Syahrul Gunawan Ketua Umum LKIMB UNM Periode 2021-2022 - Foto.Ist
Syahrul Gunawan Ketua Umum LKIMB UNM Periode 2021-2022 - Foto.Ist

PROFESI-UNM.COM– Ketua Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Kajian Ilmiah Mahasiswa Bertaqwa (LKIMB) Syahrul Gunawan turut memberikan pandangannya tentang radikalisme di kalangan mahasiswa. Penyebaran radikalisme di kalangan mahasiswa sempat dibahas oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo dalam Forum Rektor Indonesia beberapa waktu lalu.

Kata Syahrul, jika menelaah arti kata radikal sebenarnya memiliki makna yang bagus. Namun, akan berubah buruk ketika menjadi suatu ajaran atau ideologi.

“Radikalisme sebenarnya kalau kita telaah dari asal kata “radikal” secara arti pada KBBI itu secara mendasar sampai pada prinsipnya. Nah ini bagus kalo menurut pribadiku, apalagi semisal radikal dalam berpikir,” ujar Syahrul, saat di hubungi via Whatsapp (28/9).

Ia mengungkap alasannya karena ajaran tersebut akan bertabrakan dengan norma atau nilai yang sudah tertanam di masyarakat secara umum. Bisa saja menjadi penyebab hancurnya persatuan yang telah dibangun sejak lama. Menurutnya orang-orang yang terpapar paham radikalisme ini senantiasa menyalahkan orang yang tidak sependapat dengannya, dalam pola pikirnya hanya ada yang benar dan salah.

“Ini sangat bertentangan dengan prinsip demokrasi, menghargai pendapat,” dalihnya.

Syahrul mengatakan mahasiswa yang sejatinya kaum intelektual harus bisa punya pikiran yang terbuka dengan dilandasi sikap dialogis-kritis. Dalam hal ini tidak semerta-merta menilai sesuatu dari benar atau salah dan baik atau buruk. Bahkan hanya langsung menerima sesuatu hal yang belum diketahui secara gamblang. Namun mahasiswa harusnya mempelajari tentang layak atau tidak layak untuk diikuti.

“Mampu menerima segala perbedaan yang menjadi fitrah manusia, dengan mencari similaritas bukan mempermasalahkan perbedaan. Semestinya itu yang menjadi landasan kita dalam kehidupan kampus yang plural ini. Karena kalau kita berpikiran ekslusif atau tertutup akan menjeremuskan kita pada paham radikalisme,” jelasnya.

Ia juga membeberkan dampak apabila mahasiswa terpapar ajaran radikalisme maka akan cenderung mengasingkan diri dan membatasi pergaulan hingga bisa saja meninggalkan kuliah.

Terakhir, Syahrul memberikan tips untuk mahasiswa agar tidak terjerumus paham radikalisme yakni dengan tetap menjaga pergaulan serta diperlukan sinergitas antara mahasiswa dan birokrasi untuk mencegah penyebaran paham radikalisme di kampus.

“MAhasiswa harus menjaga pergaulannya jangan ikut-ikutan, saring dulu baru sharing. Apalagi mahasiswa baru yang notabene belum tau apa-apa mengenai kehidupan kampus, coba ikut organisasi yang jelas arahnya seperti himpunan atau UKM,” katanya.(*)

*Reporter: Annisa Puteri Iriani