Asumsi-asumsi Dasar Konseling

PROFESIWIKI1 Dilihat

PROFESI-UNM.COM – Kita menyadari bahwa konseling dan psikoterapi dalam beberapa hal dibedakan tetapi pada saat lain dipandang sama. Keduanya dapat kita bedakan sebagai rambu-rambu pekerjaan dikatakan sebagai konseling dan psikoterapi, meskipun tidak terlalu tegas penggunaan keduanya.

Sebagai penegasan atas batasan konseling, Blacher (George dan Cristiani, 1990) mengemukakan lima asumsi dasar yang secara umum dapat membedakannya dengan psikoterapi. Kelima asumsi ini adalah sebagai berikut.

  1. Dalam konseling, klien tídak dianggap sebagai orang yang sakit mental, tetapi dipandang memiliki kemampuan untuk memilih tujuan, membuat keputusan dan secara umum menerima tanggung- jawab dari tingkah lakunya dan perkembangannya di kemudian hari.
  2. Konseling berfokus pada saat ini dan masa depan, tidak berfokus pada pengalaman masa lalunya.
  3. Klien adalah klien, bukan pasien. Konselor bukan ficur yang memiliki otoritas tetapi secara esensial sebagai guru dan patner klien sebagaimana mereka bergerak secara mutual dalam men- definisikan tujuan.
  4. Konselor secara moral tidak netral, tetapi memiliki nilai, perasaan dan standar untuk dirinya. Konselor tidak seharusnya menjauhkan nilai, perasaan dan standar itu dari klien, dia tidak mencoba menyembunyikar kepada klien.
  5. Konselor memfokuskan pada perubahan tingkah laku dan bukan hanya membuat klien menjadi sadar.

Rambu-rambu yang dikemukakan Blacher ini dapat menjadi acuan dalam penyelenggaraan konseling, yang secara khusus memiliki penekanan tertentu dibandingkan dengan praktik psikoterapi yang telah berlangsung selama ini.

Latipun. Psikologi Konseling. 2017. Diterbitkan oleh UMM Pers. (*)

Reporter: Muh. Ilham Raihan Yusuf.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.