Buku Perempuan-Perempuan yang Mengubah Wajah Dunia Menggugah dan Inspiratif (Foto: Ist)
Buku Perempuan-Perempuan yang Mengubah Wajah Dunia Menggugah dan Inspiratif (Foto: Ist)

PROFESI-UNM.COM – Hj. Aisyah Aminy, SH yang lahir di Padang Panjang, Sumatera Barat, pada tanggal 1 Desember 1931, ini berhasil menempatkan namanya dalam deretan daftar perempuan-perempuan hebat yang mengubah dunia. Ia adalah politikus perempuan dan pejuang gender asal Indonesia. Ia merupakan anggota DPR RI/MPR RR sejak tahun 1977 mewakili Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Aisyah merupakan salah seorang politikus perempuan Indonesa yang paling lama duduk di kursi parlemen.

Saat dunia politik dimonopoli kaum laki-laki, Aisyah tampil ke depan. Bukan saja seorang parlementarian yang terampil berdebat, ia juga seorang pejuang gender yang tak kenal lelah. Siapa pun yang melek politik, pasti mengenal nama Hj. Aisyah Aminy, SH, di kancah perpolitikan Tanah Air. Bertahun-tahun berkecimpung di dunia partai dan legislatif, perempuan ini punya banyak nama julukan, seperti Singa Betina dari Senayan, Perempuan Baja dari Senayan, Vokalis DPR, dan lain-lain.

Politisi perempuan kawakan dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini menerima anugerah Bintang Jasa Utama dari pemerintah pada HUT Kemerdekaan RI ke-59 17 Agustus 2004. Walau sudah memasuki usia di atas 70 tahun, namun Aisyah masih tetap lantang memperjuangkan aspirasi rakyat yang diwakilinya, termasuk jatah kuota 30% perempuan di parlemen. Ia, bersama tokoh-tokoh perempuan. la, bersama tokoh-tokoh perempuan lainnya, mendirikan Kaukus Perempuan untuk tujuan dimaksud.

Selain kiprahnya di dunia politik melalui Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang turut dibesarkannya, Aisyah juga punya peran yang sangat besar di bidang emansipasi perempuan. Ketika isu gender baru mencuat, namanya bahkan sudah terlebih dahulu disebut sebut sebagai salah satu pelopor kesetaraan laki-laki dan perempuan di ranah publik. Hal itu tidak mengherankan, karena sejak baru belajar berorganisasi, Ia sudah merasakan ketidakseimbangan peran perempuan di luar bidang domestik atau rumah tangga. Ia Ingin perempuan juga punya kesempatan yang sama dalam segala bidang. Maka, ia pun berjuang memasukkan pasal-pasal kesetaraan gender dalam berbagai rancangan undangundang maupun dalam prinsip-prinsip partainya yang bernapas Islam.

Aisyah dididik dalam lingkungan keluarga yang religius, yang terus terbawa dalam setiap tindakan, prinsip, dan pemikirannya sampai masa tuanya. Dedikasinya untuk kemajuan bangsa diwujudkan dengan menyisihkan waktu menjadi guru di Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) Putri Yogyakarta. Tahun 1955, ia juga mengajar di SMA Putri Yogyakarta dan menjadi dosen di Universitas Tjokroaminoto Yogyakarta dua tahun kemudian. Meski sibuk mengajar, perkuliahannya tidak terganggu. Tahun 1957, ia lulus dan menjadi perempuan pertama di Indonesia yang meraih gelar Meester in de Rechten (Sarjana Hukum).

Aisyah juga dikenal dekat dengan para tokoh nasional. Selain dengan Mr. Mohammad Roem, dan Aisyah menjadi anggota tim advokasinya, Ia juga dekat dengan Buya HAMKA. Pada bulan April, ia bersama Anwar Haryono, Djamaludin

Ia dirawat di sebuah rumah sakit d California, dan Ini telah menghasilkan beberapa kritik. Uskup Agung Calcutta, Henry Sebastian D’Souza mengatakan, ia memerintahkan seorang pendeta untuk melakukan eksorsisme kepada Bunda Teresa atas izinya saat ia pertama kali dirawat di rumah sakit dengan masalah jantung karena ia pikir mungkin ia diserang oleh iblis

Kemudian, pada tanggal 13 Maret 1997, Bunda Teresa turun dari jabatannya sebagai Kepala Misionaris Cinta Kasih. la meninggal pada tanggal 5 September 1997. Pada saat kematiannya, Misionaris Cinta Kasih telah memiliki lebih 4.000 suster dan persaudaraan dengan 300 anggota yang 610 misi 123 negara. Misionanris Cinta Kasih  wakil pekerja yang berjumlah lebh dari 1990-an.

Tulisan ini dikutip dari buku “Perempuan-Perempuan yang Mengubah Wajah Dunia Menggugah dan Inspiratif” Oleh Balqis Khayyirah halaman 25-28. Diterbitkan PALAPA Persada, Jogjakarta. (*)

*Reporter: Sri Bulan/Editor: Agatoni Buttang