Ilustrasi Perempuan yang menjadi objek humor seksis, (foto-Int)

PROFESI-UNM.COM – Humor seksis didefinisikan sebagai humor yang merendahkan, menghina, memberikan stereotip, memperdaya, dan atau mengobjektifikasi seseorang berdasarkan gendernya (LaFrance & Woodzicka, 1998).

Humor seksis termasuk ke dalam bentuk humor penghinaan. Humor penghinaan (disparagement humor) merupakan humor yang dimaksudkan untuk merendahkan beberapa kelompok sosial tertentu (Sriwattanakomen, 2017). Humor penghinaan mengandung sebuah paradoks karena secara bersamaan mengkomunikasikan dua pesan yang saling bertentangan.

Bagi sebagian orang humor seksis masih dianggap lucu dan menghibur. Sebagai contoh, salah seorang publik figure (komika) pernah mengunggah sebuah video berjudul “Nanya Ukuran BH” di kanal YouTube-nya. Dalam video tersebut Ia menanyakan ukuran bra kepada sejumlah perempuan, termasuk seorang remaja perempuan berusia 14 tahun.

Lebih jauh lagi, humor seksis juga tersebar luas melalui media sosial lain, seperti aplikasi WhatsApp. Aplikasi pesan instan untuk smartphone ini memberikan kemudahan kepada penggunanya dalam berkomunikasi dengan menyediakan fitur-fitur yang dapat mengirimkan pesan, foto, video, file, lokasi, serta masih banyak lagi.

Jika diperhatikan, humor (termasuk di dalamnya meme) yang diproduksi dan disebar melalui grup WhatsApp sering kali memuat postingan teks mengenai perempuan di ranah domestik, mengobjektifikasi tubuh perempuan, atau postingan gambar perempuan sedang melakukan sesuatu dengan pakaian minim.

Contoh humor seksis yang peneliti temukan, seperti ”Kamu kok marah-marah melulu, sih? Lagi mens ya?”. Ada pula yang mengobjektifikasi tubuh perempuan dengan suatu benda, seperti, “Jangan mau sama dia, dia mah itu-nya kecil.”, atau “Nyeplak, kamu tau nyeplak? Tau bakugan ga? Kalau dilempar jadi gini (bulat)” (merujuk pada salah satu anggota tubuh perempuan).

Ungkapan yang juga mengandung humor seksis pernah diceritakan oleh salah satu peneliti, Ia mengaku mendengar langsung ketika akan meminta perizinan ruangan, salah satu staf TU memberikan izin, namun diikuti dengan perkataan yang tidak sopan, yaitu “Boleh, asal celananya dicopot, eh sepatunya sembari tertawa.

Tulisan ini dikutip dari Artikel Humor seksis oleh SF Rahman pada halaman 1-3 tahun 2019. (*)

*Reporter: Resky Nurhalizah /Editor: Annisa Puteri Iriani