Buku Blind Spot oleh Madeleine L. Van Hecke, (Foto-Int).

PROFESI-UNM.COM – Dalam studi klasik tentang belajar mengenai keadaan tidak berdaya, Martin Seligman melakukan percobaan-percobaan di mana anjing dijadikan subjek setrum listrik yang kecil melalui jaringan lantai di mana dia berdiri. Ada bel yang akan berbunyi persis sebelum setrum muncul, tetapi anjing-anjing tersebut tidak bisa lari dari situ.

Studi-studi ini semua menunjukkan dengan begitu mengapa satu orang bisa melihat semua jenis solusi terhadap dilema orang lain, sementara penderita tidak bisa melihatnya. Apa yang bisa kita lakukan patut melihat bahwa kemungkinan di mana orang lain pandang sangat dampak bagi kita?

  1. Tanyakan kepada diri sendiri “Hal apa yang saya takut akan terjadi bila saya melakukan hal yang saya pikir tidak mungkia melakukannya?”

Jawaban kita terhadap pertanyaan ini bisa mengungkapkan tentang mengapa kita perlu menyangkal terhadap cara-cara bersikap lain yang mungkin bagi kita. Hal itu kadang-kadang membantu untuk melakukan latihan di mana kita menciptakan ungkapan yang mendeskripsikan tentang sikap yang kita surut, misalnya:

”Seandainya saya bertahan untuk ibu saya….”
“Seandainya saya mencoba menjadi lebih dekat dengan anak lelaki Saya …”
“Seandainya saya keluar dari pekerjaan saya ….”
“Seandainya saya lebih tegas terhadap bos saya ….”
”Seandainya saya mendamprat langsung kolega saya ….”
“Seandainya saya akui betapa tidak berbahagianya saya dalam perkawinan ini …”

Kemudian mencatat kata-kata apa saja yang muncul di kepala kita sebagai akhir dari ungkapan kita. Sering respons kita mengungkapkan apa yang biasanya disebut ahli terapi ”fantasi yang merupakan bencana besar” – hal-hal buruk yang kita takut akan terjadi seandainya kita bertindak fad berbeda. Bila jawaban kita mengungkapkan rasa takut, kita bisa bertanya pada diri sendiri tentang pertanyaan nomor dua.

  1. Tanyakan kepada diri sendiri “Apakah kita harus melompat ke air kolam terdalam, atau bisakah saya mengecek air tersebut?”

Beberapa terapis tahun 1970-an mendesak klien-klien mereka untuk | menemukan apakah fantasi yang merupakan bencana besar mereka benar-benar dengan melakukan apa yang paling mereka takuti. Asumsinya tentu saja adalah bahwa orang memiliki ketakutan yang tidak realistis tentang apa yang akan terjadi. Sering asumsi ini akurat. Tetapi kadang-kadang, hasil “tes” seburuk ketakutan orang tersebut, kadang-kadang malahan lebih buruk. Bahkan ketika hal itu belum terjadi, bagi banyak orang terlalu besar untuk melakukan hal seperti melompat ke kolam yang dalam, di mana banyak mereka gagal sama sekali untuk melakukan suatu tindakan.

Sebagai alternatif untuk melakukan hal yang paling kita takuti, kita mata bisa membuat sendiri tes” lebih kecil, misalnya apa yang bisa kita buat untuk melihat apakah keyakinan kita sah atau tidak. Bila kita takut bos kita akan memecat bila kita mempertanyakan instruksi-instruksinya, akan menjadi lebih bijaksana dan kurang provokatif untuk mengetahui tes terkecil dari keyakinan kita. Kita bisa memilih isu atau proyek di mana bos kita lebih terbuka dalam hal itu. Kita bisa mencari nasihat dari orang yang berpengalaman, yang berinteraksi dengan bos kita dengan lebih baik dibandingkan kita.

  1. Tanyakan diri sendiri “Apakah gambaran diri kita sampai pada jalannya?”

Kadang-kadang respons kita terhadap latihan seperti hal di atas mengungkapkan bahwa apa yang kita pertaruhkan, apa yang akan hilang bila kita berani mengubah, merupakan suatu gambaran-diri yang sangat kita sukai. Bayangkan bahwa Marcy, perempuan yang selalu mendahulukan orang lain, telah menyelesaikan akar katanya: “Seandainya saya berhenti menjadi Bunda Teresa …” mungkin Marcy menemukan ketakutannya bahwa dia akan kehilangan reputasinya sebagai santa yang peduli orang lain, bila dia membiarkan orang melihat kemarahan yang sering dia rasakan ketika menghadapi permintaan. Seperti Marcy, kita juga mungkin menyadari bahwa apa yang kita pertaruhkan tidak cukup berharga seperti yang kita pikirkan. Marcy berpikir bahwa apa yang dia coba lindungi adalah nilai-nilainya sebagai orang baik, murah hati dan memikirkan orang lain. Nyatanya, Marcy memiliki nilai-nilai itu, dan berjuang secara heroik untuk berbuat sesuai dengan hal itu.

