PROFESI-UNM.COM – Perjalanan hidup Hendra Suwanda luar biasa menginspirasi ketika kuliah di Jurusan Akuntansi Universitas Tarumanagara (Untar), Hendra nyambi bekerja di sebuah perusahaan direct selling. Dia tidak digaji dan tidak mendapat uang transportasi. Dia hanya mendapat bayaran dari komisi. Hingga pada usia 30 tahun, Hendra yang hobi olahraga memberanikan diri untuk menjadi pemegang tunggal sistem pembersih ruangan dan udara dan menjalankannya hingga sekarang. Hendra dipercaya untuk membantu perluasan pemasaran produk asal Jerman ini hingga ke negara-negara Asia Tenggara, seperti Malaysia, Singapura, Filipina, dan yang akan datang Thailand, Vietnam, serta negara-negara lain.

Mengapa Akuntansi saat kuliah? Hendra mengaku saat lulus SMA, dia ingin kuliah di Jurusan Arsitektur atau Desain Interior. Sebelum mendaftar, dia dengan orang yang lebih tahu tentang dunia arsitek. Waktu itu arsitek tidak seperti sekarang yang fleksibel. Dahulu arsitek mendesain masih menggunakan meja gambar yang mahal. Nah, dengar kata “mahal” ini Hendra menjadi takut dan mengalihkan pilihannya dengan hal lain, yaitu Akuntansi. Mengapa Akuntansi? Hendra waktu itu merasa punya bekal jago Matematika. Dia pikir, di Akuntansi kelebihannya ini bakal terpakai karena banyak hitung-hitungan.

Kuliah di Untar mungkin sudah garis hidup juga bagi Hendra. Teman-temannya juga banyak yang mendaftar di kampus ini, dan kata orang, jurusan Akuntansi juga bagus. Dia pun masuk dan mendapat peringkat kedua sehingga mendapat keringanan, klop dengan maksud hati-nya. kuliah di luar negeri sebenarnya sangat menggebu waktu itu, tapi apa daya, biaya tidak ada.

Jiwa sales Hendra tumbuh di bangku SMA. Dia berlatar belakang dari keluarga yang biasa-biasa saja, tidak kaya juga tidak kekurangan. Untuk mendapatkan uang lebih, Hendra pun menjual barang apa saja yang bisa dibisniskan. Ambil contoh, waktu itu dia mendapat barang baju dari pabrik dan dikasih tempo dua minggu untuk menjual. Otak bisnisnya berjalan, dia memanggil teman-temannya untuk tidak menjualkan barang-barang tersebut dengan tempo satu minggu. Jika barang yang ada di teman tidak laku, dia ambil lagi dan disebar lagi dengan cara yang sama. Memang dia tidak mendapat untung besar, tapi cara ini terbukti efektif.

Aktivitas ini berlangsung hingga kuliah, bahkan sampai lulus. Apakah tidak gengsi? Rasa gengsi itu ada. Apalagi pada zaman dahulu, jualan itu berarti harus menenteng boks-boks besar. Pokoknya kerenlah. Namun, Hendra ngga peduli apa yang dipikirkan orang, yang penting jalan terus, Menurut Hendra, rasa malu dan gengsi itu akan hilang jika kita sudah melakukan hal-hal seperti itu setiap hari. Dia berpikir, dia akan lebih gengsi jika tidak punya uang.

Masih pada masa kuliah, dia iseng-iseng mendekati teman kuliah yang berpenampilan bagus, memakai baju bagus, celana, dan sepatu bagus. Kata yang terlontar dari mulut Hendra adalah, “Kerja di mana? Ajak-ajak, dong!” Dia pun diajak untuk bergabung di sebuah perusahaan penjualan langsung asal Amerika Serikat. Hendra pun mendekati salesman yang sukses di kantor tersebut. Dia yakin bahwa di setiap perusahaan pasti ada sales yang sukses dan dia harus belajar darinya. Memang betul, dia banyak mendapat inspirasi dari para salesman sukses hingga beberapa kali Hendra juga berhasil menyabet top sales di perusahaan itu.

