencatat jawaban dari interviewee, sementara interviewee bertugas menjawab seluruh pertanyaan yang diajukan interviewer dengan sempurna.

Wawancara merupakan proses yang dyadic atau proses yang timbal balik antara interviewer dengan interviewee (Stewart & Cash, 2008). Karena ini merupakan proses yang bersifat reciprocal atau timbal balik, maka baik interviewer maupun interviewee, keduanya berhak saling mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan. Jadi intinya, proses wawancara bukanlah proses yang bersifat satu arah di mana hanya interviewer yang berhak untuk bertanya, dan interviewee bertugas untuk menjawab pertanyaan.

Terdapat beberapa persyaratan yang perlu dilakukan ketika hendak melakukan wawancara terutama dalam konteks penelitian, antara lain:

  1. Peneliti perlu membuka jalan dan menemukan subjek yang akan diwawancarai. Subjek penelitian tidak diperoleh secara otomatis. Perlu pencarian yang disesuaihan dengan tujuan penelitian. ltulah sebabnya penelitian kualitatif mensyaratkan teknik sampling yang bersifat purposefull (purposefull sampling), yaitu teknik sampling yang disesuaikan dengan tujuan penelitian yang akan dilakukan.Tujuan penelitian menjadi salah satu kriteria di antara kriteria lainnya yang dapat dijadikan sebagai patokan dalam menemukan subjek penelitian. Selain tujuan penelitian, peneliti juga dapat merumuskan syarat-syarat subjek penelitian untuk dijadikan pedoman dalam memilih dan menemukan subjek penelitian.
  2. Peneliti wajib menciptakan komunikasi yang kondusif terhadap subjek penelitian. Setelah subjek diperoleh melalui purposefull sampling, langkah selanjutnya adalah melakukan pendekatan dan rapport dengan cara membangun komunikasi yang kondusif terhadap subjek penelitian. Dengan komunikasi ini, peneliti harus jujur untuk mengatakan bahwa ia akan melakukan penelitian terkait dengan subjek penelitian. Tidak diperkenankan melakukan paksaan dalam memilih subjek penelitian. Syarat mutlak bagi peneliti dalam hai ini adalah mampu berkomunikasi interpersonal dengan baik. Peneliti harus banyak melakukan inisiasi dalam berkomunikasi dengan baik dan mampu menciptakan kenyamanan ketika berkomunikasi dengan subjek penelitian. Inisiasi dalam berkomunikasi mungkin mudah dilakukan bagi sebagian orang yang secara personal mudah bergaul dan talkative. Tetapi bagi orang yang memiliki karakter pendiam, dan lebih senang untuk menyendiri, melakukan inisiasi dalam berkomunikasi bukanlah hal yang mudah, tetapi mau tidak mau hal ini harus tetap dilakukan.
  3. Peneliti perlu menjaga hubungan agar selalu stabil dan positif. Selama penelitian berlangsung, peneliti perlu menjaga hubungan antara dirinya dengan subjek penelitian agar selalu stabil dan positif. Jika ada sesuatu yang subjek penelitian berkeberatan untuk digali lebih dalam melalui wawancara, peneliti tidak boleh memaksakan dan perlu menjaga privacy subjek penelitian secara utuh. Hal-hal yang dapat menyinggung dan melukai hati subjek penelitian sebaiknya tidak dilakukan, karena akan berpengaruh terhadap srabilitas dan iklim hubungan antara peneliti dengan subjek penelitian. Menjaga hubungan harus tetap dilakukan sepanjang penelitian berlangsung bahkan hubungan tersebut akan dapat berjalan setelah penelitian selesai. Ibaratnya hubungan pertemanan, pada awal penelitian dimulai, peneliti menghadirkan dirinya sebagai teman bagi subjek penelitian dan ketika penelitian selesai, hubungan pertemanan akan tetap terjalin dengan baik. Inilah yang menjadi salah satu dampak positif dalam melakukan penelitian kualitatif, yaitu adanva hubungan relasi yang baik walaupun penelitian telah selesai dilakukan.
  4. Trust adalah sesuatu yang mutlak dicapai. Trust atau kepercayaan antara kedua belah pihak perlu terus dibina dan dijaga dengan baik. Trust adalah inti dari hubungan antara peneliti dengan subjek yang diteliti. Trust sangat memengaruhi validitas dan reliabilitas data hasil wawancara. Dengan trust, segala topeng dan kepurapuraan dapat diminimalisasi. Salah satu indikator sudah terciptanya trust adalah hasil rapport yang baik.
  5. Tetap menjaga jarak personal dan profesional dengan subjek penelitian. Sedekat apa pun hubungan yang telah berhasil dibina antara peneliti dengan subjek penelitian, peneliti tetap harus menjaga jarak personal dan profesional dengan subjek penelitian. Peneliti harus menentukan garis yang tegas antara dirinya dengan subjek penelitian. Hal ini terkait dengan fungsi peneliti dalam sebuah penelitian.

Terdapat tiga fungsi peneliti dalam penelitian, yaitu:
a) peneliti sebagai instrumen penggali data,
b) peneliti sebagai peneliti itu sendiri yang merupakan sutradara dari jalannya penelitian yang dilakukan,
c) peneliti sebagai evaluator yang mengevaluasi setiap bagian dalam penelitian.

Jarak personal dan profesional yang dibangun subjek penelitian akan memungkinkan tiga fungsi peneliti di atas tetap pada baris domainnya mnasing-masing, dan tidak saling tumpang tindih satu sama lain.

Tulisan ini dikutip dari buku “Wawancara, Observasi, dan Focus Group” oleh Haris Herdiansyah halaman 47-51. Diterbitkan oleh PT Rajagrafindo persada, tahun 2019. (*)

*Reporter: Nur Arrum Suci Katili