Buku berjudul "Research Design" oleh John W. Creswell. (Foto : Profesi-Trisakti Akbar)

PROFESI-UNM.COM РBertahun-tahun lamanya, para penulis proposal terus berusaha membahas  karakteristik-karakteristik penelitian kualitatif untuk memastikan legitimasi dari pihak fakultas dan pembacanya.

Ada beberapa konsensus yang telah mengatur ketentuan-ketentuan dalam penelitian kualitatif. Untuk itulah, saran saya bagi para penulis proposal yang ingin merancang bagian karakteristik penelitian ini antara lain:

  1. Amati apa yang dibutuhkan dan diinginkan oleh para pembaca proposal Anda. Identifikasilah apakah pembaca Anda sudah banyak mengetahui karakteristik penelitian kualitatif sehingga bagian ini tidak begitu penting bagi mereka.
  2. Jika Anda ragu-ragu atas pengetahuan mereka, jelaskan karakteristik dasar penelitian kualitatif dalam proposal Anda dan jika memungkinkan, bahaslah sebuah artikel jurnal (atau studi) kualitatif baru-baru ini sebagai contoh untuk mengilustrasikan karakteristik-karakteristik tersebut.
  3. Apabila Anda menyajikan karakteristik dasar, karakteristik apa yang seyogianya disebutkan? saat ini, terdapat kesepakatan umum tentang karakteristik pokok yang mendefinisikan penelitian kualitatif.

Sejumlah penulis teks pengantar menyampaikan karakteristik-karakteristik ini, seperti Creswell (2013), Hatch (2002), serta Marshall dan Rossman (2011).

a. Lingkungan alamiah (natural setting); para peneliti kualitatif cenderung mengumpulkan data lapangan di lokasi di mana para partisipan mengalami isu atau masalah yang akan diteliti. Peneliti kualitatif tidak membawa individu-individu ini ke dalam laboratorium (atau dalam situasi yang telah di-setting sebelumnya), tidak pula membagikan instrumen-instrumen kepada mereka. Informasi yang dikumpulkan dengan berbicara langsung kepada orang-orang dan melihat mereka bertingkah laku dalam konteks natural inilah yang menjadi karakteristik utama penelitian kualitatif. Dalam lingkungan yang alamiah, para peneliti kualitatif melakukan interaksi face-to-face sepanjang penelitian.

b. Peneliti sebagai instrumen kunci (researcher as key instrument); para peneliti kualitatif mengumpulkan sendiri data melalui dokumentasi, observasi perilaku, atau wawancara dengan para partisipan. Mereka bisa saja menggunakan protokol sejenis instrumen untuk mengumpulkan data tetapi diri merekalah yang sebenarnya menjadi satu-satunya instrumen dalam mengumpulkan informasi. Mereka, pada umumnya, tidak menggunakan kuesioner atau instrumen yang dibuat oleh peneliti lain.

c. Beragam sumber data (multiple sources of data); para peneliti kualitatif biasanya memilih mengumpulkan data dari beragam sumber, seperti wawancara, observasi, dokumentasi, dan informasi audiovisual ketimbang hanya bertumpu pada satu sumber data saja. Kemudian, peneliti mereview semua data tersebut, memberikannya makna, dan mengolahnya ke dalam kategori atau tema yang melintasi semua sumber data.

d. Analisis data induktif dan deduktif (inductive and deductive data analysis); para peneliti kualitatif membangun pola, kategori, dan temanya dari bawah ke atas (induktif), dengan mengolah data ke dalam unit-unit informasi yang lebih abstrak. Proses induktif ini mengilustrasikan usaha peneliti dalam mengolah secara berulang-ulang tema dan database penelitian hingga peneliti berhasil membangun serangkaian tema yang utuh. Kemudian secara deduktif, para peneliti melihat kembali data mereka dari tema-tema untuk menentukan apakah lebih banyak bukti dapat mendukung setiap tema dan apakah mereka perlu menggabungkan informasi tambahan. Dengan demikian, ketika proses dimulai secara induktif, pemikiran deduktif juga berperan penting ketika analisis bergerak maju.

e. Makna dari para partisipan (participants’ meaning); dalam keseluruhan proses penelitian kualitatif, peneliti terus fokus pada usaha mempelajari makna yang disampaikan para partisipan tentang masalah atau isu penelitian, bukan makna yang disampaikan oleh peneliti atau penulis lain dalam uliteratur-literatur tertentu.

f. Rancangan yang berkembang (emergent design); bagi para peneliti kualitatif, proses penelitian selalu berkembang dinamis. Hal ini berarti bahwa rencana awal penelitian tidak bisa secara ketat dipatuhi. Semua tahap dalam proses ini bisa saja berubah setelah peneliti masuk ke lapangan dan mulai mengumpulkan data. Misalnya, pertanyaan-pertanyaan bisa saja berubah, strategi pengumpulan data juga bisa berganti, dan individu-individu yang diteliti serta lokasi-lokasi yang dikunjungi juga bisa berubah sewaktu-waktu. Gagasan utama di balik penelitian kualitatif sebenarnya adalah mengkaji masalah atau isu dari para partisipan dan melakukan penelitian untuk memperoleh informasi mengenai masalah tersebut.

g. Refleksivitas (reflexivity); dalam penelitian kualitatif, peneliti merefleksikan bagaimana peran mereka dalam penelitian dan latar belakang pribadi, budaya, dan pengalamannya berpotensi membentuk interpretasi, seperti tema-tema yang mereka kembangkan dan makna-makna yang mereka anggap sebagai sumber data. Aspek metode ini lebih dari sekadar bias dan nilai yang berkembang dalam penelitian, tetapi bagaimana latar belakang peneliti sebetulnya dapat membentuk arah penelitian.

h. Pandangan menyeluruh (holistic account); para peneliti kualitatif berusaha membuat gambaran kompleks dari suatu masalah atau isu yang diteliti. Hal ini melibatkan usaha pelaporan perspektif-perspektif, pengidentifikasian faktor-faktor yang terkait dengan situasi tertentu, dan secara umum usaha membuat sketsa atas gambaran besar yang muncul. Untuk itulah, para peneliti kualitatif diharapkan dapat membuat suatu model visual dari berbagai aspek mengenai proses atau fenomena utama yang diteliti. Model inilah yang akan membantu mereka membangun gambaran holistik (misalnya, Creswell & Brown, 1992).

Dikutip dari buku berjudul “Research Design” diterbitkan oleh Pustaka Pelajar, penulis John W. Creswell, halaman 247-249. (*)

*Reporter: Trisakti Akbar/ Editor: Sumaya Nursyahidah