Ilustrasi hustle culture. (Foto: Int)

PROFESI-UNM.COM – Kerja dari pagi hingga malam, sampai lupa waktu untuk kumpul bareng keluarga bahkan diri sendiri. Fenomena yang satu ini biasa disebut dengan Hustle Cultur, yang berarti kerja keras tanpa istirahat.

Hustle culture muncul dari sebuah “drive” yang kuat dari diri individu untuk bekerja dengan keras guna mencapai target kerja, dengan mengabaikan kebutuhan diri yang lain. Budaya kerja seperti ini dapat kita jumpai dalam lingkungan kerja, terutama para karyawan millenial. Dalam beberapa riset, budaya kerja ini masih menjadi perdebatan apakah ini adalah sebuah budaya yang positif atau negatif.

Psikolog, Resekiani Mas Bakar mengatakan secara psikologis, setiap individu memiliki area kebutuhan yang harus dipenuhi. Hidup bukan hanya untuk bekerja, namun juga ada porsi untuk fisik/tubuh, ada porsi untuk spiritual kita, ada porsi untuk mentalitas/jiwa kita, dan ada porsi untuk aspek religiusitas.

“Bayangkan bila hanya satu aspek saja yang terpenuhi, maka hidup seseorang tidak akan mencapai keseimbangan (work-life balance),” katanya.

Menurutnya juga Hustle culture juga akan merusak keseimbangan dalam hidup seseorang. Dimana individu akan mudah sekali mengalami burnout (stress berkepanjangan yang juga berdampak pada kelelahan fisik serta emosi).

“Kita analogikan sebagai mesin yang terus menyala tanpa adanya kesempatan untuk istirahat, kesempatan untuk bahagia, kesempatan untuk beribadah, dan kebutuhan mendasar manusia lainnya,” jelasnya.

Masalah kesehatan fisik tentu akan dirasakan dan juga mental/jiwa individu mengalami ketidakseimbangan (menjadi tidak bahagia, mudah marah, stres berkepanjangan, dsb). Hustle culture merupakan keyakinan individu untuk bekerja keras lebih penting dari segalanya. Sedangkan workholic adalah perilaku yang muncul dari keyakinan tersebut.

*Reporter: Anita Nur Fadhilah Halid