Buku Emotional Intelligence. Foto-Ema Humaera

PROFESI-UNM.COM – Sambungan antara amigdala (dan struktur-struktur limbik yang berkaitan) dan neokorteks merupakan medan perang sekaligus persetujuan kerja sama yang dibuat oleh kepala dan hati, nalar dan perasaan. Hubungan antarsirkuit ini menjelaskan mengapa emosi demikian penting bagi nalar yang efektif, baik dalam membuat keputusan-keputusan yang bijaksana maupun sekadar dalam memungkinkan kita berpikir dengan jernih.

Contohnya adalah kemampuan emosi untuk mengacaukan dirinya sendiri. Ilmuwan-ilmuwan saraf menggunakan istilah ”ingatan kerja” untuk menyebut kemampuan atensi yang menyimpan fakta-fakta penting dalam pikiran untuk menyelesaikan pekerjaan atau persoalan, entah dalam bentuk ciri-ciri ideal yang dicari seseorang pada sebuah rumah ketika sedang meninjau beberapa rumah, atau unsur-unsur pemecahan masalah dalam suatu tes. Korteks prefrontal adalah wilayah otak yang bertanggung jawab untuk ingatan kerja itu. Tetapi, adanya sirkuit dari otak limbik menuju lobus-lobus prefrontal berarti sinyal-sinyal emosi yang kuat—kecemasan, amarah, dan semacamnya—dapat menciptakan gangguan saraf, menyabot kemampuan lobus prefrontal mempertahankan ingatan kerja. Itulah sebabnya bila kita sedang kacau secara emosional biasa disebut “tidak bisa berpikir jernih” dan mengapa kemurungan emosional terus-menerus dapat menciptakan kecacatan pada kemampuan intelektual seorang anak, sehingga melumpuhkan kemampuan belajarnya.

Cacat-cacat ini, apabila tidak kentara, tidak selalu dapat terungkap pada tes IQ, meskipun tampak melalui pengukuran neuropsikologis yang lebih terarah, dan juga dalam keresahan serta dorongan hati terus-menerus pada seorang anak. Dalam suatu studi, misalnya, murid-murid sekolah dasar yang mempunyai nilai IQ di atas rata-rata namun nilai rapor buruk ternyata, melalui pengujian-pengujian neuropsikologis, memiliki fungsi korteks frontal yang cacat. Mereka juga suka menuruti dorongan hati dan mudah cemas, sering kali mengacau dan terjebak dalam kesulitan menyiratkan adanya kendali prefrontal yang salah atas dorongan limbik mereka. Kendati kemampuan intelektual mereka tinggi, mereka adalah anak-anak dengan risiko tertinggi menghadapi kesulitan-kesulitan seperti kegagalan akademis, kecanduan alkohol, dan tindak kejahatan, bukan karena intelektualitas mereka kurang, tetapi karena kendali mereka terhadap kehidupan emosional terganggu.

Otak emosional, yang agak terpisah dari wilayah-wilayah korteks yang diukur dengan tes-tes 1Q, mengendalikan amarah dan belas kasih. Sirkuit emosi ini dibentuk melalui pengalaman masa kanak-kanak dan kita menyerahkan pengalaman-pengalaman ini sepenuhnya pada nasib yang dapat membahayakan. Simak juga peran emosi, bahkan dalam pengambilan keputusan yang paling “rasional”. Dalam tulisannya yang menyangkut implikasi-implikasi yang berlingkup luas untuk memahami kehidupan mental, Dr. Antonio Damasio, seorang ahli neurologi pada University of Iowa College of Medicine, telah melakukan studi yang saksama tentang apakah sebetulnya yang cacat pada pasien-pasien yang menderita kerusakan sirkuit prefrontal-amigdala. Sistem pengambilan keputusan mereka cacat berat dan toh mereka tidak menunjukkan penurunan IQ atau kemampuan kognitif sama sekali. Kendati kecerdasan mereka utuh, mereka membuat keputusan-keputusan yang menimbulkan bencana dalam kegiatan usaha dan kehidupan pribadi mereka, dan bahkan dapat terus menerus terobsesi akan suatu keputusan yang amat sederhana seperti kapan membuat janji pertemuan.

