Buku "Belajar dan Pembelajaran" Karya Dr. Ni Nyoman Parwati, M. Pd, (Foto: Nur Qodriah Syafitri).

PROFESI-UNM.COM – Pilar-pilar belajar UNESCO dikenal dengan istilah “four pillars of learning” ini merupakan upaya yang dilakukan untuk mewujudkan tatanan dunia di mana peserta didik sebagai generasi penerus pembangunan tidak hanya sukses sebagai siswa di sekolah tapi juga sebagai individu dan masyarakat sosial. Hal ini berarti, siswa tidak hanya diajak belajar agar dapat memiliki prestasi akademik yang bagus, tapi juga mampu belajar secara mandiri di luar sekolah dan berkontribusi dengan memanfaatkan pengetahuan yang dimilikinya untuk menjadi warga negara yang produktif (Zhao dan Sun, 2001).

Empat pilar belajar menurut UNESCO ini meliputi :

  1. Learning to Know
    Pilar yang pertama adalah learning to know, yang berarti belajar untuk mengetahui, belajar untuk mencari tahu. Pilar ini berisi tingkatan yang paling dasar dalam mencari ilmu pengetahuan, yakni untuk dapat mengetahui dan kemudian memahami objek-objek riil maupun ide-ide abstrak yang ada di sekitar mereka. Stojanovska (2017) menggaris bawahi bahwa pada hakikatnya belajar untuk mengetahui sebenarnya sama halnya dengan mempelajari bagaimana seharusnya seseorang belajar, tidak hanya sekadar mencekoki diri dengan pengetahuan-pengetahuan yang ada di luar kepala. Lebih lanjut disampaikan bahwa tujuan belajar untuk mengetahui ini adalah untuk menguasai pengetahuan yang sifatnya divergen, sangat luas dan kompleks, yang selalu berkembang dari waktu ke waktu. Akan tetapi, perlu diingat bahwa untuk mempelajari suatu pengetahuan secara mendalam, seseorang dapat pula mempelajari pengetahuan yang luas tadi dengan spesialisasi tertentu alias melihat unit-unit yang lebih kecil untuk dapat menguatkan gambaran umumnya terhadap suatu pengetahuan.
  2. Learning to Do
    Pilar kedua adalah learning to do, yang berarti belajar untuk melakukan sesuatu. Artinya, seseorang belajar untuk dapat menggunakan pengetahuan tersebut secara praktikal dalam kehidupannya sehari-hari. Walaupun secara umum pengertian belajar ini berkaitan dengan tujuan di sekolah kejuruan di mana mempersiapkan peserta didik untuk dapat mengaplikasikan pengetahuan di dunia kerja, kita perlu melihatnya dengan sudut pandang yang lebih luas. Pada dasarnya pendidikan berperan besar dalam melakukan perubahan ke arah yang lebih baik, di berbagai sektor, termasuk perkembangan ekonomi, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Untuk dapat melakukan berbagai inovasi dan pemikiran-pemikiran kreatif, kegiatan belajar hendaknya diprioritaskan pada pemerolehan pengetahuan baru yang dapat ditransformasikan pada pemecahan masalah dan gagasan inovatif serta kritis untuk meningkatkan kualitas hidup manusia.
  3. Learning to Live Together
    Pilar ketiga adalah learning to live together, yang berarti belajar untuk dapat hidup bersama dengan orang lain. Dalam kaitannya dengan kecakapan abad ke-21, belajar satu ini berkaitan dengan keterampilan untuk dapat berkomunikasi dan berkolaborasi dengan orang lain sehingga seseorang dapat mencapai target pribadi maupun target bersama kelompok maupun yang sifatnya universal bagi kesejahteraan umat manusia. Kita ketahui bahwa dalam menjalani kehidupan di dunia, akan banyak konflik yang disebabkan pergesekan kepribadian individu dan kepentingan yang ingin dicapai. Oleh karenanya, belajar untuk hidup bersama ini penting sehingga setiap individu dapat saling menghargai perbedaan. Dengan demikian,
    seseorang mampu mengoptimalkan potensi masing-masing sehingga dapat menghasilkan yang terbaik, tanpa menjatuhkan maupun merugikan pihak lain.
  4. Learning to Be
    Pilar keempat adalah learning to be, yang secara harfiah dapat diartikan sebagai belajar untuk menjadi. Kata “menjadi” yang seolaholah menggantung di akhir kalimat ini seyogianya mengacu pada hakikat pendidikan sebagai upaya memanusiakan manusia. Dalam hal ini, learning to be berarti bagaimana melalui pendidikan, seorang dapat belajar untuk menjadi manusia-manusia yang memiliki harkat dan martabat sebagai manusia, unik sesuai ciri khasnya masing-masing dan menyadari secara utuh bahwa ia dapat mengembangkan seluruh kemampuannya dengan bertolak dari akal dan budi yang dibekali oleh Sang Pencipta.

Tulisan ini dikutip dari buku “Belajar dan Pembelajaran” Oleh Dr. Ni Nyoman Parawati, M.Pd halaman 14-17. Diterbitkan PT Rajagrafindo Persada, tahun 2018. (*)

*Reporter: Nur Qodriah Syafitri/Editor: Agatoni Buttang