Pengukuhan Anggota Baru Bengkel Sastra FBS (Foto:Ahmad Husen)

PROFESI-UNM.COM – Bengkel Sastra (Bestra) Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) kukuhkan 16 anggota baru Pappaseng lewat pementasan satra, musik, tari, dan teater. Pementasan dengan mengusung tema Sang Petuah ini diadakan di Gedung Kesenian Sulsel, Senin (15/11).

Ketua panitia, Syahrul menjelaskan tema dari angkatan Pappaseng sendiri merupakan turunan dari tema Sang Petuah atau petuah leluhur. Ide menggelar pementasan ini sebagai respon dari orang-orang yang sudah mulai melupakan petuah-petuah orang terdahulu.

“Turunan dari tema kami itu adalah sang petuah yang artinya adalah dalam pementasan ini diharapkan kami sebagai pementas itu adalah sebagai sang petuah kepada teman-teman, memberikan petuah-petuah leluhur untuk diingat kembali,” jelasnya.

Mahasiswa angkatan 2019 ini juga merincikan beberapa tahapan yang harus dilalui dari awal sampai pengukuhan anggota baru.

“Tahapan awal itu ada yang namanya pengkaderan (taaruf alam) kami itu diwajibkan untuk membuat sebuah penelitian yang sesuai dengan tematik angkatan kami yaitu pappaseng. Setelah penelitian sudah rampung kami mengadakan seminar karya yang dituangkan dalam bentuk pementasan yang melewati beberapa tahap yaitu tahapan latihan dan sebagainya sampai pengukuhan anggota baru,” ujar Syahrul.

Ia juga membeberkan tantangan-tantangan yang dihadapi sampai pada tahap pementasan. Mulai dari penggarapan yang kadang tak sesuai target waktu hingga kuragnya literatur Pappaseng.

“Dari segi penggarapan, penggrapan itu tidak serta-merta dalam satu minggu itu langsung selesai. Kadang diekpektasikan kurang dari satu minggu tapi ternyata selesainya satu bulan belum lagi latihan dan sebagainya. kemudian segi kemampuan literatur dalam menelaah pappaseng. Literatur pappaseng sangat sedikit sehingga kami sangat mengharapkan orang-orang tua yang mengerti sekali tentang pappaseng,” jelasnya.

Lebih lanjut, Ia mengatakan cara mengatasi tantangan tersebut dengan mengadakan workshop untuk menambah wawasan hingga observasi langsung ke tempat Pappaseng itu berada dengan mewawancarai orang-orang terdahulu.

“Untuk segi penggarapan, pertama kami meminta mengadakan workshop untuk memahami lagi wawasan-wawasan terkait penggrapan karya sehingga penggarapan karya kami itu terstruktur, rapi da sesuai dengan atrget penelitian kami. Kedua kami langsung turun ke lapangan ke tempat asal pappaseng itu berada misal di Bulukkumba, kami langsung mewawancarai orang-orang yang tua atau zaman dulu yang masih mengerti tentang petuah-petuahnya,” jelasnya.

Ia mengaku sedih karena sudah tidak bisa lagi merasakan seperti sekarang ini sekaligus senang karena rasa pahit dan rasa tidak enak dalam penciptaan karya sudah hilang.

Terkhir Ia berharap angkatan Pappaseng dapat menjadi kader yang bermutu, mampu menciptakan dan memanipulasi karya sesuai karakteristik kebudayaan Indonesia.

“Semoga angkatan kami, angkatan pappaseng ini menjadi kader angkatan yang memiliki mutu, mutu dalam artian mampu menciptakan karya, mampu memanipulasi karya sesuai dengan karakteristik kebudayaan Indonesia yang ada,” harapnya.(*)

*Reporter: Nur Qodriah Syafitri/ Editor: Sumaya Nursyahidah