Dr. Damasio berpendapat keputusan-keputusan mereka itu demikian buruk karena mereka telah kehilangan akses ke pemelajaran emosi mereka. Sebagai titik temu antara nalar dan emosi, sirkuit prefrontal-amigdala merupakan pintu masuk yang penting menuju gudang perasaan suka dan tidak suka yang kita peroleh sepanjang perjalanan hidup. Karena terputus dari ingatan emosional di amigdala itu, apa pun yang dipikirkan neokorteks tak lagi memicu reaksi emosional yang terkait dengannya di masa lampau segalanya memuat netralitas abu-abu. Suatu rangsangan, entah itu binatang kesayangan atau kenalan yang menjengkelkan, tidak lagi memicu daya tarik atau rasa benci; pasien-pasien ini telah “melupakan” semua pelajaran emosi semacam itu karena mereka tidak lagi mempunyai akses ke tempat penyimpanan pelajaran-pelajaran tersebut di amigdala.

Bukti semacam ini menuntun Dr. Damasio pada pendapat kontraintuisi yang menyatakan bahwa perasaan biasanya sangat dibutuhkan untuk keputusan rasional; perasaan menunjukkan pada kita arah yang tepat, sehingga logika mentah dapat digunakan sebaik-baiknya. Sementara dunia sering kali menghadapkan kita kepada rentetan pilihan-pilihan yang tak terhingga (Bagaimana seharusnya Anda menanamkan investasi? Siapa yang harus Anda nikahi?), pemelajaran emosi yang telah diberikan kehidupan kepada kita (misalnya ingatan akan gagalnya investasi atau putusnya hubungan yang menyakitkan) mengirimkan sinyal-sinyal yang merampingkan keputusan tersebut dengan membuang sejumlah pilihan dan memberi penekanan pada pilihan-pilihan lain sejak awal. Dengan cara ini, menurut Dr. Damasio, otak emosional sama terlibatnya dalam pemikiran seperti halnya otak nalar.

Oleh karena itu, emosi sangat penting bagi rasionalitas. Dalam liku liku perasaan dengan pikiran, kemampuan emosional membimbing keputusan kita dari waktu ke waktu, bekerja bahu-membahu dengan pikiran rasional, mendayagunakan atau tidak mendayagunakan pikiran itu sendiri. Demikian juga, otak nalar memainkan peran eksekutif dalam emosi kita kecuali pada saat-saat emosi mencuat lepas kendali dan otak emosional berjalan tak terkendali.

Dalam artian tertentu, kita mempunyai dua otak, dua pikiran dan dua jenis kecerdasan yang berlainan kecerdasan rasional dan kecerdasan emosional. Keberhasilan kita dalam kehidupan ditentukan oleh keduanya tidak hanya oleh IQ, tetapi kecerdasan emosionallah yang memegang peranan. Sungguh, intelektualitas tak dapat bekerja dengan sebaik-baiknya tanpa kecerdasan emosional. Biasanya sifat saling melengkapi antara sistem limbik dan neokorteks, amigdala dan lobus-lobus prefrontal, berarti masing-masing adalah pasangan penuh dalam kehidupan mental. Apabila pasangan-pasangan ini berinteraksi dengan baik, kecerdasan emosional akan bertambah—demikian juga kemampuan intelektual.

Ini menjungkirbalikkan pengertian lama tentang perselisihan antara akal dan perasaan: kita bukan ingin menghapus emosi dan menggantikannya dengan akal, sebagaimana dikatakan Erasmus, melainkan menemukan keseimbangan cerdas antara keduanya. Paradigma lama meng: anggap bahwa kondisi ideal berarti adanya nalar yang bebas dari tarikan emosi. Paradigma baru mendorong kita untuk menyesuaikan kepala dengan hati. Untuk melakukan hal itu dengan baik dalam kehidupan kita berarti kita terlebih dahulu harus memahami dengan lebih tepat apa artinya menggunakan emosi secara cerdas.

Tulisan ini dikutip dari buku “Emotional Intelligence” oleh Daniel Goleman. Pada halaman 35-38 Diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama, Tahun 2016.

*Reporter: Ema Humaera