Buku Sejarah psikologi dari Klasik Hingga Modern, (Foto-Int.)

PROFESI-UNM.COM – Apa yang menyebabkan psikologi lebih fokus pada aspek negatif dari diri manusia? Menurut Seligman (2002), hegemoni psikologi yang lebih fokus pada aspek-aspek negatif manusia tersebut terjadi karena setelah Perang Dunia II, psikologi mendapatkan tugas berat untuk memulihkan psikologis masyarakat yang terkena dampak negatif perang. Pada saat itu, psikologi fokus pada pemulihan gangguan-gangguan psikologis yang dialami masyarakat, sehingga lupa dengan program-program pengembangan potensi-potensi positifnya. Menurut Seligman, tugas psikologi bukan hanya membantu kesembuhan orang-orang yang mengalami gangguan mental semata. Selain tugas tersebut, ada dua tugas lainnya yang terlupakan, yaitu membantu orang-orang untuk bisa hidup lebih produktif dan bermakna, dan mengidentifikasi serta mengembangkan potensi-potensi positif yang dimilikinya.

Menyadari fokus psikologi yang seperti itu, ditambah dengan hasil pengamatannya terhadap buruknya kondisi kesejahteraan psikologis masyarakat Amerika Serikat akibat pembangunan yang lebih berorientasi pada kesejahteraan ekonomi dan politik, Martin E.P. Seligman kemudian berusaha mengambil peran dalam menciptakan kehidupan yang lebih baik dengan mengembangkan psikologi yang fokus pada aspek positif dari manusia. Seligman percaya bahwa, ilmu psikologi dapat memberikan kontribusi berarti dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis masyarakat.

Martin E.P Seligman memperkenalkan idenya mengenai psikologi positif . pada tahun 1998-an, yaitu ketika memberikan pidato pengangkatannya sebagai presiden Asosiasi Psikologi Amerika (APA). Pada kesempatan tersebut, Seligman menyampaikan idenya untuk mengubah orientasi psikologi dari yang awalnya lebih fokus pada kekurangan dan psikopatologi menjadi lebih fokus pada kekuatan dan kehidupan positif. Tujuan utama psikologi positif tersebut tiada lain “… untuk mempercepat perubahan dalam psikologi dari psikologi yang dikuasai oleh perbaikan hal-hal buruk menjadi psikologi yang juga membangun kualitas terbaik dalam kehidupan” (Seligman, 2002: 3) atau untuk mengidentifikasi dan meningkatkan kekuatan dan keutamaan manusia sehingga membuat kehidupan yang berharga, dan memungkinkan individu dan masyarakat untuk maju (Froh, 2004: 18).

Bagi Seligman (2002), “psikologi bukan hanya studi tentang penyakit, kelemahan, dan kerusakan, psikologi juga merupakan studi tentang kekuatan dan keutamaan. Treatment bukan hanya untuk memperbaiki yang salah: tapi juga untuk membangun apa yang benar. Psikologi bukan hanya tentang penyakit atau kesehatan: tapi juga tentang pekerjaan, pendidikan, insight, cinta, pertumbuhan, dan permainan”. Hafferon dan Boniwell menyebutkan lebih lanjut bahwa psikologi positif tidak hanya fokus pada emosi dan pikiran positif saja, pun meliputi segala hal yang memungkinkan individu ataupun masyarakat berkembang dalam pengertian yang lebih luas. Individu dan masyarakat yang berkembang bermakna memiliki kesehatan mental yang tinggi, berkembang, terbebas dari gangguan mental, dan berfungsi secara positif baik secara individu ataupun sosial.

Ruang lingkup psikologi positif sendiri meliputi penelitian terhadap pengalaman subjektif yang bersifat positif, penelitian terhadap sifat-sifat positif seseorang, dan penelitian terhadap institusi yang memungkinkan munculnya pengalaman dan sifat positif. Hal itu senada dengan apa yang disampaikan oleh Hafferon dan Boniwell (2011) yang menyampaikan bahwa fokus penelitian psikologi positif terhadap tiga pengalaman positif di masa lalu (wellbeing dan satisfaction), sekarang (happiness dan flow), dan masa yang akan datang (optimism dan hope), baik pada tingkatan subjektif, individual, ataupun kelompok yang lebih besar.

Tulisan ini dikutip dari buku “Sejarah Psikologi dari Klasik Hingga Modern” oleh Agus Abdul Rahman pada halaman 330-332. Diterbitkan oleh Rajawali Pers, tahun 2017. (*)

*Reporter : Andi Nurul Izzah Ilham