Ilustrasi hubungan budaya dengan efektivitas dan efisiensi organisasi, (Foto-Int).

PROFESI-UNM.COM – Manajer dalam menjalankan roda kehidupan organisasi bertanggung jawab atas efektivitas dan efisiensi organisasi. Setiap manajer mempunyai tanggung jawab dan wewenang yang dimilikinya diperoleh dari mereka yang menyediakan sumber dana dan daya, misalnya untuk organisasi bisnis dan sosial, para pemilik atau pemegang saham adalah mereka yang menyediakan sumber dana dan daya bagi organisasi. Kinerja keorganisasian tergantung pada kinerja individu dan kelompok, para manajer harus mencapai tingkat hasil karya yang tinggi dari mereka yang bekerja dalam organisasi.

Masyarakat mengevaluasi kinerja individu, kelompok, dan organisasi, yang merupakan konsep yang terpisah, tetapi yang saling berhubungan. Apabila konsep efektivitas dan efisiensi tidak diperhatikan maka manajer akan menghadapi inefisiensi dalam organisasi. Menurut W. Edwards Deming dalam Gibson et al., (1996: 28-29) mengemukakan tujuh “penyakit kronis” yang menjadi akar inefisiensi organisasi. Ketujuh penyakit kronis yang harus disembuhkan oleh manajemen sebagai berikut:

  1. Kurangnya kemantapan maksud dalam merencanakan produk dan jasa yang mungkin dapat diterima pasar dan mempertahankan perusahaan dalam bisnis, serta memberikan lapangan kerja.
  2. Menekan pada hasil jangka pendek: pemikiran jangka pendek bertentangan dengan keinginan untuk tetap bertahan di bisnis), kekhawatiran yang curang dan adanya desakan dari pihak bank dan pemilik.
  3. Evaluasi prestasi (merit rating), atau tinjauan tahunan.
  4. Mobilitas manajemen: harapan kerja.
  5. Manajemen hanya mengacu pada gambaran nyata dan hanya sedikit atau tidak mempertimbangkan gambaran yang tidak dapat terlihat atau tidak dapat diketahui.
  6. Biaya pengobatan yang berlebihan.
  7. Uang yang berlebihan, karena pembukaan pengacara yang bekerja atas dasar biaya kontingensi.

Dalam kaitan ini budaya organisasi merupakan cerminan tata nilai, asumsi dan perilaku manusia dalam menjalankan roda organisasi dalam mewujudkan efektivitas dan efisiensi yang mencerminkan dan tidak menyimpang dari budaya organisasi, karena budaya organisasi sebagai pola bertindak menuju efektivitas dan efisiensi organisasi sesuai dengan tuntutan lingkungan organisasi. Tanpa budaya organisasi para anggota organisasi dalam menjalankan tugasnya, seperti orang yang berjalan pada waktu malam yang gelap tanpa ada penerangan, sehingga tidak tahu arah yang dituju sesuai dengan perencanaan yang strategis.

Tulisan ini dikutip dari buku “Budaya Organisasi Kepemimpinan dan kinerja” oleh Prof. Dr. H. Ismail Nawawi Uha, MPA., M. Si. Diterbitkan oleh PRENADAMEDIA GROUP, halaman 185 – 187. (*)

*Reporter: Muhammad Ainun Najib /Editor: Murni