Buku "Filsafat Ilmu" oleh Jujun S. Suriasumantri. (Foto:

PROFESI-UNM.COM – Ada sebuah persepsi yang salah di masyarakat kita bahwa pengetahuan secara otomatis membentuk perilaku. Hal ini adalah tidak benar sebab pengetahuan tidak secara langsung membentuk perilaku melainkan lewat jembatan yang berupa pembentukan sikap. Pengetahuan mempunyai tiga ranah yakni kognisi, afeksi dan psikomotorik

Sikap mempunyai tiga ranah yakni kognisi, afeksi dan konasi (kecenderungan untuk bertindak). Peranan aspek afektif dalam sikap jauh lebih besar daripada pengetahuan, jadi transfer pengetahuan yang hanya bersifat kognitif saja, jelas tidak akan membentuk sikap. Pendidikan kita dewasa ini justru sangat berat kepada aspek kognitif dan bahkan kontra-afektif.

Materi pengajaran yang sangat banyak ditambah penyajian yang monoton akan membunuh rasa senang dan ketertarikan terhadap apa yang diajarkan. Buku pelajaran sekolah dasar, umpamanya, disajikan dengan sangat tidak menarik. Pelajaran yang sangat mudah dan elementer dibikin menjadi sulit dan menjemukan sesuai dengan pemeo orang jalanan “kalau bisa dipersulit mengapa dibikin mudah?”. Hal ini jelas tidak akan mengembangkan aspek afektif dan bahkan akan membunuhnya.

Saya tidak mengerti bahwa tidak ada seorang Menteri Pendidikan pun yang mengeluarkan peraturan bahwa hanya ada satu buku teks untuk satu mata pelajaran dan buku teks ini ditulis oleh orang-orang terbaik di negeri ini dengan memperhatikan kecanggihan materi keilmuan, teori pendidikan dan penyajian yang mengasyikkan. Kalau kita mendorong terbitnya buku pelajaran sebanyak-banyaknya maka pihak sekolah, atau pihak lain yang terkait, belum tentu memilih yang terbaik melainkan yang paling banyak memberikan discount.

Walaupun sikap telah terbentuk maka sikap juga tidak otomatis mendorong perilaku sebab sikap hanya mengandung perilaku yang bersifat potensial dalam aspek konasi (kecenderungan untuk bertindak). Untuk mengaktualisasikan sikap menjadi perilaku maka harus dikembangkan dua titik strategis baru yakni pengorganisasian nilai dan pembentukan kondisi objektif di lapangan.

Kedua titik strategis ini jarang kita singgung apalagi kita berdayakan padahal tanpa terwujudnya kedua titik strategis ini maka sikap takkan pernah teraktualisasikan daiam perilaku.

Kalau kita menginginkan terbentuknya manusia yang kritis, tetapi secara faktual orang yang kritis justru dibungkam, maka kondisi objektif untuk pembentukan sifat kritis ini tdak mendukung dan bahkan detrimental (berlawanan). Jadi strategi dalam mengaktualisasikan pengetahuan menjadi perilaku harus didukung oleh “totalitas upaya yang utuh dan berkesinambungan.”

Demikian juga halnya dalam pendidikan agama sekiranya keimanan yang berbasis pengetahuan ingin diaktualisasikan dalam taqwa yang berbasis perilaku maka “jembatan antara iman dan taqwa adalah hati (afektif) dan akal (rasionalitas).”

Tulisan ini dikutip dari buku “Filsafat Ilmu” oleh Jujun S. Suriasumantri. Pada halaman 486-487 Diterbitkan oleh Pustaka Sinar Harapan, Tahun 2017. (*)

*Reporter: Ema Humaera