Direktur Industri Kreatif Film, Televisi, dan Animasi Kemenparekraf, Syaifullah Saat membawakan Materi di Webinar Nasional Business Project 2021 (Foto-Ist.)

PROFESI-UNM.COM – Direktur Industri Kreatif Film, Televisi dan Animasi Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) Syaifullah jadi salah satu pemateri dalam Webinar Nasional Business Project 2021. Kegiatan yang mengusung tema “Qua Vadis: Indonesia’s Economic” diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Ilmu Administrasi Bisnis (HIMANIS) di Bikin-bikin Creative Hub, Nipah Mall, Kamis (18/11).

Dalam webinar tersebut Ia membawakan materi “Menakar Laju Digital Ekonomi dan Potensi Virtual”. Penyebaran virus covid-19 memberikan dampak yang signifikan terhadap sektor perekonomian salah satunya pada sektor pariwisata yang memiliki efek berganda pada perekonomian negara, sebuah ekosistem besar yang ditopang oleh berbagai subsektor mulai dari akomodasi, transportasi, hingga usaha kecil dan menengah.

Pada sektor pariwisata terdapat beberapa kebijakan terhadap beberapa wilayah seperti (lockdown) dan pembatasan aktifitas sosial menyebabkan terputusnya mata rantai industri pariwisata.

Berdasarkan pernyataan menteri ekonomi kreatif Indonesia menyatakan dampak atas penurunan wisata mancanegara mencapai 75 persen dan wisatawan Nusantara sekitar 30 persen.

Sesuai penyampaian Kemenparekraf, Sandiaga Uno dalam siaran Pers Kemenparekraf 29 Juli lalu, ada 3 pilihan utama untuk pemulihan pariwisata dan ekonomi kreatif yaitu inovasi adaptif dan kolaborasi. Aspek inovasi, dengan memanfaatkan platform digital dalam memasarkan produk kreatifnya, sehingga layanan yang diberikan akan lebih maksimal. Aspek adaptasi, yakni menerapkan protokol kesehatan yang berlaku di era kenormalan baru. Sedangkan aspek kolaborasi yakni bekerja sama dengan seluruh unsur pentahelix, sehingga pemulihan dan kebangkitan di sektor parekraf dapat segera terwujud.

Untuk itu Syaifullah mengatakan ada beberapa strategi pemasaran untuk membangkitkan pariwisata di Indonesia, diantaranya:

  1. Mendorong vaksinasi untuk masyarakat
  2. Membuat protokol kesehatan atau panduan penerapan CHSE (Health, Safety, Sustainability, Environment)
  3. Membuat sertifikat CHSE untuk tempat-tempat pariwisata, restoran, dan subsektor lainnya
  4. Mendorong kepercayaan publik dengan mengundang model travelling ke tempat-tempat wisata dengan tetap menerapkan protokol kesehatan
  5. Memanfaatkan platfrom media sosial untuk promosi.(*)

*Reporter: Nur Qodriah Syafitri/Editor: Mustika Fitri