Ilustrasi lupa dalam belajar, (Foto-Int).

PROFESI-UNM.COM – Dari pengalaman sehari-hari, kita memiliki kesan seakan-akan apa-apa yang kita alami dan kita pelajari tidak seluruhnya tersimpan dalam akal kita. Padahal menurut teori kognitif apapun yang kita alami dan kita pelajari, kalau memang sistem akal kita mengolahnya dengan cara yang memadai, semuanya akan tersimpan dalam subsistem akal permanen kita.

Akan tetapi, kenyataan yang kita alami terasa bertolak belakang dengan teori ini. Acapkali terjadi, apa yang telah kita pelajari dengan tekun justru sukar diingat kembali dan mudah terlupakan. Sebaliknya, tidak sedikit pengalaman dan pelajaran yang kita tekuni sepintas lalu mudah melekat dalam ingatan.

Lupa atau forgetting ialah hilangnya kemampuan untuk menyebut atau memproduksi kembali apa-apa yang sebelumnya telah kita pelajari. Secara sederhana, Gulo (1972) dan Reber (1988) mendefinisikan lupa sebagai ketidakmampuan mengenal atau mengingat sesuatu yang pernah dipelajari atau dialami dengan demikian, berupa bukanlah peristiwa hilangnya item informasi dan pengetahuan dari akal kita.

Dapatkah lupa dalam belajar dapat diukur secara langsung? Wittig (1981) menyimpulkan berdasarkan penelitiannya, peristiwa lupa yang dialami seseorang tak mungkin dapat diukur secara langsung. Sering terjadi, apa yang dinyatakan telah terlupakan oleh seorang siswa justru Ia katakan.

Pada umumnya orang percaya bahwa lupa terutama disebabkan oleh lamanya tenggang waktu antara saat terjadinya proses belajar sebuah materi dengan saat pengungkapannya. Namun berdasarkan hasil-hasil penelitian ternyata anggapan seperti itu nyaris tak terbukti.

Faktor-faktor penyebab lupa:
Pertama, lupa dapat terjadi karena gangguan konflik antara item-item informasi atau materi yang ada dalam sistem memori siswa. Dalam Interference Theory (teori mengenai gangguan) gangguan konflik ini terbagi menjadi dua macam yaitu proaktif interference dan retroactive interference.

Seorang siswa akan mengalami gangguan proaktif apabila materi pelajaran lama yang sudah tersimpan dalam subsistem akal permanen nya mengganggu masuknya materi pelajaran baru. Peristiwa ini terjadi apabila siswa mempelajari sebuah materi pelajaran yang sangat mirip dengan materi pelajaran yang telah dikuasai dalam waktu yang pendek dalam hal ini materi yang baru saja dipelajari akan sulit diingat atau diproduksi kembali.

Sebaliknya, seorang siswa akan mengalami gangguan retroaktif apabila materi pelajaran baru membawa konflik atau gangguan terhadap pemanggilan materi pelajaran yang lama yang telah lebih dahulu tersimpan dalam subsistem akal siswa.

Kedua, lupa dapat terjadi pada seorang siswa karena adanya tekanan terhadap hitam yang telah ada baik sengaja ataupun tidak. Penekanan ini terjadi karena ada beberapa kemungkinan yaitu:

  1. karena item informasi berupa pengetahuan tanggapan kesan dan sebagainya yang diterima siswa kurang menyenangkan sehingga ia dengan sengaja menekannya ke alam ketidaksadaran.
  2. karena item informasi yang baru secara otomatis menekan sistem informasi yang telah ada, fenomena retroaktif.
  3. karena itu informasi yang akan direproduksi (diingat kembali) itu tertekan ke alam bawah sadar dengan sendirinya lantaran tidak pernah dipergunakan.

Ketiga, lupa dapat terjadi pada siswa karena perubahan situasi lingkungan antara waktu belajar dengan waktu mengingat kembali.

Keempat, lupa dapat terjadi karena perubahan sikap dan minat siswa terhadap proses dan situasi belajar tertentu titik jadi, meskipun seorang siswa telah mengikuti proses belajar mengajar dengan tekun dan serius tetapi karena sesuatu hal sikap dan minat siswa tersebut seperti ketidaksenangan pada guru maka materi pelajaran itu akan mudah terlupakan.

Kelima, menurut Law of Disuse (Hilgard & Bower 1975), lupa dapat terjadi karena materi pelajaran yang telah dikuasai tidak pernah digunakan atau dihafalkan siswa. Menurut asumsi sebagian ahli, materi yang diperlakukan demikian dengan sendirinya akan masuk ke alam bawah sadar atau mungkin juga bercampur aduk dengan materi pelajaran baru.

Keenam, lupa tentu saja dapat terjadi karena perubahan urat syarat otak. Seorang siswa yang terserang penyakit tertentu seperti keracunan, kecanduan alkoho,l dan gegar otak akan kehilangan ingatan atas item-item informasi yang ada dalam memori permanennya.

Apakah materi pelajaran yang terlupakan oleh siswa benar-benar hilang dari ingatan akalnya? menurut pandangan para ahli psikologi kognitif, “tidak!”. Materi pelajaran itu masih tersimpan dalam subsistem akal permanen siswa namun terlalu lama untuk dipanggil atau diingat kembali.

Lupa itu manusiawi dan mungkin anda tak akan mampu mencegahnya secara keseluruhan. Namun, sekadar berusaha mengurangi proses terjadinya lupa yang sering dialami para siswa dapat anda lakukan dengan berbagai kiat. Kiat terbaik untuk mengurangi lupa adalah dengan cara meningkatkan daya ingat akal siswa. banyak ragam hias yang dapat dicoba siswa dalam meningkatkan daya ingatannya, antara lain menurut Barlow (1985), Reber (1988), dan Anderson (1990) , sebagai berikut.

  1. Overlearning atau belajar lebih, artinya upaya belajar yang melebihi batas penguasaan dasar atas materi pelajaran tertentu. Overlearning terjadi apabila respon atau reaksi tertentu muncul setelah siswa mempelajari respon tersebut dengan cara di luar kebiasaan.
  2. Extra Study Time (tambahan waktu belajar), ialah upaya penambahan alokasi waktu belajar atau penambahan frekuensi aktivitas belajar. Penambahan frekuensi belajar berarti siswa meningkatkan kekerapan belajar materi tertentu misalnya dari sekali sehari menjadi dua kali sehari. Kiat ini dipandang cukup strategis karena dapat melindungi memori dari kelupaan.
  3. Singkatan yakni terdiri atas huruf awal nama atau istilah yang harus diingat siswa. Pembuatan singkatan-singkatan seyogianya dilakukan sedemikian rupa sehingga menarik dan memiliki kesan tersendiri.

Tulisan ini dikutip dari buku “Psikologi Belajar” yang ditulis oleh Muhibbin Syah. Diterbitkan PT RajaGrafindo Persada tahun 2013. (*)

*Reporter: Agatoni Buttang