Naluri bisnis Hendra berjalan lagi. Dia berpikir untuk meningkatkan penjualan dengan merekrut teman-teman kuliahnya. Sambil nongkrong di kantin kampus, dia mengajak teman-temannya untuk berjualan. Cara ini kembali terbukti sukses dan mungkin manajer termuda di Asia Tenggara pada waktu itu, Pada tahun 1991 usia Hendra baru 21 tahun dan penghasilannya sudah Rp3-5 juta per bulan, cukup bagus pada masa itu. Sukses di kampusnya sendiri, Hendra menjajah kampus lain untuk merekrut tenaga penjual. Dia pergi dari kantin ke kantin rekrut.

Masih tidak mau diam, Hendra memperbanyak jaringan dengan bergabung dengan teman-temannya untuk mendapatkan passive income. Jika dia berkeliling menawarkan produk, dia menawarkan jasa servis AC punya teman. Memang dia rugi uang dan rugi waktu, tapi dia tidak-lah rugi segala-galanya. Dengan tambah pekerjaan ini malah tambah ilmu, tambah jaringan, atau paling tidak jadi tahu kalau mau mencari AC yang murah harus ke mana. Nilai moralnya, dalam setiap hambatan atau kendala, pasti ada hal positif yang bisa diambil. Pada 1993 Hendra juga pernah jualan properti.

Ceritanya dia dipanggil oleh salah seorang developer untuk memasarkan produk. Keberuntungan datang waktu itu karena berhasil maupun tidak, dia mendapat gaji setiap hari meskipun dia hanya agen lepas. Kuncinya apa? Sebagagai penjualan, penampilan Hendra cukup menyenangkan, apalagibisnis properti tengah booming saat itu. Dalam seminggu dia pernah menceritakan menjual barang-barang mal saat bekerja di perusahaan penjualan langsung. Beruntung saya kerja saja dia menghasilkan 11,5 juta rupiah di kantone nya. Tentu saja trik-trik sales-nya yang cerdas selalu d pakai. Sukses menjual properti yang namanya terkenal di antara developer. Tawaran datang lagi dari pengembang besar Sebagai agen “tamu”, dia hanya boleh menjual produk yang besar-besar dan mahal karena jatah yang kecil untuk pemasaran inhouse. Entah bagaimana caranya, yang pasti dalam dua minggu menjual, sebuah mobil bisa terbeli oleh Hendra.

saat masih jualan door to door. Dia bilang, saat mengetuk rumah orang, yang keluar hanya tiga: anjing, pembantu, atau suster. Namun, bukan Hendra namanya jika menye-rah. Dia tetap yakin dengan passion-nya dan terbukti dia menjadi sesukses sekarang. Benarkah untuk menjadi sales butuh bakat? Kalau tidak ada bakat, berarti tidak bisa jualan, dong? Hendra menjelaskan bahwa semua orang punya bakat sales. Apa pun profesinya, untuk bisa bekerja pasti menawarkan keterampilan atau kelebihannya kepada orang lain. Nah, aktivitas ini sudah termasuk jenis penjualan atau penjualan meskipun belum digali lebih dalam seperti orang yang benar-benar bekerja di bidang penjualan.

Inilah TOP WORDS renungkanlah: “Pertama, jangan lupa dengan kedua orangtua. Kedua, meskipun kita merasa selalu kekurangan, alangkah senangnya jika setiap bulan kita berbagi dengan orangtua meskipun sedikit. Saya jamin, rezeki dan kesuksesan kita akan terus meningkat.” -Hendra Suwanda

Tulisan ini dikutip dari buku “Top Worlds 2: Kisah Inspiratif dan Sukses Orang-orang Top Indonesia” halaman 68-73 oleh Billy Boen yang diterbitkan oleh Penerbit B First (PT Bentang Pustaka). (*)

*Reporter: Mustika Fitri