Grafis kekerasan seksual di kampus. (Desain: Dok-Profesi)

PROFESI-UNM.COM – UNM tak lagi aman. Sejumlah kasus pelecehan seksual terjadi. Mulai dari modus saat konsultasi hingga pemaksaan pada korban. Banyak di antara penyintas mengaku trauma dan ogah melanjutkan kuliah. Ini kasus klasik. Pimpinan kampus belum juga memberi sanksi kepada pelaku dan perlindungan kepada korban.

“Tangan saya digenggam, lalu dirangkul hingga mengelus paha saya.”

Itulah potongan pembicaraan korban saat bertemu dengan tim Profesi. Kejadian yang menimpa Mawar (bukan nama sesungguhnya) saat dirinya konsultasi dengan dosen pembimbing, sebut saja Joko. Dikarenakan perlakuan dosen tersebut kepadanya, Mawar tak ingin lagi mendatangi ruangan Joko sendirian, Ia selalu ditemani oleh sahabatnya.

Cerita Mawar dimulai dirinya ketika janjian dengan Joko untuk konsultasi yang kesekian kalinya di Pascasarjana UNM, sekitar pukul 10.00 pagi pada Maret lalu. Ia memasuki ruangan Joko. Kala itu, pria berumur tersebut meminta Mawar duduk di sampingnya. Tak menaruh curiga, Mawar mengikuti permintaan sang dosen.

Tubuh Joko sengaja dimepetkan dengan tubuh Mawar di kursi yang mereka duduki berdua. Tak berlangsung lama, tiba-tiba Joko melancarkan aksinya. Ia mulai menyentuh tangan kanan Mawar sambil mengelus-elus. Tak puas dengan itu, Joko sedikit geregetan hingga merangkul mesra Mawar, hampir semenit Ia menikmati bahu Mawar.

“Rapikan bajumu, cantik juga ini baju mirip jaring,” Joko berbicara seperti itu dengan tatapan tajam di bagian dada Mawar lalu kembali menggenggam tangan mahasiswa semester 7 itu. Joko juga mengomentari tubuh Mawar yang kegemukan.

Mawar menceritakan secara detil seluruh kejadian yang menimpa dirinya dengan awak Profesi (Jumat, 15/10). Sebulan kemudian, Mawar kembali ke ruangan sang Dosen. Lagi-lagi Joko meminta Mawar mendekat kepadanya. Beberapa menit konsultasi, Joko kembali memegang tangan Mawar, lalu merangkulnya dengan spekulasi memperbaiki baju Mawar.

Pada konsultasi berikutnya, Mawar kembali menemui Joko di tempat yang sama, seperti sebelumnya. Joko sepertinya memang tak mau membimbing jika Mawar tak merapatkan tubuhnya ke Joko. Kali ini, Joko terbilang cukup nekat.

Rasa cemas menggerogoti perasan Mawar kala itu. Seperti siklus sebelumnya, usai memegang tangan, ia merangkul Mawar dengan cukup lama. Yang tak pernah diduga, Joko melancarkan aksinya dengan memegang paha Mawar. Ia elus berulang-ulang hingga hampir menyentuh area sensitifnya. Mawar mengaku tak berani menolak karena ketakutan.

Akibat kejadian itu, Mawar mengaku sangat trauma hingga berencana tidak lagi melanjutkan proposal yang selama ini dikerja.

“Takut ma ketemu sama Pak Joko tidak mau ma lanjut proposal ku,” tapi sahabatnya yang selalu setia menemani Mawar tak henti menyemangatinya.

Dugaan pelecehan rupanya tak hanya dilakukan oleh Joko. Kejadian serupa pernah dirasakan alumni UNM, Puspa (samaran) alumni tahun 2015 ini mengaku dilecehkan saat tengah konsultasi skripsi. Puspa menceritakan kejadian ini ke awak Profesi. Namun Ia enggan membeberkan siapa oknum dosen tersebut.

Kepada Profesi, Puspa mengaku pernah diajak dosen pembimbing untuk konsultasi di hotel. Usut punya usut, Mawar adalah sahabat Puspa. Dari situlah, Puspa menceritakan hal serupa.