Sekali dia mengakui peran di mana motif-motif yang kurang mengagumkan ini bermain, Marcy bisa melihat kemungkinan untuk menjadj orang yang lebih sungguh-sungguh. Dia bisa mengakui bahwa dia sering menawarkan bantuan bahkan ketika bantuannya belum diminta, dan belajar untuk mengekang dari kecenderungan otomatis ini. Dia bisa menangkap dirinya ketika dia beraksi jauh lebih tertarik terhadap orang lain dibandingkan apa yang sungguh-sungguh dia rasakan, dan membawa sikapnya ke dalam penjajaran dengan perasaannya yang aktual. Dia kadangkadang mudah untuk mengatakan “tidak” terhadap sebuah permintaan.

Kita mungkin juga menemukan kita itu seperti apa, dan itu berbeda dari gambaran-diri yang kita pelihara dengan menghabiskan banyak energi dan upaya. Gambaran-diri itu bisa memiliki kemiripan dengan gambaran Bunda Teresa. Itu bisa menjadi gambaran dari orang yang sangat independen yang tidak memerlukan orang lain, atau pemimpin yang tidak pernah didorong tetapi tetap percaya diri. Apa pun itu, kita bisa mengevaluasi gambaran untuk melihat apakah itu realistis.

  1. Uji kata-kata Anda, ”Ya, tetapi …..”

Kata-kata kita “Ya, tetapi …” bisa menjadi petunjuk besar untuk mengungkapkan hal-hal di mana kita secara relatif merasa tidak berdaya. . Kita bisa mengatakan: ”Ya, tetapi …. saya hanya ingin melakukan hal itu,” atau ”Saya tidak seperti itu, saya bukanlah jenis orang yang bisa … lebih asertif, minta bantuan orang lain, hidup sendiri, merendahkan standar saya, santai dalam kerjaan … dll.” Kita bisa mengisi titik-titiknya. Semakin gencar kita menolak untuk mempertimbangkan pilihan yang orang lain lihat sebagai kemungkinan yang baik, semakin kita meremehkan kekuatan kita dalam situasi itu.

Bayangkan bahwa kita tidak bisa menurunkan tekanan yang kita alami di tempat kerja, karena untuk ”melakukan kurang” akan berarti menurunkan standar. “Saya tidak bisa melakukan hal itu,” kita pikir, “Saya seorang perfeksionis. Itulah saya.” Namun apa yang akan kita jawab bila seseorang bertanya: “Apakah Anda tidak pernah menyesuaikan standar Anda terhadap kepentingan tugas, tekanan waktu, prioritas lain?” Ketika ditanya, kebanyakan orang akan mengakui bahwa mereka melakukan penyesuaian semacam itu.

Kadang-kadang orang menghentikan perasaan tidak berdaya dengan mengklaim bahwa mereka “tidak bisa” bertindak dengan cara lain, karena hal itu akan melanggar etika mereka. Pernah suatu ketika saya berbicara dengan seorang guru muda yang kecapaian setelah tiga tahun mengajar. Tampak jelas bahwa dia terlalu menuntut dirinya sendiri sehingga akhirnya dia bekerja dua belas jam per hari. Dalam upayanya untuk membantu para siswanya memperbaiki tulisan mereka, dia memberikan lebih banyak tugas menulis dibandingkan kebanyakan koleganya, dan dia menghabiskan hampir setiap akhir minggu untuk mengoreksi tugas-tugas tersebut dari subuh sampai senja hari, dengan memberikan umpan-balik yang rinci kepada murid-muridnya tentang tulisan mereka.

Pertanyaan yang ingin saya tanyakan kepadanya adalah: ”Bisakah Anda memikirkan cara agar Anda bisa tetap berkomitmen kepada para siswa tanpa mengorbankan hampir seluruh waktu untuk mereka?” Saya ingin dia mengatakan tentang guru-guru yang dia lihat “berkomitmen” terhadap siswa mereka tetapi juga bisa memiliki kehidupan sendiri di luar sekolah. Tentu saja yang akan saya coba lakukan adalah membantunya menanyakan asumsinya bahwa satu-satunya cara menjadi guru “yang baik” adalah betul-betul mengorbankan kehidupan pribadi seseorang. Saya bayangkan menanyakan kepada anak muda ini: “Apakah Anda pikir untuk menjadi seorang guru yang baik orang perlu hidup seperti pendeta, menyerahkan dirinya secara menyeluruh kepada para siswanya, tidak pernah menikah, tidak pernah memiliki keluarga, melupakan minat dan hobi pribadinya untuk mendedikasikan seluruh waktunya kepada para siswanya?,”. Saya curiga bahwa dia akan menolak pernyataan-pernyataan ekstrem ini. Namun hal itu berlebihan, tuntutan semacam itu akan membawa asumsinya tentang apa artinya menjadi seorang guru yang baik.

Tulisan ini dikutip dari buku “BLIND SPOT” oleh B. Esti Sumarah halaman 99 – 104. Diterbitkan oleh KANISIUS (Anggota IKAPI). (*)

*Reporter: Muhammad Ainun Najib/Editor: Agatoni Buttang