buku “Psikologi Industri dan Organisasi” yang ditulis oleh Sutarto Wijono. (Foto: Int.)
buku “Psikologi Industri dan Organisasi” yang ditulis oleh Sutarto Wijono. (Foto: Int.)

PROFESI-UNM.COM – Setiap individu dalam melakukan aktivitas akan berusaha untuk mencapai tujuan tertentu. Namun, dalam setiap usaha yang dilakukan oleh individu tidak akan selalu berjalan sesuai dengan rencananya. Oleh karena itu, ada individu yang dapat mencapai tujuannya sesuai dengan rencana yang sudah ditetapkan. Sebaliknya ada juga individu yang tidak dapat mencapai tujuannya dengan baik. Situasi ini dapat menyebabkan individu mengalami frustrasi.

Adapun faktor-faktor yang dapat memengaruhi frustrasi, yakni:

  1. Tingkat Kebutuhan Individu
    Dalam setiap individu tentu mempunyai berbagai kebutuhan yang berbeda satu sama lain yang urutan tingkat prioritasnya pun akan berbeda juga. Namun demikian, tidak setiap kebutuhan akan dapat terpenuhi dan terpuaskan olehnya.

Oleh karena itu, Maslow (dalam Wijono, 2007) yang terkenal dengan “Hierarki Kebutuhannya”, mengungkapkan tingkatan kebutuhan dalam kaitannya dengan ketidakbermaknaan hidup sehingga mengalami frustrasi sebagai berikut:

a. Kebutuhan fisiologis (physiologycal needs).
Kebutuhan fisiologis ini merupakan kebutuhan tingkat pertama yang paling rendah dan paling dasar bagi individu yang harus dipenuhi, sebelum dirinya mencapai kebutuhan pada tingkat yang lebih tinggi.

b. Kebutuhan akan rasa aman (safety needs).
Rasa aman adalah kebutuhan dasar tingkat kedua yang harus dipenuhi oleh individu setelah kebutuhan tingkat pertama telah dipenuhi. Kebutuhan yang termasuk dalam kebutuhan rasa aman ini adalah kestabilan, ketergantungan, perlindungan, bebas dari rasa takut, dan ancaman. Termasuk juga kebutuhan dalam mematuhi aturan yang tidak tertulis atau tata tertib secara normatif, struktural, dan undang undang.

c. Kebutuhan sosial (social and belongingness needs).
Setelah kedua tingkat kebutuhan sebelumnya, yaitu fisiologis dan rasa aman telah dicapai dan dipuaskan oleh individu, maka individu mempunyai kebutuhan untuk memenuhi dan memuas kan kebutuhan ke tingkat berikutnya, yaitu kebutuhan akan sosial dan kasih sayang (social and belongingness).

d. Kebutuhan harga diri (self esteem needs).
Harga diri adalah salah satu kebutuhan tingkat tinggi individu adalah kebutuhan harga diri. Kebutuhan harga diri ini dapat dibagi menjadi dua kategori. Pertama, kebutuhan terhadap kekuasaan, berprestasi, pemenuhan diri, kekuatan dan kemampuan untuk memberi keyakinan dan kehidupan serta kebebasan. Kedua, ada lah kebutuhan terhadap nama baik (reputation) atau prestise.

e. Kebutuhan aktualisasi diri (self actualization needs).
Akhirnya, kebutuhan aktualisasi diri atau perwujudan diri merupakan kebutuhan tingkat kelima yang paling tinggi bagi individu yang juga ingin dipenuhi dan dipuaskannya. Pada peringkat ini setiap individu dalam memenuhi kebutuhan ini sangat berbeda satu sama lain.

