Ilustrasi perfeksionis, (Foto-Int).

PROFESI-UNM.COM – Sebagai makhluk sosial, manusia tak akan pernah luput dari kekurangan. Manusia tidak akan pernah bisa mencapai kesempurnaan. Meskipun demikian, banyak individu yang sangat menghargai hal-hal yang tampak sempurna atau perfeksionis.

Acap kali, individu dengan kecondongan perfeksionis memiliki pikiran atau perilaku yang membebani diri sendiri. Hal itu, sebenarnya membuat mereka lebih keras dalam mencapai tujuan.

Seorang perfeksionis mengharapkan kesempurnaan dari diri sendiri maupun orang lain berdasarkan standar tertentu yang tidak masuk akal dan terlalu tinggi. Perfeksionis dengan perilaku ingin menjadi seseorang yang terbaik di bidangnya tentu sangat berbeda. Menjadi yang terbaik di suatu bidang mengerahkan semua kemampuan terbaik yang Ia miliki untuk menyelesaikan berbagai pekerjaan.

Seorang perfeksionis adalah orang-orang yang sangat keras atau bisa dikatakan workaholic. Ia sangat mendambakan kesempurnaan dari setiap hal yang dilakukannya maupun yang dilakukan oleh orang lain. Sayangnya, sifat perfeksionis tidak selalu bisa dianggap sebagai karakter yang positif. Tak hanya itu, seorang perfeksionis memiliki perasaan takut ditolak atau dikritik orang lain. Ia selalu menuntut dirinya dipuji dan disanjung.

Seperti dilansir dari The Minds Journal, berikut ciri-ciri kamu adalah orang yang perfeksionis:
1.Cenderung membutuhkan waktu yang jauh lebih lama untuk menyelesaikan tugas daripada yang lain.
Seorang perfeksionis selalu menginginkan dirinya mendapatkan hasil yang maksimal, Ia ingin hasil yang lebih maksimal. Oleh karena itu, Ia mengerjakannya dengan waktu yang cenderung lebih lama dari orang lain.

2.Berusaha sempurna di segala hal
Tidak suka mencoba tugas atau aktivitas kecuali merasa dapat menyelesaikannya dengan sempurna. Sebenarnya, berusaha melakukan terbaik adalah sikap yang positif, khususnya dalam bekerja atau berkarir.

3.Merasa harus menjadi yang terbaik dari orang lain
Dalam mengerjakan segala sesuatu, ia selalu mendorong dirinya mengerjakan sesuatu dengan harapan hasil semaksimal mungkin. Hal itu, Ia lakukan agar Ia lebih baik dari orang lain.

4.Butuh pengakuan
Tidak cukup hanya merasa sempurna, perfeksionis juga butuh pengakuan dari orang lain bahwa dirinya memang sempurna. Ia selalu menuntut dirinya diakui dan dipuji orang lain.

5.Kata-kata yang tidak menyenangkan mengenai diri kita mungkin tidak bisa diterima dengan mudah. Namun, orang yang sekedar memberikan komentar jahat tidak sama dengan orang yang ingin memberi kritik membangun untuk membantu Anda menjadi lebih baik.

Seorang perfeksionis biasanya kesulitan membedakan komentar jahat dan kritik membangun, sehingga keduanya sama-sama tidak bisa diterima dengan baik. Jika merasa demikian, mungkin perfeksionisme dalam diri sudah memberikan pengaruh buruk terhadap bagaimana Anda bersikap dan menanggapi orang lain.

6.Seringkali terlalu kritis terhadap orang lain
Meski tidak terlalu suka dikritik, seorang perfeksionis justru senang mengomentari dan menghakimi orang lain, tapi secara berlebihan. Hal ini bisa saja didasari keinginannya untuk menjadi yang terbaik. Untuk mewujudkannya, ia berusaha menjatuhkan citra diri orang lain demi mengangkat citra diri sendiri.

7.Suka menunda pekerjaan
Sering menunda-nunda untuk melakukan suatu pekerjaan bisa jadi salah satu ciri dari perfeksionis. Hal ini mungkin terjadi karena perfeksionis sangat takut dengan kegagalan. Oleh sebab itu, alih-alih mengerjakan, Ia lebih senang untuk menghindari dengan cara menunda pekerjaan tersebut.

Namun, pemikiran tersebut tentu saja hanya akan menyulitkan dirinya sendiri. Tak hanya itu saja, semakin banyak pekerjaan yang diabaikan, semakin banyak pula tumpukan pekerjaan yang harus diselesaikan dalam satu waktu. Hal ini bisa menyebabkan stres jika tidak segera dituntaskan.

8.Selalu merasa bersalah
Perfeksionisme dalam diri bisa menimbulkan pikiran bahwa kesalahan sekecil apapun yang dilakukan adalah bentuk dari kegagalan dalam mengerjakan pekerjaan. Padahal, melakukan kesalahan adalah fitrah sebagai manusia.

Akibatnya, akan sering merasa gagal karena tidak bisa mengerjakan segala sesuatunya dengan sempurna. Hal tersebut dapat menimbulkan perasaan bersalah terhadap diri sendiri maupun orang lain secara terus bermunculan. Namun, jika dibiarkan, tidak akan pernah bisa menikmati hidup.

Saat perfeksionisme sudah memberikan pengaruh buruk terhadap diri, lebih baik segera cari cara untuk mengatasinya. Berikut ini adalah beberapa hal yang disarankan dalam sebuah artikel yang dimuat oleh laman Brown University dalam mengatasi perfeksionisme:

1.Buat target yang masuk akal sesuai dengan pencapaian-pencapaian kamu.
2.Ubah pola pikir bahwa kesuksesan tidak harus selalu sempurna tanpa cela.
Fokus terhadap proses, tidak hanya pada hasil akhir.
3.Setiap kali merasa cemas dan depresi, tanyakan kepada diri sendiri mengenai target yang sudah dibuat.
4.Lawan perasaan takut gagal dengan pemikiran seperti, “Apa hal terburuk yang mungkin terjadi?”
5.Yakini bahwa tetap bisa mendapatkan pelajaran dari kesalahan yang terjadi. (*)

*Reporter: Agatoni Buttang