Cyberbullying: Racun Social Media di Indonesia

Gaya Hidup, Health1 Dilihat

PROFESI-UNM.COM – Banyaknya berita mengenai issue publik figur yang bermunculan di sosial media membuat adanya sentimen negatif terhadap orang yang terlibat dalam skandal tersebut.

Hal seperti ini rupanya engga jarang kita temukan dalam dunia maya, di mana ketika seseorang terlihat salah di mata orang lain, orang tersebut akan mendapatkan tindak kekerasan digital yang dikenal dengan istilah cyberbullying

Menurut Unicef.org, cyberbullying (perundungan dunia maya) adalah bullying atau perundungan dengan menggunakan teknologi digital. Dalam hal ini, sosial media menjadi salah satu platform untuk melakukan tindakan negatif, seperti komentar kasar, ancaman, pelecehan, penghinaan, hoax, dsb. 

Sebagai platform yang membahas mengenai Mental Issue, kami ingin mempelajari lebih dalam siapa yang lebih sering mengalami serangan cyberbullying, siapa yang bertanggung jawab atas kasus cyberbullying, dan bagaimana citra “kesopanan” Indonesia di mata Dunia sebagai dasar korelasi antara perilaku netizen di media sosial dan kasus cyberbullying?

Data apa saja yang kami peroleh?

Berdasarkan subjek mengenai cyberbullying, kami memperoleh data dari tiga platform ternama, yaitu:

  • Microsoft (Digital Civility Index/Indeks Keberadaban Digital, kualifikasi usia yang paling banyak mengalami serangan digital, dan tindakan yang paling banyak dilakukan oleh netizen Indonesia ketika berselancar di dunia maya)
  • Unicef (Definisi cyberbullying, dampak cyberbullying untuk kesehatan mental)
  • U-Report Indonesia (Persentase tempat kekerasan digital terjadi, pihak yang bertanggung jawab atas kasus cyberbullying)

Penjelasan masing-masing data dari ketiga platform tersebut adalah sebagai berikut:

Kenalmental.com/Cyberbullying-di-Indonesia-Pengalaman-Perilaku-Tidak-Sopan-berdasarkan-riset-Microsoft

Berdasarkan Riset Microsoft

Riset ini dilakukan dalam kurun waktu Mei-April 2020, dengan tolak ukur  “Digital Civility Index” atau “Indeks Keberadaban Digital” yang menunjukkan tingkat keberadaban netizen dalam dunia digital. 

Hasilnya adalah netizen Indonesia masuk ke dalam urutan ke-29 atau ketiga terendah sebagai ‘netizen tidak sopan’. Riset ini dilakukan di 32 negara dengan jumlah total 16.000 responden dengan 503 netizen Indonesia. Faktor yang mempengaruhi penilaian ini adalah tindakan yang dilakukan ketika berselancar di dunia maya dan media sosial.

Kenalmental.com/Golongan-Usia-yang-paling-banyak-mendapatkan-perilaku-tidak-sopan

Untuk Indonesia, ketiga tindakan cyberbullying yang paling sering dilakukan adalah penyebaran hoax dan penipuan sebanyak 47%ujaran kebencian 27%, dan diskriminasi 13%. Tindakan ini dilakukan oleh 48% orang asing dan 24% terjadi dalam satu minggu.

Berdasarkan kualifikasi usia, Millennial (1980-1995) menjadi kelompok yang paling sering menjadi sasaran bullying di media sosial, angkanya mencapai 54%. Disusul oleh Generasi Z (1997-2000) 47%, generasi X (1965-1980) 39%, dan baby boomers (1946-1964) 18%.

Untuk Informasi tambahan, menurut laporan Polda Metro Jaya, terdapat seengganya 25 kasus yang dilaporkan setiap harinya. Angka ini terus meningkat, karena meningkatnya jumlah pengguna internet dan penanganan kasus cyberbullying yang masih belum efektif.

Hasil Survey yang Dilakukan oleh U-Report Indonesia

Kenalmental.com/Cyberbullying-di-Indonesia-Korban-Kekerasan-Digital-riset-U-Report

Survei ini melibatkan 2.777 responden Indonesia dengan 97% rating tanggapan. Hasilnya adalah 45% orang mengaku pernah mengalami kekerasan digital. 

Kenalmental.com/Plaftorm-Digital-Sebagai-Sarana-Cyberbullying-berdasarkan-riset-U-Report

Selain itu, kekerasan kerap terjadi di Jejaring sosial sebanyak 71%, aplikasi chatting 19%, game online 5%, youtube 1%, dan lainnya 4%. Dari total 97% ini, 34% responden engga mendapat layanan atau bantuan saat menjadi korban, serta 36% engga tahu informasi mengenai pusat bantuan mengenai cyberbullying.

Data lain mengungkapkan bahwa 39% netizen merasa pemerintah adalah pihak yang paling bertanggung jawab atas kasus-kasus cyberbullying. Diikuti 11% sekolah, 14% penyedia layanan internet, dan 36% anak muda.