  1. Derajat tambahan untuk mencapai tujuan yang diinginkan
    Pada dasarnya, derajat tambahan yang dibutuhkan setiap individu dalam mencapai tujuan yang diinginkannya berbeda-beda. Ketika, seorang ingin mendapat peluang menjadi seorang pemimpin, maka Ia akan berusaha keras untuk meningkatkan dirinya melalui belajar keras dengan meningkatkan pengetahuan, dan keahliannya agar dapat memenuhi kualifikasi sebagai seorang kepala bagian. Sehingga tujuan yang dinginkannya dapat tercapai.
  2. Kekuatan Motivasi
    Motivasi setiap individu dalam melakukan pekerjaan akan berbeda satu sama lain. Namun demikian, kekuatan motivasi yang ada di dalam perilakunya dapat dibagi menjadi dua komponen, yaitu dorongan dan penghapusan. Ketika seseorang mendapat tugas yang lebih menantang dari atasannya, maka Ia akan terdorong untuk dapat mengerjakan dengan baik tugas tersebut.
  3. Sifat yang dirasakan sebagai suatu hambatan atau pembatas
    Sifat yang mendasar dalam diri individu dapat dirasakannya sebagai suatu hambatan atau pembatas untuk melakukan tugas. Ketika individu merasa bahwa dirinya mempunyai sifat yang mudah putus asa dan tidak percaya diri, maka Ia akan mengalami hambatan yang cukup serius untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh atasannya.
  4. Karakteristik Kepribadian Individu
    Karakteristik kepribadian individu yang positif seperti mempunyai kepercayaan diri, motivasi berprestasi yang tinggi, berambisi untuk maju, memiliki keberanian dan tanggung jawab, dan asertif, maka ia akan terdorong untuk mencapai keberhasilan ketika ia mendapat tugas yang sulit dan menantang.

Adapun cara untuk mengurangi frustasi adalah:

  1. Penarikan, Seleksi, dan Pelatihan yang Efektif
    Setiap perusahaan perlu melakukan perencanaan strategis untuk menjaring calon karyawan yang potensial. Tugas perencanaan tersebut perlu dilakukan oleh manager sumber daya manusia.
  2. Rancangan Kerja dan Organisasi Kerja
    Salah satu tugas dan tanggung jawab adalah melakukan penyusunan rancangan kerja (job design) dan organisasi kerja (job organizational) yang efektif. Rancangan kerja dan organisasi kerja ini memberi perhatian pada hubungan antara para karyawan dan sifat serta isi tugas-tugas, dan fungsi-fungsi tugas mereka.
  3. Kebijakan-kebijakan Pribadi yang Sesuai
    Kebijakan-kebijakan pribadi yang sesuai dengan tujuan perusa haan akan sangat menolong memperlancar peningkatan produktivitas kerja suatu organisasi.
  4. Pengakuan dan ganjaran/hadiah
    Pengakuan atas hasil kerja karyawan secara tepat akan dapat meningkatkan produktivitas kerjanya. Salah satu strategi untuk men capai hal tersebut adalah menciptakan persaingan kerja yang sehat dan kompetitif di antara karyawan, dan memberi pengakuan secara adil kepada setiap karyawan yang berhasil atau gagal dalam mencapai target yang diberikan oleh pihak perusahaan dalam hal ini pimpinan atau manajer adalah memang diperlukan.
  5. Komunikasi yang efektif
    Komunikasi timbal balik yang efektif antara atasan dan bawahan dapat memperlancar terjadinya pemahaman di antara kedua belah pihak. Sehingga jika terjadi kesalahan komunikasi antara atasan dan bawahan dapat segera dapat diatasi dengan baik.
  6. Gaya partisipasi dari manajemen
    Gaya partisipasi dari pihak manajemen adalah salah satu gaya yang dapat mengurangi timbulnya frustrasi. Ketika atasan melihat bahwa bawahannya kurang dapat menyelesaikan persoalan dalam kelompoknya, maka atasan mencoba untuk menawarkan solusi dengan cara melakukan partisipasi secara aktif untuk mengambil bagian atas persoalan yang terjadi dalam kelompok.

Tulisan ini dikutip dari buku “Psikologi Industri dan Organisasi” yang ditulis oleh Sutarto Wijono dan diterbitkan oleh Kencana Prenada Media Group. (*)

*Reporter: Muhammad Ainun Najib /Editor: Agatoni Buttang