Chandra Wijaya saat membawakan materi di Webinar Nasional Business Project 2021 (Foto: Nur Qodriah Syafitri)

PROFESI-UNM.COM – Chandra Wijaya, Dekan Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Universitas Indonesia (UI) menyebut terdapat empat tantangan penting yang dihadapi oleh para pelaku bisnis saat ini, yaitu Revolusi Industri 4.0, distruptive innovation, digital ekonomi, dan new normal.

Hal itu diungkapkan dalam webinar Nasional Business Project 2021 Himpunan Mahasiswa Ilmu Administrasi Bisnis (HIMANIS) Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) Universitas Negeri Makassar (UNM), Selasa (23/11).

Revolusi industri 4.0 pertama kali diperkenalkan sejak tahun 2011 di Jerman sekaligus menjadi momentum penerapan ekonomi digital. Ada 5 tekonologi utama yang menopang atau mendorong penerapan industri 4.0 seperti IoT (Internet of Things), AI (Artifical Intelegence), machine learning, tekonoligi robotik dan sensor, serta teknologi 3D Printing.

Berdasarkan data dunia lembaga statistik Amerika Serikat, pada tahun 2018 penduduk dunia sekitar 7,53 Miliar. Dari jumlah tersebut lebih dari separuhnya sudah menggunakan teknologi internet.

Data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet di Indonesia, pendduduk Indonesia pada tahun 2018 mencapai lebih 264 juta jiwa, 64,8% sudah terhubung dengan jaringan internet, kemudian 74% itu berada di kalangan masyarakat perkotaan di pulau Jawa masih mendominasi lebih dari separuh, Sumatera 21,6%, Kalimantan 6,6%, Bali Nusa Tenggara 5,1%, Sulawesi, Maluku dan Papua sekitar 10,9%. Dari segi usia 49,5% rentang usia 19-34 tahun.

“Di era yang serba digital ini membuat perekonomian dunia termasuk Indonesia sudah masuk ke perekonomian digital. Transaksinya pertahun sudah mendekati angka 124 miliyar US atau 1.700 Triliyun rupiah,” ujar Chandra.

Kemudian Distruptive innovation yaitu inovasi yang membantu menciptakan pasar baru namun di sisi lain menganggu atau merusak pasar yang telah ada. Jadi produk yang lama, perusahaan yang lama, jaringan yang lama, aliansi yang lama terganggu dengan keberadaan inovasi-inovasi baru tersebut.

Di era digital ekonomi saat ini, produk ataupun jasa yang telah ada tergantikan dengan adanya kemajuan teknologi seperti ojek yang digantikan dengan grab dan gojek, bioskop-bioskop yang mulai sepi karena tergantikan oleh neftlix, dan berbagai bentuk usaha lainnya.

Kata Chandra, tantangan berikutnya yang dihadapi oleh para pebisnis saat ini yaitu New normal. Dampak dari pandemi ada 40 bisnis yang dibunuh oleh corona. Kemudian dampak terhadap sektor UMKM, 96% usaha pada level mikro atau sekitar 63 juta usaha mikro terkena dampak luar biasa. Kemudian dari penelitian BRI 84,7% merasakan dampak negatif, 13% netral, 2,3% dampak positif.

“Dari OJK (Otoritas Jasa Keuangan) dari datanya per Oktober 2020 mengatakan bahwa restrukturisasi kredit sebesar 369,8 Triliyun untuk 5,84 juta lebih turun yang berasal dari pelaku UMKM,” jelasnya.

Ia menjelaskan ada lima tantangan besar yang harus dipahami di era distruptif ini.
1) Jika ingin bersaing di masa distruptif inovation, maka kita harus membuat proses bisnis kita menjadi lebih simple, lebih sederhana sehingga dengan demikian terjadi yang namanya consent penghematan biaya.
2) Distruptif harus dapat membuat produk yang lebih berkualitas.
3) Distrupsi juga berpotensi menciptakan pasar baru, membuat psar menjadi tidak ekslusif lagi tapi inklusif
4) Produk atau jasa hasil distrupsi harus lebih mudah diakses atau dijangkau oleh para pengguanya. Seperti layanan ojek, taksi online, dll
5) Distrupsi membuat segala sesuatu menjadi lebih smart, lebih menghemat waktu.(*)

*Reporter: Nur Qodriah Syafitri/Editor: Agatoni Buttang