Sambutan Wakil Rektor bidang Kemahasiswaan dan Alumni (WR 3) UNM, (Foto-Ist.)

PROFESI-UNM.COM – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Kajian Ilmiah Mahasiswa Bertakwa (LKIMB) Universitas Negeri Makassar (UNM) mengadakan kegiatan Empowering Women In The Society (EMPATI) National Competition pada Senin, (25/11).

EMPATI diselenggarakan mulai 20 oktober hingga 25 November 2021. Item kegiatan meliputi Lomba Esai dan Poster tingkat Mahasiswa se-Indonesia, Kampanye Anti Kekerasan terhadap Perempuan serta Diskusi Publik.

Diskusi Publik bertema “Hantu Pelecehan dan Kekerasan Seksual” dibawakan oleh Bapak Perdana Kusuma (Dosen Psikologi UNM) dan Olin Monteiro (Aktivis Perempuan dan Producer). Kegiatan puncak juga dirangkaikan dengan presentasi dan pengumuman juara kompetisi esai dan poster tingkat nasional.

Kegiatan ini diadakan untuk meningkatkan pemahaman mengenai kekerasan berbasis gender sebagai isu Hak Asasi Manusia (HAM) serta pemahaman mengenai resiko yang ditimbulkan oleh kekerasan dan pelecehan seksual terhadap perempuan.

Hasni selaku ketua panitia EMPATI menuturkan isu yang diangkat dalam kegiatan ini sangat penting dan krusial di tengah maraknya kasus mengenai kekerasan seksual.

“Kegiatan ini juga meningkatkan kualitas kreativitas dalam mengkaji masalah seks dan gender”, tuturnya.

Lebih lanjut, Majelis Tinggi UKM LKIMB UNM, Ismi Wulandari, mengatakan kasus kekerasan seksual ini tidak pernah padam untuk didiskusikan.

”Pelecehan seksual sangat dekat diri kita baik fisik dan psikis yang tidak diinginkan seperti kekerasan secara verbal serta ancaman pemerkosaan yang dilakukan secara sengaja oleh pelaku”, singkatnya.

Terakhir, Syahrul Gunawan selaku Ketua Umum LKIMB UNM mengungkapkan keresahan akan kasus kekerasan seksual yang marak terjadi ini dapat menimpa siapa saja, baik laki-laki maupun perempuan.

”Dengan adanya kegiatan ini diharap mampu membuka mata kita semua terkait permasalahan yang ada. Mampu menangani masalah ini dengan meningkatkan pengetahuan melalui pendekatan budaya, seperti penerapan budaya siri’ atau malu dalam masyarakat Bugis. Selain itu mengimplementasikan budaya 3S yakni Sipakatau, Sipakalebbi, Sipakainge yang artinya kita hidup untuk saling memanusiakan manusia, saling menghargai dan saling mengingatkan”, tuturnya. (*)

*Reporter : Andi Nurul Izzah Ilham