Meski tidak sempat memenuhi permintaan tersebut, kata Mawar, namun sampai sekarang, Puspa masih trauma terhadap dosen tersebut. Puspa bahkan menitip pesan ke Mawar dan teman-temannya, agar berhati-hati jika berurusan dengan pelaku. “Hati-hati nah sama dosen itu, karena sering itu panggil mahasiswanya konsul di hotel,” kata Mawar menirukan Puspa.

Senior LK Paksa VCS Hingga Minta Datang ke Indekos

Kasus kekerasan seksual juga melanda gadis lugu dari FBS, sebut saja Cindy. Gadis asal Mamuju ini memulai ceritanya dengan sedikit termenung saat tim Profesi menemuinya di Indekos. Ia terlihat sedikit ketakutan untuk memulai pembicaraan. “Ada chat-ka begini, takut ka,” terang Cindy terbata-bata.

Awal tahun menjadi momen terburuk yang dialami mahasiswa semester 3 ini. Kepada Profesi, Ia mengaku pernah dilecehkan dengan modus Video Call Sex (VCS). Pelakunya adalah senior sendiri di organisasi.

Sebagai mahasiswa baru yang belum pernah duduk di bangku kelas karena angkatannya harus menjalani kuliah daring, tentu kampus begitu asing baginya. Berkali-kali Cindy memperlihatkan chat pelaku kepada jurnalis Profesi.

Chat tersebut berisi pesan untuk meminta Cindy untuk melayani dirinya VCS, kala itu dirinya masih berstatus mahasiswa baru. VCS adalah salah satu cara melakukan hubungan intim tanpa bersentuhan. “Lewat chat senior itu paksa saya VC dan menanggalkan baju,” katanya.

Siang itu, sang senior berulang kali mengirim pesan WA kepada penyintas. Lagi-lagi Cindy mengaku sangat ketakutan. Bagaimana tidak, Cindy kerap diancam oleh senior itu jika tak mengikuti permintaannya. Bahkan, hari itu terlihat pesan yang dikirim sedikit meneror Cindy. “Saya tunggu ko di sekret,” begitu kata seniornya.

Untungnya, meski berulang lagi diminta untuk telanjang dalam video call, Cindy berhasil menolak dan melawannya.

Belakangan, Ia tahu jika pelaku adalah seniornya, karena pelaku mengancam akan mencari Cindy di sekretariatnya. Mahasiswa angkatan 2020 ini pun memblokir nomor pelaku dan tak pernah lagi muncul di kampus hingga saat ini.

“Sekarang saya trauma dan takut ke kampus. Entah di mana saya harus meminta perlindungan,” ujarnya.

Meski tak sampai dilecehkan secara fisik, Cindy trauma. Ia mengaku takut jika harus berhubungan dengan seniornya di kampus.

Pengalaman buruk juga dialami Agnes (bukan nama sebenarnya), mahasiswa FT ini menceritakan kejadian itu sewaktu dirinya masih berstatus siswa kelas 3 SMP di Kota Makassar. Agnes dirinya dilecehkan oleh salah satu mahasiswa PPL-UNM di sekolahnya. Kejadian berawal saat pelaku, sebut saja namanya Bambang, melaksanakan program KKN-PPL di sekolah Agnes pada 2017 lalu.

Kala itu, Bambang menjadi guru PPL di bidang olahraga. Tertarik dengan penampilan Agnes, Bambang melancarkan aksinya dengan modus mengirim pesan singkat.

Saat tim Profesi menemuinya di sebuah Kafe, Agnes tak sendirian, Ia ditemani oleh sepupunya. Ia tampak malu-malu menceritakan kronologi kasus pelecehan yang dialaminya. Bahkan, Ia memulai cerita itu dengan meneteskan air mata.

“Besar anumu?,” begitu pesan singkat yang dikirim Bambang untuknya. Pertanyaan itu menghantam batinnya. Meski begitu, awalnya mahasiswa angkatan 2021 ini tak menaruh curiga sama sekali.