Temuan dari Riset Unicef

Menurut Unicef.org, dampak yang ditimbulkan dari pengalaman negatif ini adalah: 

Secara mental

Adanya perasaan malu, bodoh, bahkan marah, baik ke diri sendiri maupun orang lain. Engga hanya itu, ada juga yang bisa menarik diri dari lingkungan, tiba-tiba jarang terlihat dan lebih suka menyendiri. Bahkan bisa sampai ke percobaan bunuh diri.

Secara emosional

 Hilangnya minat terhadap suatu hal. Mungkin ada beberapa di antara temanmu yang pernah menjadi korban bullying. Awalnya aktif, ceria, tapi lama kelamaan malah menjadi murung dan sensitif.

Secara fisik

Bermula dari overthinking terhadap masalah yang dihadapi. Kemudian menjalar ke tidur terus-menerus, malas makan, bahkan stres dan depresi. Tanpa sadar, hal ini bisa menyebabkan sakit. Bisa saja kamu merasakan sakit kepala, sakit perut, dan lain sebagainya.

Data Tambahan di Luar Platform Utama

Berdasarkan Dsla Law Firm, bentuk penindasan/cyberbullying ini ada 6, yaitu:

  1. Flaming 

Tindakan intimidasi yang bertujuan untuk memprovokasi orang lain dan menyinggung korban. Biasanya berbentuk kata-kata kotor dan penghinaan.

  1. Harassment 

Pelecehan dilakukan dengan adanya gangguan-gangguan seperti ancaman dan  penyebaran konten yang engga senonoh secara terus-menerus.

  1. Denigration 

Pencemaran nama baik merupakan perilaku mengumbar atau menyebarkan fitnah dengan tujuan untuk merusak citra dan reputasi orang lain. 

  1. Cyberstalking  

Cyberstalking adalah perilaku menguntit seseorang di media sosial. Biasanya disertai ancaman. Pelaku akan terus menghantui korban hingga keinginannya tercapai atau lelah dengan sendirinya.

  1. Impersonation 

‘Penyamaran’ atau ‘Peniruan’ seperti fake account ini juga biasanya mudah sekali ditemukan. Biasanya pelaku akan membuat email, mencuri foto dan mencuri identitas orang lain untuk mengirim pesan-pesan pemerasan atau pesan yang engga baik kepada orang lain.

  1. Outing and Trickery 

Hasil Riset yang Dapat Disimpulkan

Dikenal dengan istilah ‘tipu daya’, yaitu menyebarkan aib atau informasi pribadi berupa foto atau video tanpa meminta izin terlebih dahulu. Ini yang disebut outing, sedangkan tricky adalah cara pelaku memperoleh aib atau informasi tersebut. Bisa dengan cara berpura-pura menjadi teman.

Dari ketiga riset dan survey tersebut, kami merangkum kesimpulan menjadi: 

  • Indonesia menempati ranking ke-29 dalam hal ketidaksopanan di dunia maya. Dengan tolak ukur “semakin rendah rankingnya, semakin tinggi tingkat ketidaksopanannya”
  • berdasarkan kualifikasi usia, milenial dan generasi Z merupakan usia yang paling sering mengalami tindak cyberbullying. Usia kedua kelompok ini dimulai dari usia 41 tahun – 21 tahun, di mana golongan ini termasuk dalam kategori dewasa – anak muda.
  • Anak muda menjadi subjek utama dalam penyebaran kasus cyberbullying. Dilihat dari tingginya persentase jumlah anak muda yang mengalami kekerasan ini. Beberapa kasus yang terjadi juga menunjukkan bahwa korban bisa sekaligus menjadi pelaku. 
  • Tindak cyberbullying dilakukan oleh 48% orang asing dan 24% terjadi dalam satu minggu. Artinya, 52% dilakukan oleh orang yang kita kenal, seperti rekan kerja, teman, pasangan, dan keluarga. Selain itu, laju perkembangan kasus ini juga cepat meningkat hanya dalam waktu satu minggu saja.
  • Dari hasil riset U-Report Indonesia, 71% kekerasan digital terjadi di media sosial, di mana pengguna internet semakin banyak, namun penanganan kasus kriminal dan sosialisasi mengenai kasus dunia maya ini masih kurang efektif, serta rendahnya kesadaran akan bahaya cyberbullying.
  • Pemerintah dan anak muda adalah dua subjek yang paling berpengaruh untuk menurunkan tingkat kriminalitas dalam dunia digital.

Metodologi: Mencari keyword cyberbullying, anak muda, dan kesehatan mental, mengumpulkan data, dan compare data-data tersebut.


Sudah saatnya kita sendiri yang mulai menyadari racun dari tindakan cyberbullying ini. Dari pada jempol digunakan untuk hal negatif, lebih keren kalau kita sebarkan hal positif. Ingat, jejak digital akan susah dihapus dan akan terlihat oleh anak dan cucu kita. Juga, kalau kamu menjadi korban, jangan takut untuk speak up dan melapor ya.

*Tulisan ini telah terbit di website kenalmental.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.