Kenali Academic Burnout, Fenomena Kelelahan Berkepanjangan

Gaya Hidup1 Dilihat

PROFESI-UNM.COM – Istilah burnout pertama kali dikemukakan oleh psikolog Herbert Freudenberger pada tahun 1974. Sindrom ini ia temukan sebagai hasil dari pengamatannya terhadap beberapa pekerja di sektor pelayanan tatap muka. Kebanyakan dari mereka mengalami stres akibat konflik dan tekanan di kantor.

Beberapa tahun kemudian, konsep burnout juga diteliti di sekolah. Hasilnya menunjukkan bahwa siswa juga dapat merasakan stres seperti pekerja. Academic burnout atau kelelahan akademik merupakan reaksi emosional, fisik, dan mental yang negatif terhadap studi yang berkepanjangan.

Faktor-Faktor Penyebab Academic Burnout

  1. Lack of Social Support (Kurangnya dukungan sosial)
    Kurangnya dukungan sosial telah ditemukan dapat meningkatkan burnout. Enam fungsi dukungan sosial, yaitu: mendengarkan, dukungan profesional, tantangan profesional, dukungan emosional, tantangan emosional, dan berbagi realitas sosial. Mendengarkan dalam artian memberikan saran atau membuat penilaian. Dukungan emosional dimaknai dengan adanya seseorang yang selalu mendampingi dan menghargai apa yang di lakukan.
  2. Demographic Factors (Faktor demografis)
    Burnout lebih mungkin terjadi pada pria daripada wanita dan individu yang masih lajang. laki-laki lebih rentan terhadap burnout daripada wanita. Laki-laki lebih membutuhkan dukungan dan bantuan sosial. Kurangnya dukungan sosial terhadap laki-laki dapat menyebabkan perasaan terasing dan kekecewaan, yang mengarah ke burnout.
  3. Kelebihan beban kerja.
    Dalam perspektif organisasi beban kerja berarti produktivitas, sedangkan dalam perspektif individu beban kerja berarti beban waktu dan tenaga. Setiap orang dituntut untuk melakukan banyak hal dengan waktu dan biaya yang terbatas. Akibatnya setiap pekerja mendapat beban yang seringkali melebihi kapasitas kemampuannya. Kondisi seperti ini menghabiskan banyak energi yang akhirnya menimbulkan keletihan baik secara fisik maupun mental.
  4. Kurangnya kontrol.
    Banyaknya tugas yang harus dilakukan membuat seseorang sulit menentukan prioritas, mana tugas yang dilaksanakan lebih dahulu karena seringkali banyak tugas yang harus menjadi prioritas karena tingkat kepentingan yang sama tingginya atau karena sama tingkat urgensinya. Ketika seseorang tidak dapat melakukan kontrol terhadap beberapa aspek penting dalam pekerjaan maka semakin kecil peluang untuk dapat mengidentifikasikan ataupun mengantisipasi masalah-masalah yang akan timbul. Akibatnya orang menjadi lebih mudah mengalami exhaustion dan cynicism.

Adapun beberapa tips mengatasi Academic Burnout yaitu:

  1. Buatlah Skala Prioritas: Dengan membuat skala prioritas, kita akan mengetahui hal apa yang akan kita kerjakan terlebih dahulu, sehingga energi kita tidak terkuras secara berlebihan.
  2. Membatasi Diri dari Orang yang Negatif: Orang yang selalu berpikiran negatif akan memperparah situasi dengan tidak memberikan solusi yang akan mempengaruhi emosional kita
  3. Ceritakan Kepada Orang Lain: Ceritakan permasalah yang dialami kepada orang terdekat dan terpercaya. Dengan menceritakan kepada orang lain, dapat mengurangi stress yang dirasakan.
  4. Melakukan Meditasi: Meditasi dapat membantu untuk merilekskan tubuh dan pikiran kita. Praktek ini dilakukan dengan posisi duduk dengan tenang dan mengatur pernafasan secara perlahan serta teratur selama 15-20 menit. Dengan meditasi, tubuh akan mengeluarkan hormon adrenalin. Hormon adrenalin muncul saat tubuh kita merasakan stress yang kemudian menyebabkan detak jantung, aliran darah, dan tekanan darah meningkat. Meditasi dapat dilakukan pada akhir pekan setelah mahasiswa dihadapkan dengan kesibukan perkuliahan di hari-hari sebelumnya.
  5. Olahraga Secara Rutin: Terdapat penelitian yang dilakukan oleh pakar kesehatan dari University of California, Alison Woolery, mengatakan bahwa 13 dari 28 orang yang diteliti telah mengalami penurunan depresi secara signifikan akibat dari olahraga yang rutin. Beberapa gerakan yoga dapat menambah produksi hormon serotonin, yang dikenal sebagai hormon pencipta rasa bahagia. Setelah berolahraga, otot akan melakukan relaksasi secara alami, terutama pada bagian bahu dan leher. Kedua bagian tubuh ini sering terasa kaku karena mahasiswa harus menatap layar laptop selama berjam-jam.
  6. Tidur yang Cukup: Salah satu permasalahan yang dialami mahasiswa yaitu begadang karena harus mengerjakan tugas. Kurangnya jam tidur akan menyebabkan kita menjadi cepat marah, sulit berkonsentrasi, dan stress. Mahasiswa dapat mengatasinya dengan cara tidak menunda mengerjakan tugas. Dengan tidur yang cukup, tubuh kita akan terasa bugar, sehingga dapat menjalani aktivitas dengan maksimal dan dapat menerima materi perkuliahan dengan baik.(*)

*Reporter: Hasnul/Editor: Murni

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.