Tak sekadar bertanya soal bagian sensitivitas wanita, Bambang juga kerap meminta Agnes datang ke indekosnya. Belum lagi, setiap bertemu tatapan Bambang membuat Agnes tak nyaman.

“Sering ka na lihat-lihat saat pelajaran olahraga, pas dia ngajar. Tapi nda terlalu ku respon,” ujar Agnes  saat Oktober lalu.

Meski selalu ditolak Agnes, Bambang tak menyerah. Ia terus mencari cara agar bisa menemui Agnes, berbagai alasan pun direncanakan, termasuk persoalan tugas di sekolah. “Sering ka disuruh urus absennya, tapi alasan ji saja untuk ketemu biasa,” katanya.

Kekhawatiran Agnes ke sikap Bambang pun terbukti. Bambang melecehkan Agnes di indekosnya. Di tengah siang bolong, nyaris saja Agnes diperkosa oleh Bambang. Meski sempat diraba di bagian dadanya, Agnes mampu mencegat niat busuk si Bambang. Untung saja, Agnes mengancam untuk berteriak jika Bambang melanjutkan tindakan tak senonohnya. Alhasil, gadis kelahiran Makassar berhasil melepaskan diri dari jebakan Bambang.

“Trauma ka sekarang kak, saya tidak berani lagi bertemu dengan orang baru. Saya jadi pendiam karena bayang-bayang kakak itu,” begitu kata Agnes sambil menghela napas panjang.

Dosen LGBT Incar Mahasiswa Pria di FMIPA

Berbeda dengan sebelumnya, kabar pelecehan seksual sesama jenis menyeruak di FMIPA. Tak hanya dilecehkan Andi (bukan nama sebenarnya) menuturkan dirinya dicabuli oleh oknum dosennya. Saat ditemui Profesi akhir September lalu, Andi bercerita bahwa sang dosen punya kelainan seksual.

Andi memulai menceritakan bahwa oknum tersebut melancarkan aksinya dengan memantau grup kelas-kelas yang ada di jurusannya. Setelah itu, sang dosen membuat grup khusus yang berisi mahasiswa laki-laki. Menurut pengakuan Andi, awalnya hanya diundang di sebuah grup WhatsApp berisikan mahasiswa baru dan si dosen itu sendiri. Modusnya, grup dibuat untuk diskusi mata kuliah dosen itu. Namun anehnya, semua anggota grup itu hanyalah mahasiswa laki-laki.

Singkat cerita, oknum dosen itu mengajak Andi untuk menemaninya di hotel. Awalnya Andi tidak tahu tujuan dosen mengajaknya. Tanpa rasa curiga sama sekali, Andi pun menemui dosennya. Di hotel itulah, si dosen mencabuli Andi. Sempat melawan, Andi tak kuasa menahan paksaan dosennya itu.

“Saya diancam, jika tak menuruti kemauannya maka akan diberikan nilai eror,” beber Andi. Akibat kejadian itu Andi mengaku trauma, bahkan mengalami gangguan mental. Belakangan, Andi juga baru mengetahui, dosen tersebut memang sudah sering melancarkan aksi bejatnya pada mahasiswa baru.

Kejadian itu terus berlanjut, Andi bahkan dicabuli berulang kali, mulai di laboratorum kampus hingga selalu berakhir di kamar hotel. Meski melewati fase yang tidak mengenakkan di kampusnya, ahasiswa tersebut sudah berhasil menyelesaikan studinya.

UNM Tak Punya Aturan Tegas Atasi Pelecehan Seksual

Kasus pelecahan seksual yang marak terjadi di kampus menjadi tamparan keras bagi UNM. Birokrasi dinilai belum mampu mengatasi berbagai kasus yang mulai banyak bermunculan.

Tak banyak tindakan yang bisa dilakukan pimpinan kampus. Lambannya proses dalam mengambil sikap semakin menegaskan. Dari rangkaian kasus yang terungkap, hanya satu mampu ditangani. Belum adanya kajian mendalam terkait Permendikbud Nomor 30 tahun 2021 di kalangan birokrasi ditengarai menjadi penyebab.

