Ilustrasi Pendidikan.Foto- Ist

PROFESI-UNM.COM – Tujuan pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya. Aspek terpenting manusia Indonesis seutuhnya di samping aspek lain, adalah kepribadian yang mantap, mandiri, dan bertanggung jawab. Implikasi pengembangan aspek ini tertuju kepada penyesuaian sosial yang positif, yaitu dapat mengembangkan diri dan lingkungannya.

Berarti kepribadian individu memberi dampak terhadap penyesuaian diri di lingkungannya. Untuk mengembangkan kepribadian yang mampu menyesuaikan diri di lingkungan sosial yaitu di rumah (keluarga), sekolah, dan masyarakat secara adekuat, dimungkinkan melalui pendidikan.

a. Pendidikan di keluarga sangat penting jika dibandingkan pendidikan sekolah dan pendidikan di masyarakat. Sebab sering dikatakan bahwa pendidikan di keluarga adalah yang utama, sebab: 1) Di keluarga anak lahir dan dibesarkan hingga berusia tujuh tahun. Di sana anak belajar berbicara, berjalan, makan makanan yang sehat, mengenal ibu dan ayahnya yang secara sosial berarti mengenal segala perilaku manusia, mulai dari cara makan, mandi, berbicara, tertawa, dan bertemu dengan sahabatsahabatnya. Anak sering terlibat segala kehidupan keluarga yang beraneka ragam, seperti penta yang mengundang berbagai orang, ketika ada anggota keluarga yang sakit bahkan meninggal dunia, maka anak pasti terlilat dalam persoalan persoalan tersebut.

Dapat dikatakan bahwa anak menjadi besar dalam segala kituasi yang terjadi di keluarga dan tetangganya. Jika orang tua udalah berasal dari kalangan rendah pendiitikannya, maha dia kalau besar menjadi anak yang kurang menghargai pendidikan, Berarti di keluarga tak begitu peduli dengan pendidikan, apakah anak akan meneruskan pendidikan atau bukan, yang penting dia bisa mencari hidup kelak dengan memenuhi ekonominya. Maksudnya bisa menghasilkan uang, apakah berjualan, penjaja koran, kenek bus, tukang ojek, dan sebagainya, Karena jika anak diteruskan pendidikannya mana biayanya. Hal itu tidak termakan oleh pikiran orang tua yang tidak tamat SD.

Lain halnya dengan keluarga menengah yang berpendidikan tinggi maka mereka akan menyekolahkan anak-anaknya sampai ke jenjang pendidikan yang tertinggi seperti akademi atau universitas. Hal ini disebabkan adanya peluang untuk hal tersebut: Pertama, cita-cita orang tua yang berpendidikan minimal SMA apalagi perguruan tinggi, cukup tinggi. Kedua, mengenai pembiayaan tentu dapat mereka atasi karena gaji mereka cukup untuk itu. Apalagi isteri juga bekerja. Bahkan kadang-kadang gaji isteri sebagai manajer lebih tinggi dari pada suaminya.

Sedangkan keluarga kaya kemungkinannya ada dua: Pertama, orang yang berpendidikan tinggi akan menyekolahkan anaknya ke luar negeri. Kedua, kalau yang berpendidikan lebih rendah tapi kaya cukuplah pendidikan dalam negeri saja, supaya cepat memelihara perusahaan orang tuanya. Walaupun orang tuanya kaya, tidak semua akan menyekolahkan anak-anaknya ke luar negeri, karena banyak hitung-hitungan tentang uangnya,

b. Pendidikan yang populer di masyarakat adalah pendidikan sekolah seperti SD, SMP, dan SMA, serta perguruan tinggi. Pendidikan dinamakan pendidikan formal karena ada beberaps hal:

Pertama, diurus oleh pemerintah atau yayasan. Kedus, guru. gurunya digaji secara formasi dan sda kenaikan pangkat sekali 3 atau & tahun. Kehga, murid-murid diterima berdasarkan syarat. syarat tertentu misalnya berdasarkan kecakapan, keterampilan, atau berdasarkan banyaknya uang yang disumbangkan ke yayasan tertentu. Keempat, murid yang lulus dapat meneruskan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Kelima, guru-guru harus memiliki ijazah tertentu untuk dapat mengajar di tingkat tertentu.

c. Sedangkan sekolah nonformal adalah sekolah-sekolah khusus yang diadakan oleh yayasan dan badan-badan tertentu. Yang termasuk sekolah nonformal adalah pesantren, sekolah montir mobil, sekolah menyetir, sekolah musik dan sebagainya. Ada juga sekolah musik yang diurus oleh pemenntah atau yayasan, maka sekolah musik yang seperti menjadi sekolah formal.

Di masyarakat cukup banyak aspek yang dapat mempengaruhi perkembangan anak didik seperti teman, tontonan, alkohol dan narkoba, ruangan diskotek, musik, keramaian, dan sebagainya. Terutama pergaulan dengan teman-teman. Jika teman-temannya terdiri dari anak-anak dan pemuda-pemuda brengsek, maka anak kita akan jadi brengsek juga seperti pecandu alkohol dan narkoba. Karena itu harus dinasehati agar anak-anak kita bergaul dengan teman-teman yang baik misalnya yang sholat, lebih senang belajar dari pada bermain, taat atas perintah orang tua dan guru-guru serta aturan negara.

Khusus dalam proses pendidikan di sekolah, penyesuaian sosial siswa sering menjadi kepedulian masyarakat mulai dari para pakar sampa kepada kaum awam Kepedulian itu tertuju kepada perilaku salah suai siswa (maladjustive behavor) yang menampakkan indikator-indikator perilaku yang mencemaskan, seperti berkelahi baik individu maupun massal, mabuk-mabukan setelah menenggak alkohol, dan kecanduan narkoba. Bukan berarti semua siswa berperilaku demikian, karena banyak sekali siswa yang terpuji perilakunya dengan berbagai prestasi dalam berbagai ilmu, seni, dan keterampilan. Namun segelintir siswa yang berperilaku salah satu itu, besar pengaruhnya terhadap para siswa lainnya.

Dikutip dari buku berjudul “Psikologi Pendidikan” diterbitkan oleh ALFABETA, penulis Sofyan S. Wilis, halaman 127-130. (*)

*Reporter: Fikri Rahmat Utama