Peringati Insting, Mahasiswa jurusan Penjaskesrek gelar aksi. (Foto: Wahyu R - Profesi)

PROFESI-UNM.COM – Tepat hari ini, tujuh tahun lalu terjadi suatu tragedi yang disebut dengan Insiden 13 November Gunung Sari (Insting). Insiden ini terjadi akibat dari tindakan represif dan kekerasan aparat yang merespon unjuk rasa yang dilakukan di depan menara Pinisi Universitas Negeri Makassar (UNM).

Insiden ini berawal dari unjuk rasa mahasiswa di Makassar yang menolak rencana pemerintah untuk kembali menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Bukan hanya di Makassar unjuk rasa hampir terjadi di seluruh wilayah di Indonesia. Pasalnya, kebijakan tersebut dinilai dapat berdampak negatif terhadap masyarakat dan diyakini akan diikuti dengan kenaikan kebutuhan lainnya, seperti kebutuhan pokok, tarif transportasi, dan tarif listrik.

Unjuk rasa yang dilakukan di depan menara Pinisi UNM ini semula berjalan lancar namun beberapa mahasiswa mulai melakukan tindakan anarkis seperti merusak stasiun pengisian bahan bakar dan memblokade jalan. Kericuhan tak terhindarkan saat aparat kepolisian yang ingin membubarkan massa aksi justru terprovokasi oleh mahasiswa.

Aparat kepolisian yang sebagian besar merupakan pasukan Brimob Polda Sulsel merespon dengan memaksa masuk ke dalam kampus, mengejar dan menangkapi sejumlah mahasiswa, menembaki gas air mata ke dalam kampus dan kelas-kelas disaat proses perkuliahan sedang berjalan dan juga melakukan perusakan terhadap terhadap fasilitas kampus. Aparat juga sempat memukuli beberapa mahasiswa dan juga merusak beberapa motor massa aksi yang terparkir di depan kampus.

Sebanyak 46 mahasiswa ditangkap pada insiden ini. Sembilan Jurnalis yang sedang meliput unjuk rasa saat itu juga tak luput dari amukan aparat kepolisian. di sisi lain Wakil Kepala Polrestabes Makassar, Totok Lisdiarto terluka akibat terkena anak panah saat bertugas di lokasi unjuk rasa.(*)

*Reporter: Fahmi Usta Wardani Bahtiar