“Peraturan menteri yang baru saja dikeluarkan memang merupakan angin segar bagi kampus, agar bisa lebih baik lagi dalam menyikapi kasus. Itu aturan baru sehingga perlu pendalaman dan kajian lebih lanjut,” kata Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan saat bertemu dengan awak Profesi.

Jeratan sanksi diberikan program studi pun masih dalam kategori ringan. Pelaku kali ini tak lagi diberikan izin untuk mengajar mahasiswa strata satu, plus kewenangannya menjadi dosen pembimbing juga dihilangkan. Sukardi Weda menilai, hukuman ini sudah lebih dari cukup untuk mengganjar perilaku pelecehan seksual oleh dosen tersebut.

“Sanksi yang kemarin diberikan di FBS sudah cukup memberatkan bagi pelaku. Terutama dalam sanksi sosial,” ungkapnya.

Presiden BEM FIS-H, Fahmi, pun angkat bicara melihat kerja birokrat melihat kasus pelecehann seksual.

Hingga kini Ia masih menganggap jika birokrat masih cenderung santai dalam mengatasi kasus pelecehan seksual yang terjadi di lingkungan kampus.

“Miris sih ingat kasus yang beredar di kampus tentang kekerasan seksual, saya yakin sebelum ada yang speak-up, kejadian seperti ini sudah terjadi sebelumnya. Harusnya ada aturan jelas dari birokrat terhadap kasus ini, supaya jera. Kalau pimpinan tidak mengambil sikap tegas, saya takut nantinya kasus ini terus berlanjut di UNM,” katanya.

Permendikbud Harus Segera Diterapkan

Penindakan terhadap pelaku pelecehan seksual kini bisa ditindak dengan tegas lewat Peraturan Menteri (Permen) Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi. Aturan ini bisa jadi payung hukum untuk menindak pelaku, agar kasus memalukan itu tak terjadi lagi.

Permen itu berisi 9 bab dengan 57 pasal, yang mengatur pencegahan dan penanganan kekerasan seksual, satuan tugas pencegahan dan penanganan kekerasan seksual, hingga perihal pemantauan dan evaluasi dari pencegahan dan penanganan kekerasan seksual.

Mengenai penanganan kasus, dalam Pasal 10 disebutkan perguruan tinggi wajib melakukan penanganan KS melalui mekanisme pendampingan, perlindungan, pengenaan sanksi administratif, dan pemulihan korban.

Adapun sanksi yang berlaku yaitu, pelaku dapat diberikan sanksi administratif ringan, sedang, dan berat. Sanksi administratif berat berupa mengeluarkan mahasiswa atau memberhentikan tenaga pendidik dari jabatannya di kampus.

Mendikbud, Nadiem Makarim mengatakan aturan ini dibuat untuk memberikan korban pemulihan dan perlindungan. Karena melindungi masa depan korban adalah priotitas utama dari kementrian.

“Ada penjabaran secara spesifik tentang perilaku yang dimasukkan dalam kategori kekerasan seksual,” ujar dalam acara Mata Najwa, Rabu, 10 November 2021.

Lebih lanjut, Nadiem menyebut aturan ini diklaim akan memberikan keadilan penuh ke korban. Kampus lewat satgas dituntut memberikan tindakan dan sanksi yang jelas kepada pelaku.

“Akan ada satgas yang bertanggungjawab melakukan semua pelaporan, perlindungan, pemulihan, monitoring hingga rekomendasi sanksi,” jelasnya.

Sejalan dengan itu, Ketua Umum LKIMB Syahrul Gunawan menyebut permen tersebut merupakan langkah tepat, terutama dalam hal pemecatan karena bila tidak dipecat, dikhawatirkan akan berdampak ke depannya, khususnya bagi korban.

“Permen ini memuat wewenang kampus membuat satuan tugas yang berasal dari sivitas kampus, sehingga orang yang dipilih mengisi jabatan tersebut harus yang mumpuni dan berintegritas,” jelasnya.

*Tulisan ini telah terbit di Tabloid Profesi edisi 252