M. Yusdin Syarifuddin, Mahasiswa Jurusan Fisika FMIPA Angkatan 2016, (Foto-Ist).

PROFESI-UNM.COM – Ada beberapa kejadian yang sempat ramai diperbincangkan di kampus UNM dan kini mulai redup kembali seiring berjalannya waktu sebagai diskusi dan gosip publik. Percakap-percakap itu terkonsentrasi pada satu isu besar yaitu pelecehan seksual di ruang kampus. Meski pun sudah banyak orang-orang prediksi isu ini akan seperti narasi “Panas-panas tahi ayam”, karena orang-orang beranggapan dari pola kejadian yang sama dari masa sebelumnya. Dan benar saja bahwa memang semenjak penetapan skorsing ke salah satu oknum dan muncul tindakan seperti pembuatan SOP dari pimpinan LK salah satu fakultas, isu tersebut berangsur-angsur redup.


Ada banyak faktor yang menyebabkan mengapa isu pelecehan seksual tidak ramai lagi dan ditindak lebih jauh oleh pihak berwenang di kampus. Salah satunya adalah adanya tendensi narasi moral entitas kelompok tertentu. Menurut saya pada konteks kampus, argumen moral tersebut sebenarnya kondisi salah parkir yang sudah menjadi lumrah di masyarakat kita.
Saya bahkan sempat merasakan upaya tendensi itu dalam bentuk ringan. Saat berusaha mempercakapkan isu pelecehan seksual di tengah masa marak-maraknya dibingcangkan, salah satu teman berargumen dengan cukup sinis, “Beraninya mereka angkat jadi berita itu di, gak takut i malu nanti kampusnya,” ucap teman saya. Hal tersebut sebenarnya tergolong wajar dengan iklim masyarakat kita yang sangat terbiasa dengan budaya sinkretisme.


Sinkretisme menjadi budaya dominan di Indonesia semenjak masuknya ajaran-ajaran monoteisme, mengalahkan budaya purifkasi. Sinkritisme setidaknya memiliki arti pencampuran elemen-elemen kepercayaan atau pemahaman yang berbeda dan menghasilkan pertentangan di dalamnya. Orang-orang mungkin terinspirasi untuk menggabungkan beberapa unsur moral atau pemahaman tertentu agar tidak terjadi konflik antar entitas.


Pada konteks kasus yang saya alami adalah bukti argumen teman saya adalah buah dari sinkretisme. Di mana Ia mencoba mendudukan persoalan pelecehan yang terjadi di kampus dengan argumen moral entitas tertentu. Persoalan yang lebih anehnya lagi adalah, dia adalah seorang mahasiswa yang seharusnya terikat secara moral dengan prinsip ilmiah, malah lebih memilih membaca kasus tersebut dengan kaca mata yang sama sekali tidak ilmiah. Kita juga tahu bahwa satu-satunya moral yang seharusnya dipakai dalam ruang kampus adalah moral ilmiah.
Jelas akan banyak kekacauan argumentasi saat mencoba menggabungkan moral ilmiah dengan moral non ilmiah. Dilain sisi, memang ada gunanya mengilmiahkan moral yang hadir dari masyarakat tertentu, namun itu sudah akan mengurangi nilai luhur dan bahkan dapat merusak yang sakral dari moral tersebut. Sehingga upaya untuk menggabungkan moral ilmiah dan non ilmiah adalah kesalahan besar dan salah bentuk dari sesat pikir yang masih banyak orang lakukan.
Kasus lain yang sempat saya dapati selama belajar di ruang kuliah adalah dosen yang menuntut tugas mata kuliah yang dia tanggungjawabi dikerjakan dengan meminjam argumen dari kitab suci. Kelakukannya masih berlanjut hingga pada tahap pengerjaan tugas akhir mahasiswa yang ia bimbing. Kita juga mengetahui bahwa tugas akhir sendiri merupakan karya tulis ilmiah namun berupaya dilandasi dengan arumen yang non ilmiaih.


Saya melihatnya itu bukan hanya terjadi pada satu dosen di UNM. Saya sempat mewawancarai beberapa teman di jurusan berbeda dan mereka juga mengaku ada beberapa dosen yang pernah mengajarnya yang memiliki banyak kesamaan dengan kasus saya. Bahkan ada yang mengklaim bahwa isi perkuliahannya di kelas sudah menyerupai ceramah agama ketimbang penyampaian materi perkuliahan.


Persoalan lain yang banyak dan sering disinggung dalam diskursus kampus adalah soal senioritas. Jika kita bertanya lebih dalam tentang budaya senioritas di kampus, apakah ada argumen ilmiah yang mendasari budaya itu tetap hadir di kampus? Tentu belum ada, dan seharusnya memang tidak ada. Senioritas niscaya menghadirkan hierarki yang mentendesi kebebasan akademik. Bagaimana kita dapat mencari dan menyampaikan kebenaran ilmiah kalau berada pada posisi tertekan oleh otoritas dengan mengatasnamakan moral yang tidak setara.
Saya mencurigai senioritas di UNM hadir melalui dorongan moral entitas tertentu. Hasrat untuk mengasosiasikan diri secara komunal hadir dalam senioritas, entah atas nama kesukuan, kedaerahan, keagamaan, dll. Meski pun begitu, ada juga yang berpendapat bahwa senioritas dibutuhkan dalam upaya stabilitas sosial dan upaya mempererat hubungan sosial antar individu. Namun dalam moral ilmiah telah ada konsep kolegialitas yang mengikat setiap sivitas akademik demi tercipta harmonisasi dalam menjalankan fungsi berdirinya universitas. Jika memang perlu mempererat hubungan sosial antar individu demi kepentingan pribadi, hal tersebut seharusnya dilakukan di luar konteks kampus.


Masih banyak bentuk dan wajah dari dominasi moral non ilmiah dalam dinamika kampus kita yang mungkin teman-teman akan dapati jika ingin melihat dari sudut pandang non sinkretik. Hingga saat ini, pimpinan kampus sebagai pemegang wewenang tertinggi tidak memberikan reaksi yang baik dalam menanganinya. Mungkin tidak akan menjadi masalah yang berdampak besar jika dominasi moral non ilmiah cukup minim. Namun jika hal tersebut terus terjadi, dikhawatirkan diskursus dan pengembangan ilmu pengetahuan di kampus kita akan melambat dan cenderung stagnan akibat dominasi moral entitas tertentu.


Kita mestinya sebagai sivitas akademik hanya terikat dengan satu moral yaitu moral ilmiah. Dengan itu kampus bisa menjalankan fungsinya yaitu menciptakan kebaikan untuk kehidupan manusia dan alam. Memegang teguh moral ilmiah dan hanya mendasarkan argumentasinya pada kebenaran ilmiah.

*Penulis adalah M. Yusdin Syarifuddin, Mahasiswa Jurusan Fisika FMIPA Angkatan 2016