Ilustrasi memikir (foto-Int).

PROFESI-UNM.COM – Beberapa kata-kata penyemangat yang diberikan oleh orang lain ternyata dapat berdampak negatif. Hal ini disebut juga dengan toxic positivity.

Toxic positivity merupakan situasi saat seseorang memaksa orang lain untuk merasakan sisi baik dari suatu hal, tanpa memberi kesempatan orang tersebut untuk meluapkan perasaannya.

Toxic positivity menolak emosi yang sulit demi keceriaan dan kebahagiaan yang palsu. Orang yang terjebak dalam toxic positivity akan berusaha menghindari emosi negatif, seperti marah, sedih, atau kecewa, dari segala sesuatu yang terjadi. Padahal, emosi negatif juga penting untuk dirasakan dan diekspresikan.

Mengutip Alodokter, Penyangkalan emosi negatif yang terus dilakukan dalam jangka panjang bisa menimbulkan berbagai masalah kesehatan mental, seperti stres berat, cemas atau sedih yang berkepanjangan, gangguan tidur, penyalahgunaan obat terlarang, depresi, dan PTSD.

Berikut ciri-ciri Toxic positivity menurut Alodokter:

  1. Menyembunyikan perasaan yang sebenarnya sedang dirasakan
  2. Terkesan menghindari atau membiarkan masalah
  3. Merasa bersalah ketika merasakan atau mengungkapkan emosi negatif
  4. Mencoba memberikan semangat kepada orang lain, tapi sering disertai dengan pernyataan yang seolah meremehkan, misalnya mengucapkan kalimat “jangan menyerah, begitu saja kok tidak bisa”
  5. Sering mengucapkan kalimat yang membandingkan diri dengan orang lain, contohnya, “kamu lebih beruntung, masih banyak orang yang lebih menderita dari kamu”
  6. Melontarkan kalimat yang menyalahkan orang yang tertimpa masalah, misalnya ‘Coba, deh, lihat sisi positifnya. Lagi pula, ini salahmu juga, kan?”.

Agar kamu terhindar dari toxic positivity dan dampak buruknya, serta tidak menjadi sumber toxic positivity bagi orang lain, berikut beberapa tips yang dapat dicoba:

  1. Rasakan dan kelola emosi negatif
  2. Coba berusaha untuk memahami, bukan menghakimi
  3. Hindari membanding-bandingkan masalah
  4. Mengurangi penggunaan media sosial

Berpikir positif memang ada manfaatnya, Namun, bukan berarti boleh terlalu positif hingga mengabaikan emosi negatif. Apa pun yang berlebihan itu tidak baik, begitu pula dengan sikap dan pikiran positif. (*)

*Reporter: Ema Humaera